Rabu, 05 Agustus 2009

Bayan Nizamuddin: Salah Niat Jika Dakwah Untuk Mengislah Orang Lain

Allah terima suatu amalan jika hatinya ikut sehingga Allah akan memberinya taufiq. Kerja dakwah ini adalah usaha untuk menjadi orang kecil (‘abdi) bukan untuk menjadi orang besar. Orang yang buat kerja dakwah dengan niat untuk mengishlahkan diri sendiri maka ia akan menjadi shaleh dan orang yang shaleh akan menjadi asbab untuk orang lain menjadi shaleh juga.

Dakwah adalah fardhu ‘ain. Manfaat kerja dakwah yang pertama adalah untuk diri sendiri, maka Allah akan melindunginya dari kesesatan.

Maulana Ilyas pernah berkata, ada 2 (dua) orang yang terkebelakang dari usaha ini :

  1. Niat untuk mengishlah orang lain
  2. Mau mengishlah kerja ini

Tarbiyah dan mujahadah dalam kerja ini akan mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Kerja ini akan menghasilkan hidayah untuk dua bagian :

  1. Untuk diri sendiri
  2. Untuk menjadi asbab hidayah bagi orang lain

Tufail telah datang ke Mekkah dengan menutupi kupingnya sehingga apa yang dikatakan Nabi ia tidak mendengarkannya. Ketika dia dekat dengan Nabi maka kemudian Allah ingin memberikan hidayah dengan membuat Tufail ingin membuka tutup kupingnya. Lalu dia dapat mendengar akan bacaan shalat Nabi sehingga ia masuk Islam. Tufail melakukan dakwah dalam satu tahun hasilnya 80 keluarga masuk Islam.

Firman Allah dalam AlQuran : “Dan siapakah yang paling baik perkataannya daripada Orang yang mengajak (dakwah) kepada Allah dan Beramal Shalih dan berkata sesungguhnya saya bagian dari muslimin.”

Gabungan Dakwah dan Amal akan meningkatkan Ibadah. Jika ibadah baik maka kita akan menjadi shaleh. Pertama kali yang akan kita masukkan ke dalam diri kita adalah Iman.

Tanpa adanya Iman kesempurnaan amal tidak akan didapat.

Tanpa adanya Iman keterkabulan amal tidak akan didapat.

Nabi berkata kepada Hadi bin Hatim, : kamu terlambat masuk Islam karena kamu melihat keadaan orang Islam yang miskin, susah, dll sehingga kamu terhalang dari hidayah. Rasul katakan bahwa Islam akan mengalahkan Kisra dan Islam menjadi jaya dan akhirnya Hadi bin Hatim pun melihat kemenangan dan kejayaan Islam.

Penghubung antara orang Islam dan Allah adalah amal.

Di dalam majlis iman ada perkara yang ghaib. Di dalam iman ada qudrat. Qudrat tidak ada di alam semesta namun qudrat ada di dalam zat AllahSWT.

Dengan kerja dakwah ini kita betulkan Aqidah kita, bahwa perkara yang ghaib hanya Allah saja mempunyai bahkan Nabi-Nabi pun tidak. Jika seorang Nabi mengetahui hal-hal yang ghaib, maka Nabi Yusuf as tidak akan masuk ke dalam sumur dan dijual menjadi budak. Begitu pun ketika Rasul diundang ke suatu walimah dia disambut oleh anak perempuan kecil dan anak kecil itu berkata : “kita bersama Rasul yang mengetahui hal yang ghaib”, maka Rasul katakan kepada anak itu : “Jangan katakan seperti itu, karena hal yang ghaib hanyalah milik Allah”.

Nabi katakan : “Jika kamu membaca Al Quran dengan teliti. Allah akan member tahu apa yang akan terjadi sampai dengan hari kiamat.

Ada seorang shahabat di penjara dalam keadaan junub dan air yang ada hanya cukup buat minum. Maka ia berkata kepada penjaga penjara, “tolong berikan air yang buat jatah besok sekarang saja, karena untuk berhadast”. Namun penjaga tersebut tidak memberikan. Maka ia berdoa kepada Allah agar diturunkan hujan, maka Allah SWT, maka Allah pun menurunkan di penjara. Begitulah yakinnya para shahabat kepada Allah SWT.

Banyak orang mengatakan, “Itukan shahabat, bukan kita”. Hari ini kita begini karena kita tidak yakin dan aqidah yang lemah. Apabila kita memiliki yakin yang benar kepada Allah maka tidak ada hijab antara Allah dengan hambanya.

Abdullah bin Mas’ud ra suatu ketika isterinya sakit mata, maka datanglah seorang yahudi dan diberikan benda yang diletakkan di lehernya, maka matanya pun sembuh. Ketika suaminya melihat itu maka ia bertanya kepada isterinya apa itu? Isterinya berkata benda ini dapat menyembuhkan. Maka suaminya menyuruh untuk membuang benda tersebut. Mari saya beritahu kepada kamu, mata kamu sakit karena syaithan menaruh jarinya pada kamu. Dan orang yahudi itu menyembuhkan karena ia menghalangi jari syaithan tersebut dan yahudi itu pun syaithan. Cukuplah kamu meminta kesembuhan kepada Allah.

Jika kita mendapatkan benda dan benda tersebut memberikan kita kejayaan maka itu berarti telah menjauhkan kita dari Allah SWT. Jika kita mendapatkan benda yang memberikan kejayaan langkah pertama lihat dulu apakah benda itu HALAL atau HARAM.

Maulana Yusuf Katakan: “Nafikan benda-benda, sehingga antara kamu dengan Allah tidak ada hijab. …. Dan seterusnya… bayan belum lagi usai.

Sumber: http://imanyakin.wordpress.com

Foto-foto ijtima BSD City Serpong 2009

Ini dia foto paling gres ijtima BSD 2009 tanggal 17 sampai 20 kemaren. diperkirakan yang hadir 250 ribu muslimin dari seluruh propinsi di indonesia dan tamu-tamu luar negeri..

Foto000

Foto003

Foto005

Foto009

Foto010

Foto007

Sumber: http://abudira.wordpress.com/2009/07/20/foto-foto-ijima-bsd-2009/

Masjid Raiwin: Pusat Dakwah Tanpa TV & Komputer

Masjid ini terletak di desa Raiwind, dekat kota Lahore. Disana terdapat sebah masjid yang sangat hidup kegiatannya (dakwah ila Alloh, taklim wa taklum, dzikir ibadah, serta khidmat/pelayanan) dan sangat lengkap fasilitasnya. Setidak-tidaknya ada 20.000 hingga 35.000 jamaah setiap waktunya yang memakmurkan masjid Raiwind. Ratusan jamaah keluar masuk setiap harinya. Dari masjid tersebut dikirim jamaah –jamaah dakwah ke seluruh penjuru dunia. Tidak ada satu pun negara di dunia ini yang belum pernah didatangi oleh jamaah dari masjid ini.

Demikian juga, setiap hari ratusan jamaah dari berbagai penjuru dunia datang ke masjid ini. Kebanyakan tamu-tamu tersebut berasal dari Timur Tengah dan Asia Tenggara seperti Malaysia dan sekitarnya. Jamaah-jamaah tersebut paling lama akan tinggal tujuh hari di Masjid Raiwind. Setelah itu mereka akan segera dikirimkan ke negara atau tempat yang dituju berdasarkan musyawarah. Mereka akan dikirim untuk waktu yang berbeda-beda, ada yang untuk sebulan, dua bulan, dua puluh hari, empat puluh hari dan sebagainya. Setelah selesai dari masanya, mereka akan kembali ke Masjid Raiwind, baru setelah itu mereka kan kembali ke rumahnya masing-masing untuk melanjutkan kerja agama di kampungnya masing-masing.

Selama di Masjid Raiwind, para jamaah akan dilayani dengan berbagai fasilitas. Kamar khusus tamu-tamu luar negeri. Klinik pengobatan dan perawatan dengan dokter-dokter gratis. Makan tiga kali sehari dengan menu yang cukup. Kantin dan pertokoan yang sangat lengkap. Tidak ada satupun dari petugas yang bekerja di masjid raiwind itu dibayar seperakpun. Bahkan seandainya ada yang dibayar, mereka akan marah. Dari tukang masak, pekerja bangunan, pelayan kebersihan, pembersih WC, dokter, tukang besi, pengurus tiket, pengurus toko, pengurus visa, pengurus kamar dan lain-lainnnya. Semua itu bekerja dengan ikhlas tanpa ada bayaran sedikitpun. Setiap harinya kurang lebih 700 orang yang bekerja di lokasi Masjid Raiwind.

Suatu ketika pernah ada seorang Komunis Rusia datang ke Masjid Raiwind. Ketika ia berkeliling melihat-lihat berbagai kegiatan di Masjid Raiwind, maka ia bertanya, “Berapakah jumlah orang yang bekerja setiap harinya mengurus tamu-tamu ini?” Dijawab: “Sekitar 700 orang”. “Berapa biaya yang dibutuhkan??” Dijawab: “Tidak ada sepeser rupiahpun, semuanya bekerja Lillahi Ta’ala. Maka mendengar hal itu, ia mencoba tinggal beberapa lama untuk membuktikan kebenarannya, ternyata demikianlah sebenarnya, maka ia pun langsung masuk islam.

Ribuan orang telah masuk islam dengan sebab pergerakan dakwah dari raiwind ini. Konon masjid raiwind ini telah ditandai merah oleh pusat-pusat intelijen dunia, karena aktivitas agamanya yang sangat mendunia. Banyak para intelijen berbagai Negara dikirim ke raiwind untuk memantau kegiatan agama disana dengan manyamar. Akan tetapi sebagian besar mereka setelah menyelidiki dengan mendalam keadaan di raiwind justru akhirnya masuk islam dengan sungguh-sungguh.

Di dalam masjid raiwind terdapat pondok pesantren, dengan ribuan santri dari ratusan Negara. Lulusannya tidak terhitung jumlahnya. Pada bulan Romadhon , para huffaznya adalah langganan tetap untuk menjadi imam di barbagai negara di Eropa dan Amerika. Di raiwind berkumpul berbagai pakar. Tidak sedikit ulama yang menguasai 10 sampai 15 bahasa asing. Ada yang khusus pakar dibidang tafsir, hadits, adab dan berbagai disiplin ilmu lainnya.

Di masjid raiwind juga terdapat para dai yang telah menghabiskan masa hidupnya untuk dakwah. Mereka disebut muqimin. Mereka adalah para pensiunan pejabat kelas atas, para pensiunan jenderal, para konglomerat yang jumlahnya mencapai hampir seribu orang. Mereka telah mewaqafkan hidup mereka untuk umat, Melalui sebab merekalah telah banyak negeri-negeri diujung Eropa, Afrika, Amerika, juga dikawasan Asia terbuka denga islam.

Kini mereka mengatur segala yang berhubungan dengan pergerakan dakwah dan tabligh diseluruh dunia. Merekalah yang memberikan petunjuk, mengatur rute-rute jamaah, mempersiapkan petunjuk jalan bagi jamaah, melayani para tamu, mengatur akomodasi, mengirim dan menarik jamaah, melayani para tamu, memperhatikan perkembangan setiap kampung yang didatangi dan yang ditinggal di seluruh dinia, menangani masalah masturah, pergerakan wanita-wanita da’iyyah, menangani para pelajar, para eksekutif, para ilmuwan dan cendekiawan, menangani birokrasi, perizinan dan lain sebagainya.

Walaupun demikian padat dengan berbagai kegiatan dan hiruk pikuk manusia tiada henti. Markas di raiwind sangat sederhana, tiada kecanggihan disana. Komputer, TV, telepon, ataupun alat-alat elektronik lainnya sama sekalit tidak ada. Bahkan media majalah, Koran, bulletin dan lainnya pun tidak ada. Tidak ada sehelai datapun yang ditulis dengan komputer. Semua diarsipkan melalui tulisan tangan. Dan hal itu dilakukan selama bertahun-tahun. Satu-satunya kecanggihan yang ada hanyalah, bahwa sebagian gedungnya menggunakan lift.

Sumber: Kupas tuntas jamaah tabligh, Jilid 3 http://tetesanhujan.wordpress.com

Bayan Maulana Ismail Uspra: Dakwah ambiya Menyeru Pada Dzat dan Qudrat Alloh

Bayan Maulana Ismail Uspra

Assalamualaikum wbt,

Allah SWT yang mencipta segala-galanya. Segala yang terlihat dan tidak terlihat dicipta oleh Allah SWT. Allah SWT mencipta makhluk adalah untuk ujian bagi manusia supaya mengenal Allah SWT. Allah SWT menjadikan semua makhluk dengan qudrat Allah SWT. Mati dan hidup semua di tangan Allah SWT. Keadaan-keadaan yang wujud di antara hidup dan mati semua Allah SWT yang mewujudkan. Apa yang berlaku dalam semua kehidupan makhluk bergantung dengan qudrat Allah SWT. Apa yang wujud semua dari Allah SWT, ikhtiar manusia juga dari qudrat Allah SWT dan bukan usaha manusia.

Terbentuk kehidupan dan kemusnahan, kebaikan, keburukan bukan bergantung pada makhluk atau asbab tetapi bergantung kepada qudrat Allah SWT. Oleh itu Allah SWT telah hantar nabi-nabi dan rasul-rasul untuk memahamkan kepada manusia supaya menjalani kehidupan ini mengikut kehendak Allah SWT. Begitulah semua 124 ribu nabi dan rasul diutus ke muka bumi ini supaya menyeru manusia kepada beriman kepada Allah SWT. Begitulah seterusnya dakwah Rasulullah SAW.

Baginda SAW menyeru bahwa semua keadaan yang wujud datang daripada qudrat Allah SWT. Apa yang berlaku dan sedang berlaku serta apa-apa yang akan berlaku semuanya datang dari Allah SWT. Inilah dakwah nabi-nabi termasuk Nabi SAW bahwa kejayaan manusia bukan bergantung kepada apa yang diusahakan oleh manusia, akan tetapi bergantung kepada apa yang ditetapkan oleh Allah SWT. Kelemahan manusia ialah yakin manusia terkesan dengan apa yang dilihat memberikan manfaat dan mudharat. Sebenarnya kesan manfaat dan mudharat pada asbab itu bukan dari makhluk tersebut, tetapi Allah SWT yang memberi kesan. Makhluk itu sebenarnya tidak dapat berbuat apa-apa. Maulana memberi contoh mengenai bola lampu dan kabel letrik, sebenarnya benda itu tidak dapat mengeluarkan cahaya tetapi arus letrik itu adalah berpunca daripada generator letrik. Begitulah semua apa yang kita lihat, kebaikan dan keburukan datang dari qudrat Allah SWT. Begitulah dakwah AnbiaĆ¢€™ menyeru manusia kepada zat dan qudrat Allah SWT.

Hari ini apabila umat telah tinggalkan dakwah, maka yakin umat dan fikiran umat telah rosak. Semua ini berpunca daripada perbicaraan yang salah dan tidak lagi membicarakan kebesaran Allah SWT. Syaitan datang untuk membawa kita menjadi orang yang didakyahkan kepada perkara bathil. Inilah perbicaraan rata-rata orang Islam di seluruh dunia dimana mereka tidak lagi berbicara tentang kebesaraan Allah SWT, sebaliknya membicarakan kehebatan dunia. Dengan ini manusia yakin pada benda atau asbab yang dibicarakan dan tidak lagi terkesan dengan kekuasaan dan qudrat Allah SWT. Oleh itu kesesatan telah merata di seluruh dunia.

Sesungguhnya kehidupan manusia bukan tebentuk dari harta benda, tetapi kehidupan manusia terbina dengan iman dan amal. Untuk keselamatan dan keamanan usaha atas iman perlu diadakan, dimana manusia akan benar-benar yakin terhadap zat dan qudrat Allah SWT. Allah SWT yang memelihara rezeki seluruh makhluk termasuk diri kita. Dalam pembinaan iman, jangan campur-adukkan kebesaran Allah dengan ghairullah (selain dari Allah).

Melalui usaha dakwah Allah SWT akan kembangkan hidayah ke seluruh alam. Melalui dakwah manusia kepada kebesaran Allah SWT, maka Allah SWT akan memasukan iman dalam diri orang yang membicarakan kebesaran Allah SWT. Begitu juga jika kita dakwahkan kehidupan suci murni Nabi SAW, orang itu yang akan dapat taufik hidayat untuk mengamalkan sunnah-sunnah Nabi SAW, dan kehidupan sunnah akan tersebar. Oleh itu kita perlu membentuk iman supaya wujud suasana iman bukan saja di marhalah kita tetapi di seluruh alam.

Apabila kita tinggalkan dunia ini dalam jazbah orang yang hidupkan usaha Nabi SAW, maka kita akan dibangunkan di hari akhirat bersama Nabi SAW. Oleh itu asas kerja kita perlu usahakan kerja Nabi. Kerja Nabi tidak perlukan harta dan benda tetapi keinginan dalam hati. Jadikan kerisauan dan fikir kita seperti fikir risau Nabi SAW. Apabila pembicaraan mengenai kebesaran Allah SWT telah umum, maka Allah SWT akan wujudkan isti’dat kcpada seluruh umat untuk mengamalkan keseluruhan agama. Allah SWT sendiri akan wujudkan agama di seluruh alam. Oleh itu, kita perlu bergerak membuat kerja Nabi SAW diseluruh alam. Kita perlu bertaubat bersungguh-sunggun kerana tidak menjadikan fikir Nabi SAW sebagai fikir kita dan tidak menjadikan maksud hidup Nabi SAW sebagai maksud hidup kita.

Kita perlu yakin dengan janji Allah SWT. Allah SWT berfirman yang maksudnya, “Wahai orang-orang yang beriman, jika kami membantu agama Allah, Allah akan membantu kamu”. Allah akan bertindak mengikut sangkaan manusia. Kita perlu berhajat kepada Allah SWT, kita perlu selalu menuju kepada Allah SWT. Kita perlu senantiasa mendengar pembicaraan iman, perlu memberi keputusan untuk menghidupkan kerja Nabi ke seluruh alam hingga akhir hayat kita.

(Dipetik daripada Bayan subuh Maulana Ismail Uspra, Ijtima’ Tongi 2002.)

Sekelumit Sentuhan Jamaah Tabligh di Amerika Serikat

Pengalaman Seorang Mahasiswa di Amerika Serikat

Maha besar Allah yang telah menciptakan manusia berbangsa bangsa, bersuku suku, dan bermacam macam bahasa dan agama atau keyakinan kepada Tuhan.
Setiap benda yang diciptakan oleh Allah dan kita lihat adalah cantik dan indah, lihatlah bermacam warna warni bunga2, lihatlah pula bermacam warna dan warni ikan di laut, lihat pula lah bermacam wajah dan warna kulit manusia, dan terakhir kita lihat pula bermacam macam keyakinan dan bermacam cara pengabdian kepada Tuhan. Subhanallah, Maha suci Allah yang menciptakannya.

Lain lubuk lain ikannya, lain kepala lain pendapatnya. Jemaah Tablig adalah sebuah jemaah Islam yang berpusat atau lahir di India yang mayoribeg penduduknya adalah beragama Hindu. Pemimpin Rohani jemaah Tabligh adalah Maulana Muhammad Ilyas lahir tahun 1885 dan meninggal tahun 1944 di kota Khanda, India .

Waktu saya tinggal di USA, salah seorang jemaah Tabligh mendekati saya, seorang pemuda yang fasih berbahasa English, dengan ramah tamah, senyumnya yang menawan, ia ingin berkenalan dengan saya dan saya diundang kerumahnya.
Ia menerangkan tentang pentingnya umat islam melakukan dakwah secara sungguh sungguh dan terpadu. Sebab kalau tidak demikian katanya, umat islam makin hari makin lemah keimanannya, karena mereka sibuk dengan segala aktivibeg sehari hari, baik sibuk bekerja, sibuk belajar, mereka lupa akan Tuhan, lupa bershalat berjemaah di Mesjid dll.

Dan bahkan mereka bisa lupa bershalat sebagai tiang agama dan akhlaq Islam. Inilah kami dari Jemaah yang sangat concern sekali terhadap pentingnya berdakwah mengajak teman2 kita untuk kembali kejalan yang di ridhoi Allah swt.

Sedangkan Rasulullah dan sahabat2 beliau mati matian, dan bahkan Nabi sendiri tidak jarang dilempari oleh batu2 sampai tubuh Nabi berlimang darah karena luka2. Tapi beliau tidak menyerah, beliau tidak marah dan membalas, beliau tetap tegar menyampaikan wahyu wahyu Allah dengan sopan santun, lemah lembut dan berkelanjutan.

Dan sampai sekarang berkat perjuang karena Allah semata mata, umat Islam sudah mendunia dengan jumlah umatnya lebih dari satu milyar orang. Kita bisa hidup beriman dan beragama Islam berkat perjuangan beliau yang mati matian.

Kemudian ia meneruskan penjelasannya tentang dakwah Tabligh yang dilakukannya. Mengikuti jejak Rasulullah dan para sahabat berdakwah maka jemaah Tabligh 3 hari dalam sebulan, mulai hari Jumat sore sampai hari minggu berikutnya, menyediakan waktu, berkorban tenaga, meninggalkan keluarga pergi berdakwah ke kota kota lainnya. Ia dan kawan kawan pergi mengunjungi kota kota lain dan tinggal disana, apakah di mesdjid atau di sebuah rumah jemaah. Ia mengajak saya untuk ikut untuk bertabligh.

Alhamdulillah, pada suatu hari, saya mengikutinya pergi ke sebuah kota Tulsa , berjarak 3 jam naik mobil. Kami (4 orang jema?ah)tinggal disebuah rumah jemaah Pakistan yang sudah lama tinggal di Amerika.
Selama tiga hari kami pergi mengunjungi teman teman seiman, orang orang Islam yang tinggal disekitar kota Tulsa . Kami di guide oleh seorang Jemaah yang tinggal di Tulsa . Kami bersama sama mengunjungi rumah rumah atau apartemen2 atau sekolah sekolah dimana orang orang islam kemungkinan bisa bertemu, tanpa memberitahu lebih dahulu.

Seperti seorang salesman menjualkan dagangannya dari pintu ke pintu rumah,door to door marketing?
Suatu trategi yang baik dan sukses, walaupun berat melakukannya bagi orang yang kurang kuat kecintaannya kepada Rasulullah saw, tapi bagi mereka-mereka yang sudah biasa dan karena kecintaan kepada Tuhan dan agama Islam, bagi mereka saya lihat adalah suatu yang lezat, suatu perjuangan, kalau ada orang yang dapat ikut, itulah suatu kebahagian yang besar.

Tapi kalau tidak berhasil pada hari itu, juga suatu hal biasa dan diterima dengan hati yang besar pula , mungkin pada suatu hari ada orang yang terbuka hatinya untuk ikut bersama. Sesuatu yang dikerjakan dengan kasih sayang dan cinta, semua akan indah dan ringan melakukannya.

Kadang kadang kami bisa berberjumpa dengan penghuni rumah dan berbicara tentang kebesaran agama islam serta mengajak mereka untuk shalat berjemaah di mesjid, dan terkadang pula kami tidak bisa diterima, karena penghuni rumah ada kesibukan yang lain atau ada tamu dan sebagainya.

Tapi bagi kami semua tidak menjadi masalah, lain kali kami datang lagi. Semua sudah ditentukan oleh Allah swt.
Alhamdulillah, kesan kesan saya selama mengikuti bertabligh dengan jemaah Tabligh ini sangat menarik hati saya.

Semua kami mengerjakan tabligh ini hanya karena Allah semata mata, valonteer, suka rela untuk bekerja mengajak teman2 untuk bersama sama berjemaah di mesdjid, tanpa ada maksud tertentu, tanpa ada orang yang membiayai perjalanan dll, hanya untuk kebaikan saja, agar teman teman yang se islam, seiman jangan lupa akan Allah, jangan lupa shalatnya, jangan hilang keimanannya sewaktu tingal di negeri non muslim.
Subhanallah, bukan main cantik dan indahnya mereka- mereka ini berdakwah untuk kepentingan orang lain agar orang jangan berdosa, agar orang lain jangan mendapat azab di akhirat nanti, subhanallah. Suci dan indah sekali niatnya.

Kesan- kesan yang menarik dan indah saya alami sendiri adalah hidup sederhana, tinggal di mesjid atau di rumah jemaah, tidur dilantai, terkadang kita memasak sendiri. Kalau makan bersama sama dari piring yang besar, terasa akrab.
Dalam makan bersama ini yang menarik perhatian saya adalah betapa bersihnya piring tempat kita makan, karena tidak satu biji nasipun yang tertinggal, begitu pula kuah2nya habis dimakan dengan nimatnya. Maha Suci Allah dengan nikmat dan karunianya yang banyak.
Kemudian shalat bersama sama dan membaca Hadits.
Kita dapat merasakan betapa beratnya mengajak orang kepada kebaikan secara lahiriah karena meningalkan keluarga, makan sederhana mungkin. Tapi ada sesuatu hadiah yang diberikan oleh Allah dalam menjalan tabligh seperti ini antara lain; dapat bersilahturahmi dengan kawan2 seiman dan bertambahnya teman2 baru.
Kedua pikiran menjadi fresh dari pekerjaan rutin yang biasa dikerjakan dirumah. Dapat merasakan betapa beratnya Rasulullah saw bedakwah karena Allah semata mata untuk mengajak manusia ke jalan Allah.
Terakhir menambah keimanan kita, kesayangan kita kepada Rasulullah saw dan para sahabat2nya.

Maha Suci Allah, hebatnya, cantik dan indahnya perjuangan teman-teman dari jemaah tabligh semoga Allah menambahkan rahmat dan karunianya kepada mereka dalam mengembangkan, menjaga, dan mejayakan umat Islam di tengah masarakat dunia yang terbuka.
Demikianlah, kesan kesan indah kami, semoga ada manfaatnya, sekiranya ada kesalahan2 kami mohon dimaafkan karena kelemahan kami dalam memahami sesuatu, yang benar adalah milik Allah semata. Terimakasih.
Wasalamu?alaikum wr wb
Abdul Latif

http://www.mail-archive.com/hidayahnet@yahoogroups.com/msg01724.html

Ijtima’ Indonesia 2009: Menurut Republika

http://www.republika.co.id

Tenda Raksasa di Medan Ijtima Umat Islam

Tanpa gembar-gembor dan menebar spanduk serta tiada televisi yang dipampang dan media massa yang beredar, acara Ijtima Tahunan Umat Islam berlangsung mulus dan khusuk selama tiga hari berturut-turut, 18-20 Juli lalu. Sekitar 800 ribu sampai satu juta orang tergerak untuk datang ke medan ijtima ini dari berbagai pelosok Tanah Air dan mancanegara.

Lokasi ijtima bukan di hotel atau gedung, melainkan di sebuah areal terbuka, perkebunan kelapa seluas sekitar 55 hektare, yang disulap menjadi tempat berdirinya tenda raksasa di kawasan kota mandiri Bumi Serpong Damai (BSD) City, Tangerang, Banten. Suasananya tampak sangat sederhana dan bersahaja. Jauh dari kesan elitis dan politis.

Yang dimaksud tenda raksasa malah hanya lembaran kain putih membentuk lajur-lajur panjang, seperti milik pedagang kain yang dibentang begitu saja dari gulungannya. Lantainya adalah tanah merah dan rerumputan, kemudian dilapisi terpal, tikar, atau karpet seadanya. Untuk tidur, peserta ijtima banyak yang menggunakan sleepingbag, mendirikan tenda mini, atau hanya berselimutkan kain sarung.

Setiap waktu shalat wajib tiba, mereka membentuk shaf yang lurus dan rapat. Pada giliran ini, suasana dalam tenda raksasa itu berubah menjadi seperti lantai masjid yang sangat luas. Diperkirakan, panjang shaf mencapai tujuh kilometer.

Tenda tersebut dikelilingi parit buatan dari jalinan bambu yang di dalamnya dilapisi terpal. Airnya terus mengalir dari sumber sumur jetpump yang lebih dulu di tampung pada kolam buatan di pinggir sebuah danau alam. Di sinilah peserta ijtima berwudhu. Di pinggiran tenda, juga terdapat deretan-deratan WC darurat. Konon, jumlah totalnya sampai 2000 buah. Terbuat dari rangka bambu dengan dinding dan pintu dari kain agak tebal dan warna gelap.

Meski berlantai tanah dan becek karena medan ijtima sempat diguyur hujan, WC itu tak menebarkan aroma bau pesing dan kotoran manusia. Selain semua jamaah taat pada adab membuang hadas sesuai sunah Nabi SAW, juga saluran pembuangan airnya dibuat selancar mungkin sehingga tidak ada kotoran yang mengendap begitu disiram.

Satu lagi yang menakjubkan, yaitu bak mandi sepanjang sekitar 1,5 kilometer dan lebar 1,5 meter yang terletak di bagian belakang tenda raksasa dan di pinggir danau dengan konstruksi mirip parit untuk wudhu tadi. Hulu dari bak mandi ini adalah kolam buatan yang terus-terusan menggelontorkan air jernih.

Apa agenda penting ijtima yang 100 persen pesertanya kaum Adam dari berbagai lapisan umat Islam tersebut? Selama tiga hari itu, peserta ijtima disuguhi bayan dan taklim dari para ulama tentang pentingnya menghidupkan ajaran agama Islam serta taskil atau ajakan keluar di jalan Allah (huruj fisabilillah) untuk berdakwah.

Maka, yang dihasilkan dari ijtima itu berupa daftar sekitar 5.000 rombongan dakwah swadaya. Mereka diberangkatkan untuk menyebar ke seluruh Indonesia, bahkan ada yang ke mancanegara.

Hajatan besar yang digagas Jamaah Tabligh itu memang sepi dari sorotan media massa. Bukan bermaksud menutup diri atau bersikap eksklusif, tapi mereka mengaku sebagai ”orang-orang lemah” yang mudah terganggu keikhlasan hatinya dalam beramal ibadah manakala bersentuhkan dengan publikasi.

”Jadi, bukannya tak butuh publikasi media, apalagi memusuhinya. Tidak sama sekali,” tutur Maulana Baban, seorang aktivis Jamaah Tabligh dari Bandung, Jawa Barat, yang ikut suntuk dan berkeringat merancang acara pertemuan besar umat Islam tersebut.

Menurut dia, jangankan membuat press-release, yang namanya proposal, kop surat, stempel, serta perangkat-perangkat administrasi dan publikasi lainnya tak dikenal sama sekali di lingkungan Jamaah Tabligh.

”Bahkan, nama Jamaah Tabligh pun itu bukan kami yang bikin. Itu sebutan yang dibuat masyarakat terhadap aktivitas kami. Kami ini lebih senang disebut umat Islam saja atau hamba Allah atau umat Rasulullah,” tutur Maulana Baban.

Sebagai gerakan dakwah yang dikenal santun, nonpolitis, nonmazhab, egaliter, dan mendunia, perkembangan Jamaah Tabligh tampak sangat fenomenal. Perkembangan gerakan dakwah yang dibidani oleh Maulana Ilyas, seorang alim yang juga konglomerat India, sekitar 1920, banyak menyentak berbagai kalangan.

Dengan jurus yang relatif sederhana, yakni mengembangkan metode huruj fisabilillah selama tiga hari dalam sebulan, 40 hari dalam setahun, dan empat bulan sekali seumur hidup, berbagai ”lahan tandus yang gersang dari iman dan amal Agama” secara bertahap dan meyakinkan menjadi ”lahan subur yang makmur dengan iman dan amalan agama Islam”. zam

Ijtima’ Indonesia 2009: Dimuat Kompas Public

Pertemuan Jamaah Tabligh Tak Tersentuh Media

Ketika dua buah bom meledak dan mengguncang jantung kawasan Mega Kuningan, Jumat pagi 17 Juli lalu, semua media mengangkatnya sebagai headline atau breaking news. Itu normal. Namun, ketika pada waktu yang nyaris sama, sekitar lima ratus ribu orang yang datang dari berbagai pelosok negeri dan mancanegara melangkahkan kakinya dan berkumpul serta menggelar acara “Ijtima Tahunan Umat Islam” selama tiga hari berturut-turut di sebuah perkebunan kelapa seluas 50 hektar di kawasan BSD City, tak satupun media memberitakannya. Apakah itu sesuatu yang normal?

Bagi teman-teman Gerakan Jamaah Tabligh, yang punya hajatan raksasa itu, sepinya acara yang digelar 17,18,19 Juli 2009 itu dari sorotan media justru dianggapnya sebagai sesuatu yang menguntungkan. “Kami ini orang-orang lemah yang mudah terganggu keikhlasan hati kami manakala bersentuhkan dengan publikasi. Kami sedang belajar mengorbankan harta dan diri kami untuk perbaikan iman dan amal kami. Kami sedang mematut-matut diri agar Allah swt menolong dan menyelesaikan masalah-masalah kami, baik di dunia maupun di akhirat. Jadi bukannya tak butuh publikasi media, apalagi memusuhinya…tidak sama sekali,” tutur Maulana Baban, seorang aktivis Jamaah Tabligh dari Bandung yang suntuk dan berkeringat merancang acara pertemuan tahunan di BSD City itu. Menurutnya, jangankan membuat press-release, yang namanya proposal, kop surat, stempel, dan perangkat-perangkat administrasi dan publikasinya lainnya tak dikenal sama sekali di lingkungan Jamaah Tabligh. “Bahkan, nama Jamaah Tabligh pun itu bukan kami yang bikin. Itu sebutan yang dibuat masyarakat terhadap aktivitas kami. Kami ini lebih senang disebut umat Islam saja, atau hamba Allah, atau Umat Rasulullah…” tuturnya, lebih lanjut.

Sebagai gerakan dakwah yang dikenal santun, nonpolitis, nonmazhab, egaliter, dan mendunia, perkembangan Jamaah Tabligh tampak sangat fenomenal. Sepuluh tahun yang lalu, ketika pertemuan serupa diselenggarakan di Kawasan Ancol, hanya dihadiri sekitar 50 ribu orang dari dalam negeri dan sekitar 1000 orang dari 32 negara. Pertemuan pekan lalu di BSD City dihadiri oleh sekitar 500 ribu orang jamaah dalam negeri dan 10000 orang tamu dari 231 negara.

Di tingkat dunia, gerakan dakwah yang dibidani oleh Maulana Ilyas, seorang alim yang juga konglomerat India, sekitar tahun 1920, perkembangannya banyak menyentak berbagai kalangan. Dengan “jurus” yang relatif sederhana, yakni dengan mengembangkan metode “khuruj fisabilillah” selama 3 hari dalam sebulan, 40 hari dalam setahun, dan 4 bulan seumur hidup, berbagai “lahan tandus yang gersang dari iman dan amal Agama” secara bertahap dan meyakinkan menjadi “lahan subur yang makmur dengan iman dan amal Agama”. Di Benua Australia kini tercatat 500 masjid sudah berdiri dan hidup amalan agama dengan pola sunnah. Di Eropa, terutama di Inggris, Prancis, dan Jerman, jejak-jejak kerja dakwah Jamaah Tabligh sangat meluas dan membekas, antara lain berupa banyaknya gereja yang berubah fungsi menjadi masjid. Di Amerika Serikat bahkan rombongan Jamaah Tabligh sudah berhasil menembus Gedung Putih dan mendirikan mushola kecil di sana. Yang pasti, aktivitas Jamaah tabligh, berdasarkan laporan terakhir dalam Ijtima Tahunan di BSD City pekan lalu, sudah meliput 321 negara. Sementara di Indonesia sendiri, semua kabupaten dan kecamatan sudah memiliki markas Jamaah Tabligh.