Rabu, 01 Desember 2010

Adab-Adab Bertabligh

Kerja dakwah dan tabligh merupakan ibadah penting dan karunia yang sangat mulia. Kerja ini adalah warisan para Nabi a.s.. Jika suatu pekerjaan itu besar, sudah tentu mempunyai adab dan tata tertib yang besar pula. Tugas ini bukan untuk menghasilkan hidayah bagi orang lain, namun yang paling utama adalah untuk memperbaiki diri sendiri dan menunaikan kehambaan kita kepada Allah swt., juga sebagai usaha untuk selalu mentaati perintah-Nya demi mendapatkan ridha-Nya. Untuk itu, ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan dan dijaga secara istiqamah:

1. Menanggung sendiri biaya makan, minum, ongkos kendaraan, dan biaya-biaya lainnya. Jika ada kelebihan, boleh membantu biaya kawan-kawan yang kurang mampu.

2. Menghormati saudara-saudara sesama pekerja agama dan menganggap bahwa melayani mereka adalah suatu karunia yang besar, tanpa mengurangi adab dan penghormatan kepada mereka.

3. Bersikap tawadhu' dan merendahkan diri di hadapan setiap muslim dengan berkata lemah-lembut kepada mereka serta berusaha mengambil hati mereka. Jangan memandang rendah atau menghina di antara sesama. Khususnya, alim ulama hendaknya kita muliakan dan kita hormati mereka, jangan sampai kita melakukan kekurangan dalam menghormati mereka. Sebagaimana kita wajib menghormati, memuliakan, beradab kepada Al-Quran dan hadits, seperti itu pula sangat penting bagi kita untuk memuliakan dan menghormati ulama. Allah sendiri telah memberi mereka karunia yang istimewa. Menghina ulama sama dengan menghina Islam, yang akan menyebabkan kemurkaan Allah swt..

4. Hindarilah dusta, ghibah, bertengkar, bermain-main, dan bersenda gurau pada waktu luang. Waktu-waktu luang lebih baik digunakan untuk membaca buku-buku agama dan duduk dengan orang-orang yang menjaga agamanya, sehingga kita dapat mengetahui firman Allah dan sabda Rasul-Nya, khususnya ketika keluar di jalan Allah. Hindarilah hal-hal yang sia-sia dan gunakanlah waktu luang untuk berdzikir, berpikir, bershalawat kepada Nabi saw. dan beristighfar, serta saling mengajarkan di antara sesama jamaah.

5. Ketika kembali, usahakanlah untuk mencari penghasilan yang halal dan menggunakannya sesuai dengan keperluan. Selain itu, hendaknya menunaikan hak-hak keluarga, sanak saudara, dan orang lain, sesuai dengan syariat Islam.

6. Jangan menyinggung masalah-masalah fiqih yang sensitif atau masalah khilafiyah. Selalulah berdakwah mengenai tauhid dan pentingnya menyampaikan agama.

7. Setiap amalan dan ucapan hendaknya dilakukan dengan ikhlas. Amal yang sedikit tetapi ikhlas akan mendapatkan rahmat, berkah, dan menghasilkan kebaikan. Sebaliknya, jika tanpa keikhlasan, maka di dunia pun tidak ada hasilnya dan di akhirat tidak mendapat pahala. Ketika Mu'adz bin Jabal r.a. dikirim oleh Nabi saw. menjadi gubernur di Syam, maka ia bertanya, "Ya Rasulullah, nasihatilah saya." Sabda beliau, "Jagalah keikhlasan dalam setiap amalanmu. Dengan keikhlasan, amalan (sedikit) saja sudah mencukupi." Hadits lain menyebutkan, "Allah hanya mengabulkan suatu amal jika dilakukan dengan ikhlas." Riwayat lain menyatakan, "Sesungguhnya Allah tidak melihat wajah dan rupamu, tetapi Dia hanya memandang hatimu dan amalanmu." Ringkasnya, yang terpenting adalah keikhlasan, yaitu beramal tanpa riya sedikit pun. Sejauh mana amalan itu dikerjakan dengan ikhlas, sejauh itu pula ia akan maju dan berkembang.

Tata tertib amalan ini telah saya terangkan di atas, mengenai keutamaan serta kepentingannya juga sudah saya jelaskan. Namun, yang mesti dilihat adalah dalam keadaan yang kacau balau, tidak menentu, dan penuh kegelisahan ini, sejauh mana cara ini dapat membimbing kita, dan sejauh mana dapat memecahkan masalah-masalah kita? Untuk itu, kita harus kembali kepada Al-Quran. Al-Quran telah menerangkan bahwa usaha ini sebagai perdagangan yang menguntungkan, sehingga akan timbul semangat. Allah berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, sukakah Aku tunjukkan kepadamu suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari adzab yang pedih, yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan memasukkanmu ke tempat tinggal yang baik di dalam surga. Itulah keberuntungan yang besar. Dan ada lagi karunia yang lain yang kamu sukai yaitu pertolongan Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman." (Q.s. As-Shaff: 10-13).

Ayat di atas telah menyebutkan suatu perdagangan yang keuntungan pertamanya adalah terbebas dari adzab yang pedih. Perdagangan tersebut adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mengorbankan harta dan jiwa di jalan Allah swt.. Inilah kerja yang mendatangkan kebaikan. dan kebaikan saja, kalau kita punya sedikit pikiran dan kepahaman. Apakah manfaat-manfaat yang kita peroleh dari kerja yang sangat sederhana ini? Semua kesalahan dan dosa-dosa kita akan langsung diampuni Allah, dan di akhirat kita akan diberi karunia yang sangat besar. Inilah kesuksesan dan karunia yang besar. Tidak hanya itu, bahkan di dunia pun sudah dijamin bahwa Islam akan tersebar dan pertolongan Allah akan datang, serta adanya jaminan kejayaan dan kemenangan atas musuh-musuh dan tercapainya pemerintahan yang Islami.

Allah swt. meminta dua hal dari kita: Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjuang di jalan-Nya dengan mengorbankan harta dan jiwa kita. Sebagai gantinya, Allah akan memberi dua jaminan: (1) Di akhirat mendapat jaminan surga yang berisi ketenangan, kenikmatan, dan istirahat yang abadi. (2) Di dunia akan memperoleh bantuan dan kemenangan. Permintaan Allah swt. yang pertama adalah iman. Jelaslah bahwa tujuan usaha ini adalah untuk mendapatkan hakikat iman, dan yang kedua adalah jihad. Memang, jihad makna asalnya adalah berjuang dan berperang melawan orang-orang kafir, namun maksud jihad yang sebenarnya adalah untuk meninggikan kalimat Allah demi tegaknya hukum-hukum Allah. Dan inilah maksud kerja kita. Dengan demikian, dapat kita ketahui bahwa kita akan memperoleh kebahagiaan hidup setelah meninggal dunia dan kenikmatan surga jika ada iman dan berjuang di jalan Allah. Begitu juga kesenangan dan kenikmatan di dunia akan dapat kita peroleh dengan iman dan berjuang di jalan Allah, yaitu mengorbankan diri dan harta kita di jalan Allah swt.. Apabila kita telah mengambil keputusan untuk mengambil tanggung jawab ini, yaitu beriman kepada Allah swt., berjuang di jalan-Nya dengan harta dan jiwa kita, dan menghiasi diri dengan amal-amal shalih, maka kitalah yang berhak atas kekuasaan dan khilafah di muka bumi ini. Kekuasaan dan pemerintahan akan diberikan kepada kita, sebagaimana disebutkan dalam ayat:

"Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antaramu dan yang beramal shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah memberi kekuasaan kepada orang-orang sebelum mereka, dan akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan sesuatu apa pun dengan-Ku. Dan barangsiapa tetap kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang fasiq." (Q.s. An-Nur : 50).

Dalam ayat ini terdapat janji Allah swt. kepada umat ini, bahwa dengan iman dan amal shalih, maka akan menghasilkan kekuasaan. Sebagaimana yang terjadi pada zaman Rasulullah saw., disusul pada zaman Khulafaaur-Rasyidin, seluruh Arab ditundukkan oleh Rasulullah saw. dan sekitar jazirah Arab ditundukkan oleh Khulafaur-Rasyidiin. Kemudian dari waktu ke waktu secara tidak tersambung, janji ini diberikan kepada raja-raja yang shalih dan kepada khalifah-khalifah yang haq. Dan pada masa-masa yang akan datang pun akan terjadi seperti itu, sebagaimana firman-Nya:

"Sesungguhnya golongan Allah, merekalah yang pasti menang." (Bayanul-Quran).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk memperoleh ketenteraman, kedamaian, ketenangan, dan kehormatan di dunia ini, tidak ada cara lain kecuali berpegang teguh kepada amalan Rasulullah. Hendaknya kita mengerahkan seluruh kekuatan kita, baik ijtima'i (bersama-sama), atau infiradi (bersendirian), untuk menyempurnakan maksud kita yang sebenarnya itu.

"Berpeganglah kepada tali (agama) Allah dengan kuat, dan jangan kalian bercerai-berai." (Q.s. Ali Imran : 103).

Inilah ringkasan tertib amal, yang pada hakikatnya merupakan contoh kehidupan Islam dan kehidupan orang-orang shalih terdahulu. Amal ini telah dimulai sejak beberapa tahun yang lalu di daerah Mewat (kawasan dekat Delhi India). Dan buah dari kerja yang belum sempurna ini adalah bahwa keadaan kaum muslimin ini semakin meningkat dari hari ke hari. Dengan cara seperti itu, keberkahan dan hasil kerja ini telah terlihat jelas manfaatnya di hadapan kita, dan akan dirasakan jika kita sendiri melaksanakannya. Jika kaum muslimin bersama-sama berusaha menyebarkan Islam dengan jalan ini, kita dapat berharap kepada Allah swt. agar kita dijauhkan dari segala musibah dan kesulitan. Dan kita akan diberi oleh Allah kehidupan yang tenang, tenteram, dan terhormat. Di samping itu, kita akan mendapatkan kembali kewibawaan, dan musuh akan takut kepada kita:

"Kemuliaan itu hanya bagi Allah dan Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin." (Q.s. Al-Munafiqun: 8).

Di setiap kata, saya telah berusaha untuk mengarahkan kepada tujuan yang sebenarnya, namun kata-kata ini bukan kumpulan ketentuan. Ini hanyalah kerangka tertib kerja yang telah dimulai oleh seorang yang mulia, yaitu Syaikh Maulana Muhammad Ilyas rah.a.. Dan ia telah mewakafkan seluruh hidupnya untuk agama (kerja yang mulia ini). Oleh karena itu, sangat penting bagi kita agar tidak hanya merasa cukup dengan membaca dan berpikir saja, tetapi juga benar-benar mempelajari dan melihat contoh nyata tertib kerja ini dan memetik manfaatnya agar dapat kita amalkan dalam kehidupan kita. Tujuan kami adalah agar kita benar-benar mencurahkan perhatian yang besar terhadap usaha ini, tanpa ada maksud lainnya.

Balasanku cukup dari Rabbku dengan diterimanya amalku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar