Minggu, 02 Mei 2010

USAHA NUBUWAH

Usaha nubuwah ini adalah Kerja Dakwah dan Tabligh yang dilakukan oleh para Anbiya AS dan Rasullullah SAW. Para Nabi diperintahkan oleh Allah SWT melakukan usaha atas hati-hati manusia untuk dapat kenal kepada Allah dan mau taat kepada seluruh perintah Allah. Usaha nubuwah ini merupakan sarana tarbiyat atau pendidikan ummat untuk mencapai kesempurnaan agama dalam diri mereka dan dalam diri manusia di seluruh alam sehingga mereka siap untuk melanjutkan risalat kenabian. Hasil yang dicari dari sarana tarbiyat ini adalah Tazkiyatun Nafs (Perbaikan Nafsu atau Sifat) dan Tazkiyatun Iman (Perbaikan Iman). Melalui sarana tarbiyat ini manusia akan terdidik untuk mendapatkan sifat-sifat kenabian dan sifat-sifat para sahabat Nabi SAW.

Mengapa kita memerlukan latihan ini ? Hewan bila di tarbiyah (dilatih / dididik) maka akan memberikan banyak manfaat kepada manusia, tetapi bila dibiarkan saja maka akan menjadi liar hingga mendatangkan banyak masalah dan kerugian bagi manusia. Seperti kerbau akan bermanfaat jika didik dalam menggarap sawah, jika kerbau tidak di didik maka kerbau ini akan menjadi liar yang merusak sawah petani. Begitu juga dengan kuda yang menjadi kendaraan, gajah yang buat angkutan, anjing yang untuk melacak, dan kera yang buat memetik buah, semuanya perlu pelatihan atau tarbiyah untuk bisa mendatangkan manfaat. Namun jika kuda, gajah, anjing dan kera tersebut tidak di latih, maka mereka dapat menjadi binatang perusak. Begitu juga dengan manusia apabila ditarbiyah atau dididik melalui napak tilas kehidupan dan perjuangan Nabi SAW dan Sahabatnya maka akan terbentuk pada diri mereka sifat-sifat kenabian dan qualitas para sahabat RA. Qualitas tersebut seperti keyakinan yang benar, akhlaq yang baik, ketaqwaan yang tinggi, dan kasih sayang terhadap ummat. Tetapi bila dibiarkan begitu saja tanpa latihan yang benar maka yang lahir adalah sifat-sifat yang liar seperti binatang perusak tadi. Sehingga mereka bisa menjadi manusia yang hina bahkan lebih hina dari binatang. Walaupun dia suka membaca buku agama yang banyak, jika tidak ada latihan / didikan yang benar tetap saja manusia ini mempunyai kecenderungan menjadi liar. Ini dikarenakan Sifat dan Keimanan ini akan datang melalui mujahaddah.

Mujahaddah itu adalah segala bentuk kesusahan, kesulitan, pengorbanan, yang dilewati demi agama bukan melalui bacaan. Seperti seorang petinju jika dia ingin menjadi petinju namun dia tidak melatih diri, hanya dengan membaca buku cara bertinju saja, maka ketika ada pertandingan ternyata hasilnya berbeda dari yang diharapkan. Di buku mungkin dia bisa tahu definisi hook dan cara bertinju lainnya namun karena tak ada latihan, ternyata sekali pukul sudah jatuh, langsung KO. Jadi untuk bisa jadi seorang petinju ini perlu ada latihan dan mujahaddah dalam berlatih agar bisa menjadi kebiaasaan. Sehingga nanti ketika datang pertandingan tinju dia sudah siap dan sudah terbiasa dengan keadaan yang akan dihadapinya. Begitu juga sholat, jika kita tidak ada latihan, mujahaddah membiasakan diri, pergi ke mesjid untuk sholat berjamaah tepat pada waktunya, walaupun kita banyak baca buku agama, kita akan terasa berat untuk ke mesjid. Seperti waktu subuh jika kita tidak ada latihan atau kurang latihan sholat subuh berjamaah di mesjid maka ketika adzan datang kita lansung KO, tidak bisa bangun dari tidur untuk pergi sholat. Ini karena kita belum terbiasa untuk datang ke mesjid untuk sholat berjamaah. Untuk menjadikan sholat ke mesjid menjadi kebiasaan kita, maka ini diperlukan latihan agar terbiasa. Jika kita sudah biasa melatih diri, bermujahaddah membiasakan diri sholat lima waktu ke mesjid maka Insya Allah, ke mesjid untuk sholat berjamaah pada waktunya bukan hal yang sulit seperti sebelumnya. Inilah pentingnya latihan dan mujahaddah dalam agama. Melalui Mujahaddah ini akan lahir pengalaman Iman yang akan membentuk sifat seseorang menjadi seperti sifat nabi-nabi AS dan para sahabat RA. Inilah yang diajarkan Nabi SAW kepada sahabat, bukan membaca buku tetapi melalui latihan, pengamalan, dan pengorbanan.

Konsep Usaha Nubuwah

Methode yang di ambil dalam sistem nubuwah ini adalah dengan mengunakan konsep pemanfaatan waktu untuk mengamalkan agama. Jadi yang ditekankan dalam kegiatan ini adalah pemanfaatan waktu. Hari ini banyak orang yang bilang bahwa dunia dan akherat harus seimbang. Jika benar berarti 50% dari 24 jam harus kita gunakan untuk agama yaitu 12 jam dan 50% lagi untuk dunia yaitu 12 jam. Jika tidur kita sudah 8 jam berarti waktu dunia kita cuman 4 jam. Hari ini siapa yang mampu melakukannya. Jika kita tidur 8 jam sehari berarti itu adalah 1/3 hidup kita sudah terpakai hanya untuk tidur. Jika kita berumur 60 tahun berarti 20 tahun dari umur kita sudah kita pakai hanya untuk tidur. Sekarang bagaimana kita mensiasati sisanya yang 40 tahun untuk mempersiapkan bekal di akherat tanpa harus melupakan dunia.

Mahfum Hadits, Nabi SAW bersabda :

“wahai sahabat-sahabatku jika Allah beri 10 perintah kepada kalian, lalu kalian melanggar 1 perintahnya, maka ini sudah bisa menjadi asbab kalian masuk ke dalam Neraka Allah. Namun nanti ada umatku sesudah kalian, Allah beri mereka 10 perintah namun 1 perintah saja mereka laksanakan sudah dapat menjadi asbab mereka masuk ke dalam SurgaNya Allah Ta’ala.”
(Al Hadits)

Sahabat dari 10 perintah Allah, satu saja mereka langgar maka sudah dapat menjadi asbab mereka masuk kedalam neraka. Namun, umat sesudah sahabat di akhir zaman ini kata Nabi SAW dalam mahfum hadits ini, satu perintah saja yang mereka laksanakan dari 10 perintah yang Allah kasih, sudah dapat menjadi asbab mereka masuk kedalam SurgaNya Allah Ta’ala. Atas dasar ini, yang di dapat dari hadits tersebut adalah 1 perintah dari 10 perintah berarti 1/10 nya. Bilangan ini digunakan sebagai tertib waktu untuk mempermudah kita mengamalkan agama secara sempurna melalui tahapan-tahapan. Tertib ini merupakan hasil dari Ijtihad para Ulama, sebagai cara atau methode untuk mempermudah manusia dalam beramal dan menjalankan usaha nubuwah atau usaha atas Iman. Atas perkara inilah Ulama membuat tertib atau tahapan untuk mempermudah manusia mewujudkan kesempurnaan agama dalam diri mereka dan diri umat seluruh alam.

Syekh Ibnu Atha’illah Rah.A berkata :

“Jika Allah cinta pada seorang hambanya maka Allah akan sibukkan dia setiap waktu dalam amal-amal Agama. Seluruh waktunya sibuk dengan perkara yang Allah cintai yaitu amal-amal Agama.”

Tahapan itu adalah dengan mensedekahkan waktu kita untuk agama :

1. Minimal memberikan 1/10 waktunya untuk agama dengan patokan umur ± 60 – 70 : 2.5 jam tiap hari, 3 hari tiap bulan, 40 hari tiap tahun, minimal 4 bulan seumur hidup. (Tertib Minimum = Tertib Sedekah : 1/10 penghasilan kita = 1/10 waktu kita ) Ijtihad Ulama

2. Memberikan 1/ 3 hidupnya untuk agama : 8 jam tiap hari, 10 hari tiap bulan, 4 bulan tiap tahunnya. ( Tertib Umar Al Faroukh RA. )

Umar RA pernah menanyakan pada istri-istri prajurit islam batas kesiapan mereka untuk ditinggal pergi oleh suaminya ketika fissabillillah yaitu 4 bulan. Sehingga Shift prajurit yang berperang diputar setiap 4 bulan.

3. Memberikan seluruh waktunya untuk Agama : Tidak ada Nishab lagi yang ada hanya kesiapan mengambil takaza kapan saja diperlukan. ( Tertib Abu Bakar R.A )

Dalam suatu riwayat ketika datang takaza menyumbangkan harta untuk Fissabillillah, saat itu, Utsman RA memberikan 1/3 hartanya untuk agama, Umar menyumbangkan 1/2 untuk agama, sedangkan Abu Bakar RA menyumbangkan seluruh harta dan waktunya untuk agama. Inilah menurut sebagian ulama level keimanan yang paling tinggi setelah kenabian yaitu tahapan shidiqqien.

Hari ini kehidupan kita sudah jauh daripada kehidupan yang dicontohkan oleh para sahabat RA, bukan dari keduniaannya, tetapi dari segi amal-amal agama yang mereka kerjakan. Ini disebabkan karena kehidupan kita dari segi pengorbanan untuk agama sudah sangat jauh tertinggal dari kehidupan sahabat yang penuh dengan pengorbanan untuk agama. Dan Latihan yang dilakukan sahabat juga sudah kita tinggalkan hari ini. Latihan seperti apa yang telah kita tinggalkan ? yaitu latihan melawan hawa nafsu, meninggalkan harta, anak, istri, perdagangan, demi agama. Dengan tahapan ini tujuannya adalah bagaimana kehidupan dan pengorbanan kita dapat ditingkatkan sehingga tidak tertinggal jauh daripada pengorbanan para sahabat RA. Asbab pengorbanan inilah Allah telah ridho pada mereka dan pertolongan Allah selalu bersama mereka dimanapun mereka berada. Melalui usaha nubuwah ini bagaimana pengorbanan dan kehidupan kita dapat mencapai tingkat pengorbanan dan tingkat derajat kehidupan para Sahabat RA. Ketika tahapan Iman sudah sampai kepada tingkatan keimanan para Sahabat RA, maka kefahamanpun akan Allah berikan pula kepada kita dan keluarga kita. Allah telah berikan kefahaman bukan hanya kepada para sahabat tetapi juga kepada anak, istri, dan keluarga mereka asbab pengorbanan mereka. Sebagaimana anak-anaknya Abu Bakar RA, Aisyah R.ha dan Asma R.ha, yang menghibur kakeknya yang marah kepada ayah mereka, karena pergi dijalan Allah tetapi tidak meninggalkan bekal untuk keluarganya. Apa yang dilakukan anak-anak Abu Bakar RA, yaitu Aisyah R.ha dan Asma R.ha, ketika itu ? yaitu mereka tidak mengadu pada kakeknya atau mengeluh mengenai sikap ayahnya tersebut, tetapi mereka justru memikirkan jalan keluar untuk ayah mereka agar kakek mereka tidak berprasangka buruk pada anaknya yaitu Abu Bakar RA. Ketika itu mereka menggiring tangan kakeknya ke lemari yang tergeletak disana batu batuan dengan mengatakan bahwa itu emas yang disentuh tangan kakeknya yang ditinggalkan ayahnya sebagai bekal untuk keluarga mereka. Ayah Abu Bakar RA yang buta itupun akhirnya merasa tenang setelah cucunya mengatakan demikian. Inilah kelebihan yang Allah berikan kepada keluarga yang mau mengorbankan seluruh waktu dan hartanya untuk agama yaitu rasa cukup dan kefahaman atas agama.

Nabi SAW di hina, di caci, di timpuki, menderita karena agama tetapi mengapa pertolongan Allah tidak turun kepada Nabi SAW ketika itu di mekkah. Padahal Nabi SAW adalah mahluk yang paling Allah cintai. Ini karena Allah hendak meletakkan standard pengorbanan bagi Umat ini terutama kepada para sahabat ketika itu. Ketika Nabi SAW bersedih atas cobaan yang dia hadapi dan kesusahan yang maha dahsyat, Allah menghibur beliau SAW dengan kisah-kisah perjuangan, pengorbanan, dan kesusahan Nabi-Nabi dan Ummat-ummat terdahulu dalam membawa agama. Ketika pengorbanan dan keimanan sampai kepada level yang Allah mau, maka ketika itu baru Nusroh Ghaibiyah ( Pertolongan Allah ) akan nampak, seperti yang terjadi pada perang Badr. Allah kirimkan tentara malaikat di perang Badr sehingga pasukan sahabat yang jumlahnya 300 orang tanpa perlengkapan perang yang lengkap mampu mengalahkan musuh yang jumlahnya 3 kali lipat yaitu ± 1000 orang dengan persenjataan yang lengkap. Maiyatullah (Kebersamaan dengan Allah) akan bersama orang-orang yang siap bermujahaddah membantu agama Allah. Bagaimana kita mendzohirkan Qudratullah dalam kehidupan kita ? Masyaikh berkata caranya adalah dengan menafikan ( menolak ) logika dan penglihatan kita, dan membenarkan perintah Allah dalam segala keadaan. Kita jangan terkesan dengan keadaan-keadaan, jangan terkesan dengan apa yang kita miliki dan apa yang tidak kita miliki atau, tetapi kesankan diri kita hanya pada Janji Allah dan hanya membenarkan perintahNya dalam segala keadaan. Baru ketika itu pertolongan Allah akan nampak. Terus tingkatkan pengorbanan, karena pertolongan Allah akan datang jika pengorbanan kita untuk agama bertambah.

Syeikh Meiji Mehrab Rah.A dari India berkata :

“Iman akan naik jika ada usaha atas Iman, Iman akan turun jika usaha atas Iman menurun, Iman akan istiqomah jika usaha atas Iman juga Istiqomah.”

Kini kebendaan naik dan meningkat karena adanya usaha atas kebendaan yang terus meningkat. Jika Iman manusia ini tidak di usahakan maka demand atau permintaan atau keinginan manusia atas hidayah atau Iman akan berkurang. Tetapi jika ada usaha atas Iman maka deman atau permintaan atau keinginan manusia akan hidayah akan bertambah.


Maulana Saad, Masyeikh India, berkata Iman manusia ada tiga tingkatan :

1. Iman Kuat :
Dia Tau, Dia Taat, dan Dia Ridha pada seluruh Perintah Allah.

2. Iman Lemah :
Dia Tau Perintah Allah tetapi tidak ada usaha atas Ketaatan

3. Iman Keluar :
Dia Tau Perintah Allah tetapi dia menghindar demi kepentingan dunia


Mudzakaroh Pengorbanan Nabi SAW dan Sahabat RA

Hubungan kita dengan Allah Ta’ala hanya dapat dilakukan dalam Agama. Agama adalah hal-hal yang di inginkan Allah Ta’ala pada diri manusia dalam setiap waktu, tempat, dan keadaan. Dengan Dakwah maka kita dapat mewujudkan Agama dalam diri kita. Target dari dakwah adalah membuat sifat dan membentuk Iman dalam diri kita. Sebagaimana sahabat mendapat sifat dan Iman melalui dakwah yang penuh pengorbanan, sehingga Iman dan sifat Mereka terbentuk sesuai dengan yang Allah Ta’ala inginkan. 13 tahun sahabat berdakwah atas perkara Iman saja, sebelum syariat diturunkan. Pengorbanan yang mereka lakukan membuat Iman mereka menjadi kuat. Sehingga setiap perintah yang turun dapat dengan mudah dilaksanakan oleh sahabat.

Para sahabat disiksa hanya untuk mempertahankan Iman. Bilal RA dipanggang dan ditiban batu yang melebihi bobot badannya ditengah terik panas matahari namun Imannya tidak goyang. Kabab RA dipanggang punggungnya di atas bara namun Imannya tidak goyah. Ammar RA disiksa dengan ayah ibunya dipasir yang panas sehingga orang tuanya Syahid. Namun demi yang namanya Iman mereka bersabar atas penderitaan. Inilah kesabaran para Sahabat dalam memperjuangkan Agama.

Begitu pula penderitaan yang dialami Nabi SAW semenjak kecil. Ketika lahir ayahnya telah tiada. Rasulullah SAW hanya merasakan kasih sayang seorang ibu dalam 2 bulan saja. Baru merasakan sedikit kebahagiaan dengan kakeknya, Rasulullah SAW harus bersabar melihat kakeknya meninggal hanya dalam waktu kurang dari setahiun. Tarbiyah demi tarbiyah Allah berikan kepada Nabi SAW supaya siap menerima tanggung jawab kenabian. Tarbiyah yang Allah berikan kepada Nabi SAW ini telah membentuk sifat dalam diri Nabi SAW.

Setelah ayat pertama turun yaitu ayat Iqro : “Bacalah”, Nabi SAW dituntut untuk membaca keadaan ummat. Namun karena takutnya menerima wahyu pertama kali, untuk beberapa saat Nabi berusaha menenangkan diri. Lalu turunlah perintah “Ya hayyuhal Mudatsir Kum Fa Anzir Farabbaka Fakabbir.” Artinya : “Wahai orang yang berselimut bangunlah dan besarkanlah nama tuhanmu.” Inilah awal dari perintah Allah SWT kepada Nabi SAW untuk memulai dakwah. Jadi kita berdakwah bukan karena nafsu kita tetapi ini karena perintah Allah sebagaimana yang Allah perintahkan kepada Nabi SAW. Setelah turun ayat ini, Nabi SAW berkata kepada istrinya, “Mulai hari ini tidak ada waktu untuk istirahat lagi.” Semenjak itu Nabi SAW tidak pernah berhenti dari kerja dakwah. Pergi pagi baju bersih pulang petang baju sudah kotor. Pernah suatu hari Nabi SAW asbab keletihan dari menyampaikan agama pada orang, beliau hendak beristirahat sebentar. Namun belum sempat tertidur turunlah ayat : “Ya Ayyuhal Muzammil Kumillaila illa qollila…” Ketika itu Nabi SAW diperintahkan untuk bangun malam menghadap Allah, mendirikan ibadah malam, sehingga hilanglah waktu untuk istirahat beliau SAW. Inilah kerja Nabi SAW yang tidak mengenal waktu dan lelah. Cobaan dan kepayahan dilewati oleh Nabi SAW, sampai-sampai Nabi SAW berkata mahfum : “Tidak ada satu manusiapun yang penderitaannya melebihi aku”. Pernah Nabi SAW membawa Siti Fatimah ke Masjidil Haram, ketika dalam keadaan sujud Nabi SAW badannya di lempari kotoran onta oleh orang kafir Quraish, sehingga membuat Siti Fatimah yang masih kecil menangis melihat keadaan ayahnya. Melihat kotoran yang menempel pada badan ayahnya, Siti Fatimah sambil menangis berusaha membersihkan kotoran onta tersebut dari ayahnya. Ketika beliau berdakwah, orang-orang yang memberikan beliau gelar Al-Amin, berbalik menghina beliau dengan panggilan Al Majnun ( orang gila ). Kehidupan beliau diboikot sehingga beliau berhari-hari dengan istrinya tidak makan apapun selain biji korma dan air putih. Selama 3 bulan dapur nabi SAW tidak mengeluarkan asap, tidak ada masakan atau makanan.

Belum lagi ketika beliau ke Thaif dengan penuh harapan penduduk Thaif mau memeluk Islam, ternyata yang diterimanya adalah siksaan. Rasululllah SAW dihina dan dilemparkan batu, sampai keluar kotapun masih dihajar. Darah segar Rasullullah SAW mengalir dari kepala beliau SAW banyak sekali. Disinilah Rasulullah SAW berdoa yang doanya menggetarkan hati seluruh penduduk langit. Ketika itu seluruh penduduk langit murka dan Allah Ta’ala telah memerintahkan malaikat untuk siap menerima perintah apapun dari Nabi SAW jika Nabi SAW berkeinginan menghancurkan Thaif. Tetapi apa yang dikatakan Nabi SAW menjawab kesediaan para malaikat tersebut yaitu Nabi SAW berdoa yang bunyinya : “Ya Allah bukan ini yang aku mau, aku berdoa karena kelemahanku dalam berdakwah, karena ketidak mampuanku dalam menyampaikan “. Lalu Nabi SAW malah mendoakan kebaikan untuk para penduduk Thaif agar suatu saat nanti mereka mau memeluk Islam. Inilah yang dilakukan Nabi SAW yaitu membalas keburukan dengan kebaikan. Inilah kesabaran Rasullullah SAW dalam menghadapi cobaan. Ketika semua malaikat telah siap untuk menghancurkan Thaif yang telah menyiksa beliau, tetapi beliau malah mendoakan kebaikan buat mereka yang telah menyiksa beliau SAW. Namun cobaan dan ujian kepada Nabi SAW tidak hanya berhenti sampa di Thaif saja, masih banyak lagi cobaan dan penderitaan yang harus dilewati Nabi SAW. Di saat penting-pentingnya Dakwah Rasulullah SAW di Mekkah berturut-turut Rasulullah SAW harus kehilangan 2 orang yang dicintai dan mendukungnya dalam berdakwah yaitu istrinya, Khadijah R.ha, yang selalu menghiburnya ketika sedih dan pamannya Abu Thalib yang selalu membelanya dari siksaan orang kafir Quraisy. Cobaan demi cobaan, kesusahan demi kesusahan, terus di alami Nabi SAW hingga akhir hayatnya. Menjelang ajalnya Nabi SAW barulah bisa berkata, “Tidak akan ada lagi kesusahan setelah hari ini.”

Sahabat RA ini mencintai Nabi SAW melebihi cinta mereka pada keluarganya, pada orang tuanya, bahkan melebihi kecintaan mereka pada dirinya sendiri. Sahabat untuk bersabar ketika harus meninggalkan anak, istri dan mendapat berbagai macam siksaan, ini mudah saja bagi mereka. Tetapi Tidaklah mudah bagi sahabat menahan kesabaran ketika mereka melihat Rasulullah SAW dihina dan disiksa. Ini karena mereka. sahabat dahulu adalah seorang yang pemberani dan pendekar-pendekar perang. Ketika Hamzah RA mendengar Rasulullah SAW ditimpuki kotoran oleh Abu Jahal, beliau RA langsung menyampiri Abu Jahal dan memukulnya hingga jatuh dan berdarah, didepan para petinggi quraisy pada waktu itu. Padahal waktu itu Rasulullah SAW tidak pernah menyuruh mereka mambalas atau menyatakan perang kepada orang kafir Quraish atas perlakuan mereka. Justru beliau malah menyuruh mereka, para sahabat RA, untuk bersabar atas orang kafir quraisy. Para sahabat rela bersabar diatas segala penderitaan demi Agama Allah. Mereka disiksa, keluarga mereka dibunuh, dihina dan dicaci maki, tetapi apa yang nabi anjurkan kepada mereka, yaitu bersabar, bukan membalas dengan nafsu dan dendam.

Allah Ta’ala menguji kesabaran para sahabat ketika susah dan sempit yaitu ketika di Mekkah, dan Allah Ta’ala menguji mereka ketika senang dan lapang ketika di Madinah. Ketika perjanjian Hudaiybiyah, para sahabat RA ditest kehormatannya oleh Allah Ta’ala. Sejauh mana mereka siap mengorbankan kehormatan mereka untuk Agama. Ketika perjanjian Hudaibiyah, saat itu para sahabat RA sudah dalam posisi siap tempur, dan keuntungan keadaan berpihak pada sahabat RA ketika itu. Namun apa yang terjadi disaat sahabat sudah merasa ini waktunya bagi mereka untuk membalas semua kekejaman kaum Quraish kepada mereka dan keluarga mereka. Justru keadaan yang menguntungkan itu ditolak mentah-mentah oleh Rasulullah SAW. Bahkan Rasullullah SAW menerima tawaran kafir quraisy yang tidak seimbang dan merugikan posisi mereka pada waktu itu. Secara logika apa yang diputuskan oleh Nabi SAW tidak dapat diterima oleh akal dan nalar para sahabat RA ketika itu. Hal ni membuat harga diri para sahabat ketika itu tercabik-cabik. Namun karena ini sudah menjadi keputusan Rasulullah SAW, maka mereka harus taat. Inilah kesabaran sahabat ketika mereka telah telah diujung kesabaran mereka untuk menggempur kafir quraisy, mereka masih tetap taat kepada Nabi SAW. Tetapi kejadian ini diabadikan oleh Allah Ta’ala dalam Al-Quran sebagai kemenangan umat Islam, walaupun para sahabat mengalami kekecewaan.

Bagaimana diceritakan ketika penaklukan kota Mekkah, orang kafir quraisy ketakutan melihat kekuatan umat Islam ketika itu. Abu Sofyan, Jendral orang quraisy yang ikut diberbagai pertempuran melawan umat Islam, Hindun yang memakan hati paman Nabi, semua orang yang pernah menyiksa sahabat orang yang sama ketika itu sangat ketakutan. Namun apa yang terjadi, ketika Nabi berbicara di depan ka’bah kepada orang kafir Quraish, ”Tahukah kalian apa yang akan aku lakukan kepada kalian?” mereka menjawab dengan ketakutan, “tidak ya Rasulullah” Rasulullah SAW bersabda, “Aku akan membebaskan kalian sebagaimana saudaraku Yusuf AS membebaskan saudara-saudaranya.” Inilah yang dilakukan Rasulullah SAW kepada orang yang sama yang telah menyiksa beliau SAW dan para sahabatnya.

Inilah kesabaran yang harus dipunyai seorang beriman. Sedangkan hari ini kita sudah merasa kehilangan kesabaran terhadap saudara sendiri, keluarga sendiri, teman sendiri, terhadap lingkungan sendiri. Bagaimana kita bisa menjadi seperti mereka, Nabi dan para Sahabat RA, jika kita tidak mempunyai kesabaran seperti yang mereka miliki. Para sahabat juga dihina ketika sedang berdakwah, tetapi mereka bisa bersabar diri. Keadaan kita dibandingkan para sahabat sangatlah jauh berbeda. Karena pengorbanan yang mereka lakukan dalam berdakwah berbeda dengan kita, sehingga tingkat kesabaran yang kita punya juga berbeda dengan mereka. Asbab kesabaran dan pengorbanan mereka, hidayah tersebar. Masalah sahabat dibandingkan dengan masalah yang kita hadapi sangatlah tidak sebanding, karena kita tidak melalui penyiksaan-penyiksaan, pembunuhan massal terhadap orang yang kita cintai, ditimpuki, dan lain-lain. Untuk itu penting kita keluar di jalan Allah untuk melatih diri kita agar bisa mendapatkan sifat para sahabat. Dengan tarbiyat yang kita dapati ketika berdakwah, ini dapat membentuk sifat-sifat mulia dalam diri kita. Inilah yang dilakukan para Anbiya AS dan para sahabat dalam menjalankan usaha atas agama, “The Efforts of Deen”, atau Dakwah. Mereka harus melakukan total pengorbanan sebagai bukti kecintaan mereka kepada Allah Ta’ala dan Nabi SAW.

Mudzakaroh Pengorbanan Ibrahim AS dan keluarganya

Ibrahim AS baru bisa mempunyai anak ketika beliau berumur 98 tahun. Ketika itu beliau diuji 2 kali oleh Allah Ta’ala. Pertama ketika beliau harus meninggalkan anak yang baru ia punya dan yang ia dambakan, dan istrinya dipadang pasir. Disini terlihat bahwa Allah hendak menguji Ibrahim AS dengan perintahNya, agar Ibrahim AS ini hatinya senantiasa terpaut pada Allah. Hari ini seseorang yang pulang kerja saja tidak sabar buru-buru pulang ingin bertemu dengan anak dan istrinya, tetapi lihat Ibrahim AS malah diperintahkan untuk meninggalkan anak dan istrinya. Dengan penuh kesedihan dan kesabaran dalam menjalankan perintahNya, Ibrahim AS tinggalkan anak dan istrinya di padang pasir. Demi menjalankan perintah Allah, keluargapun Ibrahim AS rela mengorbankannya. Ibrahim AS di test kesabaran dan keyakinannya oleh Allah untuk meninggalkan anak dan istrinya di padang pasir.

Setelah Siti Hajar mengetahui bahwa itu adalah perintah Allah maka dia pun Ridho di tinggal Ibrahim AS ditengah padang pasir. Inilah keyakinan siti hajar dan ketaatannya terhadap perintah Allah. Hari ini orang jika melihat suami meninggalkan anak dan istri untuk mendekatkan diri kepada Allah, orang-orang sudah mencapnya sebagai orang yang tidak bertanggung jawab. Jika suami pergi untuk mencari keduniaan di anggap sebagai orang yang penuh tanggung jawab. Inilah kesalah fahaman kita hari ini, dikira kita yang menghidupkan keluarga kita. Orang yang mau berkorban untuk agama di jelekkan dan orang yang buat usaha atas dunia di muliakan.

Allah telah buktikan bahwa Allah tidak perlu Ibrahim AS, Uang, atau Mahluk apapun dalam memelihara Siti Hajar dan Ismail AS dipadang pasir yang tandus. Allahlah yang memelihara segala-galanya, mahluk tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat tanpa seizin Allah. Asbab keyakinan dan ketaatan Ibrahim AS dan keluarganya yaitu Siti Hajar dan Ismail AS, Allah telah buat Mekkah daerah yang tandus dan tidak ada manusia yang mau datang menjadi daerah yang berkah keluar air zam zam dan ramai pengunjung. Setelah beberapa lama tidak bertemu, Ibrahim AS Allah izinkan untuk bertemu dengan siti hajar dan Ismail AS, dengan syarat tidak boleh turun dari kudanya dan tidak boleh berbicara. Setelah itu Ibrahim AS harus balik lagi ke Palestina tempat dia harus berdakwah. Hari jika kita diposisi nabi Ibrahim AS, sudah lama di jalan Allah rindu pada keluarga, sekalinya bertemu tidak boleh turun dari kuda, tidak boleh memeluknya, dan tidak boleh berbicara. Inilah kesabaran seorang Nabi dan seorang Da’inya Allah. Setelah lolos dari ujian ini baru Allah izinkan Ibrahim AS berkumpul dengan Siti Hajar dan Ismail AS.

Ujian kedua, ketika Ibrahim AS lagi senang-senangnya bermain bersama Ismail AS, turun perintah untuk menyembelih Ismail AS. Inilah pengorbanan Nabi Ibrahim AS dalam membuktikan kecintaannya terhadap Allah Ta’ala, bahwa tidak ada yang lebih besar dari Allah di hatinya. Ini adalah ujian dari Allah untuk membuktikan bahwa hati Ibrahim AS tidak mendua kepada Allah dan kepada selain Allah walaupun itu keluarga. Ketaatan kepada Allah Ta’ala bagi Ibrahim AS lebih berharga dibanding keluarganya. Inilah kesiapan dan kesabaran seorang Nabi dan seorang da’i dalam menjalankan perintah Allah.

Begitupula kepada siti hajar dan Ismail AS ketika mendapatkan perintah ini. Nabi Ibrahim dan Ismail AS digoda setan dengan perkataan, “Wahai Ibrahim ini adalah anakmu bagaimana kamu bisa membunuh darah dagingmu sendiri, apakah kamu tega.” Mendengar godaan dari setan ini maka Ismail AS mengusir setan itu dengan melemparkan batu. Lalu Ismail AS berkata kepada ayahnya, ”wahai ayah jika ini perintah Allah jalankanlah, saya ikhlas menerimanya.” Begitu juga Siti Hajar yang di goda oleh setan yang mengatakan bahwa saat ini Ibrahim AS akan membunuh anaknya. Siti Hajar terperanjat kaget saekan-akan tidak percaya. Lalu Siti Hajar bertanya, “Apakah ini adalah perintah dari Allah ?” si setan menjawab,”benar.” Mendengar ini siti hajar menimpuk setan itu dengan batu dan berkata, “Kalau begitu kamu ini setan, masa Ibrahim AS harus melanggar perintah tuhannya.” Inilah keyakinan dan kesabaran keluarganya seorang Nabi dan Da’inya Allah dalam menjalankan perintah Allah. Ini berlaku bagi siapa saja yang siap berkorban di jalan Allah maka nanti Allah akan buat keluarganya mempunyai keyakinan dan ketaatan seperti keluarganya Ibrahim AS.

Keadaan ini tidak hanya Allah berikan kepada Nabi Ibrahim AS tetapi juga kepada para sahabat RA seperti Abu Bakar RA. Asbab pengorbanan Abu Bakar RA, anak-anaknyapun mempunyai keyakinan yang sama seperti ayahnya. Suatu ketika Abu Bakar hendak keluar di jalan Allah, ia telah korbankan seluruh hartanya untuk digunakan di jalan Allah. Lalu Nabi SAW bertanya apa yang telah kamu tinggalkan untuk rumahmu, dia menjawab, “Saya tinggalkan Allah dan RasulNya.” Ketika ayah Abu Bakar RA yang buta dan masih dalam keadaan Kafir berkunjung kerumahnya Abu Bakar, dia berkata dengan nada marah kepada cucunya, “Pasti Abu Bakar telah meninggalkan kalian pergi tanpa meninggalkan apapun.” Lalu Siti Aisyah R.ha beserta adiknya Asma R.ha membimbing kakeknya ke arah meja dan berkata, “Tidak kakek, ayah telah meninggalkan kita batu emas ini.” Seraya membimbing tangan kakeknya ke meja memegang batu yang dikira emas oleh kakekanya. Inilah keyakinan yang ditanamkan Allah kedalam anaknya Abu Bakar RA, sehingga mereka rela ditinggalkan oleh ayahnya tanpa ditinggali apapun.

Nusrottulloh, pertolongan Allah Ta’ala, akan datang kepada orang yang melakukan total pengorbanan dan mempunyai kecintaan terhadap agama seperti sahabat RA. Suatu ketika anak laki-laki Abu Bakar berkata kepada ayahnya, “wahai Ayah, ketika perang Badr, saya mempunyai kesempatan 3 kali untuk membunuhmu, tetapi setiap saya hendak melakukannya, rasa cintaku kepadamu menghalangiku untuk melakukannya “. Lalu Abu Bakar menjawab, ”wahai anakku, jika saat itu aku mendapatkan kesempatan untuk memenggal kepalamu, pasti aku akan melakukannya tanpa ragu-ragu karena aku lebih mencintai Allah Ta’ala dan RasulNya daripada kamu.”

Inilah cinta sahabat RA terhadap Allah Ta’ala, dan inilah kecintaan yang Allah Ta’ala mau, tidak mendua kepada yang lain. Seorang sahabat ditanya oleh Rasulullah. ”Apakah yang akan engkau lakukan jika engkau malihat istri engkau berduaan dengan lelaki lain dalam kamarmu.” Sahabat menjawab, “Akan saya penggal leher lelaki itu.” Lalu Rasulullah SAW bersabda mahfumnya, ”Saya lebih pencemburu dari kamu, dan Allah lebih pencemburu dari saya. Begitu pula cemburunya Allah Ta’ala terhadap hambanya jika dapatiNya dalam hati hambanya kebesaran mahkluk selain kebesaran Allah Ta’ala”

Ada seorang sahabat yang tidak bisa tidur sebelum melihat wajah Nabi SAW karena sangking cintanya kepada Nabi SAW. Seorang sahabat berkata, “Sebelum aku memeluk Islam tidak ada seorangpun yang kubenci melebihi Muhammad SAW, tetapi setelah aku memeluk Islam tidak ada satu manusiapun yang lebih aku cintai daripada Nabi SAW”. Sahabat sangking cintanya kepada nabi SAW rela mengorbankan anak, istri, pekerjaan, jabatan, harta, dan harga diri. Tetapi jika takaza agama dibentangkan maka mereka rela meninggalkan Nabi SAW demi agama. Sebagaimana perpisahan Nabi SAW dengan Muadz yang akan pergi berdakwah ke Yaman. Nabi SAW berkata kepadanya bahwa ini adalah pertemuan mereka yang terakhir, namun Muadz RA dengan hati yang hancur dan kesedihan yang luar biasa karena harus berpisah dengan orang yang paling dicintainya tetap melanjutkan perjalanan demi kepentingan agama.

Para sahabat ketika takaza jihad dibentangkan maka mereka langsung meninggalkan segala yang mereka cintai seperti istri yang baru dinikahi pada malam pertama, kebun korma yang siap dipanen, seluruh harta bendanya untuk agama. Bahkan keluarga merekapun diberi semangat oleh anggota keluarga mereka sendiri untuk berjihad di jalan Allah. Namun karena lemahnya iman kita maka kita belum mampu melakukan pengorbanan seperti mereka. Kesalah fahaman yang terjadi saat ini adalah kita menyangka bahwa diri dan harta kita adalah milik kita. Padahal semua yang kita miliki dan yang kita lihat ini adalah milik Allah Ta’ala. Untuk membenarkan kesalah fahaman ini maka kita harus keluar dijalan Allah Ta’ala belajar berkorban seperti para Nabi AS dan para sahabat RA.

Bagaimana cara memperbaiki Ummat dan menyelesaikan masalah Ummat ?

Satu-satunya cara terbaik memperbaiki ummat yaitu dengan cara mengenalkan agama kepada mereka dan memperbaiki keimanan mereka. Hanya dengan keimanan yang benar kepada Allah dan pengamalan agama yang sempurna maka kehidupan manusia akan terperbaiki. Namun Agama tidak mungkin bisa diamalkan secara sempurna tanpa keimanan yang benar. Dan untuk memperbaiki keimanan ini yang sifatnya Ghaib hanya bisa menggunakan methode Rasullullah SAW yang caranya langsung diajarkan oleh Allah Ta’ala.

Imam Malik Rah.A berkata :

“Tidak ada cara yang terbaik dalam memperbaiki Ummat saat ini selain cara yang digunakan Rasullullah SAW pada kurun waktu awal Islam”

Bagaimana Nabi SAW memperbaiki umat yaitu dengan cara berdakwah, mengenalkan agama kepada manusia. Hanya dengan adanya dakwah, umat dapat mengenal siapa Allah dan manfaat daripada agamanya. Asbab adanya kerja dakwah ini maka Madinah yang tadinya kota penuh kemaksiatan menjadi kota pusat peradaban Islam. Sehingga Madinah mendapatkan gelar Al Munawarah, tempat terpancarnya cahaya. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa menciptakan kehidupan seperti di madinah, atau bangsa yang Madani ( Bangsa Madinah ) yang kita idam-idamkan. Cara pertama adalah dengan mengirimkan rombongan dan menerima rombongan seperti yang dilakukan Nabi SAW di mesjid Nabawi. Ini perlu dilakukan agar ummat bisa mendapat tarbiyah yang sama seperti sahabat ketika pergi di jalan Allah dan belajar kepada Nabi SAW di Mesjid Nabawi. Apa targetnya ketika kita keluar di jalan Allah :

I. Target Kedalam :

1. Bagaimana dalam diri kita dapat terbentuk Sifat dan Qualitas Sahabat
2. Bagaimana Amal Agama ini dapat sempurna kita kerjakan
3. Bagaimana Fikir, Risau, Maksud Hidup Nabi SAW menjadi bagian dari kita juga.
4. Tazkiyatun Nafs, Tazkiyatun Amal, Tazkiyatun Iman.

II. Target Keluar :

1. Membentuk Syukbah ( Persahabatan dan Pertemanan Ukhwah Islamiyah )
2. Membentuk Biyah ( Suasana Amal / Maqomi : Dakwah, Taklim, Dzikir, Khidmat )
3. Mengeluarkan Rombongan Fissabillillah ( Menyiapkan Ummat terlibat dalam Dakwah )


Jika kerja dakwah ini dikerjakan dengan maksimal, maka hasil dari kerja dakwah ini adalah :

Dakwah ↑ - Iman ↑ - Amal ↑ - Ilmu ↑ - Akhlaq ↑ - Maksiat ↓ - Ukhwah ↑ - Perpecahan ↓ :

Ketika Agama akan wujud, keberkahan akan turun dari langit dan dari bumi, ekonomi akan membaik, orang akan lebih memilih hidup sederhana, sehingga harga barang akan turun, import akan berkurang, mata uang akan menguat, harga akan stabil, inflasi dapat ditekan. Ketika ini kondisi umat akan membaik, yang bathil akan lenyap, keamanan dan ketentraman akan wujud, kebaikan akan meningkat, doa akan di dengar, pertolongan Allah akan turun, dan kejayaan umat islam akan kembali.

Dakwah ↓ - Iman ↓ - Amal ↓ - Ilmu ↓ - Akhlaq ↓ - Maksiat ↑ - Ukhwah ↓ - Perpecahan ↑ :

Ketika ini Agama akan hancur, keberkahan akan Allah cabut, kondisi umat akan memburuk, orang banyak maunya, permintaan akan barang meningkat, sehingga harga-harga akan naik, ekonomi akan berantakan, gap antara yang kaya dan yang miskin akan sangat mencolok, korupsi dimana-mana, kejahatan merajalela, kerusakan dimana-mana. Kita akan lihat orang akan berbondong-bondong keluar dari islam, maksiat akan tersebar, yang bathil akan masuk, manusia mulai merusak, keamanan dan ketentraman akan hilang, doa tidak akan didengar, pertolongan Allah tidak akan datang, yang turun adalah adzab dari Allah, dan islam akan dihinakan dimana-mana. Ketika ini maka Allah akan datangkan berbagai macam bencana dan musibah kepada ummat manusia.

Jika Dakwah yang Haq ditegakkan maka kebaikan-kebaikan akan datang dan Maksiat akan lenyap. Tetapi jika Dakwah yang Haq tidak ditegakkan, maka Dakwah yang Bathil akan masuk dan Maksiat akan merajalela. Apa itu Dakwah yang bathil yaitu segala bentuk usaha yang mengajak manusia untuk bermaksiat kepada Allah dari iklan TV, cara berniaga, tempat-tempat hiburan, perjudian, fashion show, club-club malam untuk bermabuk-mabukan dan perzinaan. Hari ini mengapa kejahatan gampang tersebar, bahkan semakin hari semakin canggih kejahatannya. Kejahatan makin maju padahal tidak ada sekolahnya untuk ilmu dan sistem kejahatan. Ini karena tidak perlu sekolah untuk jadi orang jahat, cukup berkumpul dan bertemu dengan pencuri maka kita akan mendapatkan keahlian mencurinya, begitu juga dengan pemabuk, penjudi, dan lain-lain. Padahal kalau kita perhatikan sekolah umum yang mengajarkan ilmu agama banyak, sarjana agama banyak, pesantren dan madrasah pendidikan agama ada dimana-mana, tetapi mengapa kini yang namanya kebaikan tidak tersebar ? Jawabannya adalah ini dikarenakan para Ahlul Kebaikan tidak menyebar, atau tidak adanya pergerakan orang-orang baik yang menyebarkan kebaikan. Sedangkan hari in yang bergerak adalah kejahatan dan para ahlul maksiat. Mereka bergerak, menyebar ke mana-mana, dan ketika bertemu saling mengajarkan sehingga tercipta suasana kejahatan diantara mereka. Jadi asbab adanya pertemuan dan pergerakan bisa membuat kejahatan makin tersebar dan semakin maju. Cukup dengan pergerakan saja, tidak perlu ada promosi dengan kata-kata, maka sesuatu itu dapat mudah tersebar. Seperti cara berpakaian group musik rock yang terkenal misalnya. Mereka para the rocker ini tidak banyak bicara, tetapi hanya bergerak bertemu orang, tau-tau yang lain sudah mengikuti gaya dan penampilan mereka. Begitu juga dengan kebaikan, mengapa kebaikan tidak tersebar, ini karena para ahli kebaikan, para ahli agama tidak bergerak. Mereka hanya duduk-duduk saja di tempatnya. Maka jika keadaannya seperti ini, bisa dipastikan kebaikan tidak akan tersebar dan tidak akan meningkat. Mungkin akan datang suatu masa dimana kebaikan akan hilang dan kebathilan akan tersebar dimana-mana jika para ahlul agama dan ahlul kebaikan tidak mau bergerak menyebarkan yang haq. Dengan keluar di jalan Allah menyebar ke permukaan bumi memberi contoh yang baik dan mengajak orang kepada Allah maka kita sudah menyebarkan kebaikan dan menegakkan yang Haq.

Jadi untuk dapat menyelesaikan masalah ummat itu mudah saja, tidak usah banyak teori, cukup dalam sunnah saja, kehidupan sahabat sudah dapat menyelesaikan masalah semuanya. Caranya yaitu ummat islam kembali pada kerja dakwah ini dan keluar di jalan Allah, berganti-ganti atau bergiliran. Nanti Allah Ta’ala akan selesaikan semua masalah. Ummat islam dan amal islam akan menjadi kuat. Ummat islam ini di ibaratkan oleh ulama adalah seperti air. Air ini jika ia mengalir atau bergerak maka air ini adalah suci dan mensucikan. Jika aliran sungai ini melewati kotoran-kotoran dipinggiran sungai, maka pinggiran sungaipun akan terbersihkan dari kotoran. Tetapi jika air ini tidak bergerak seperti air yang ada dikubangan, maka air yang seperti ini akan membawa banyak masalah, seperti menjadi tempat najis, banyak kotoran, sarang penyakit, tidak bersih, tidak sehat, dan tidak bisa mensucikan. Semua kotoran menumpuk di air kubangan, atau di air yang tidak bergerak, berbeda dengan air yang bergerak atau mengalir. Jadi kalau ummat islam ini tidak bergerak, maka masalah akan banyak timbul dan ummat akan menjadi sarang kotoran sebagaimana air yang tidak bergerak yaitu menjadi air yang membawa masalah. Selama Ummat Islam dalam keadaan bergerak, berdakwah fissabillillah, maka Allah akan selesaikan semua masalah. Allah akan tolong ummat ini dan Allah akan ciutkan hati orang kafir terhadap ummat islam. Dan Allah akan bersihkan kotoran-kotoran yang ada dalam hati ummat islam. Atas perkara inilah kita perlu membawa ummat ini untuk bergerak, pergi dijalan Allah untuk berdakwah. Inilah pergerakan memperbaiki ummat dalam Dakwah dan Tabligh, yaitu dengan mengirimkan rombongan dakwah pergi bergerak dijalan Allah dan memakmurkan mesjid Allah dengan amal-amal agama.

Dakwah membentuk Syukbah ( Persahabatan ) dan Biyah ( Suasana Amal )

Nabi SAW menyatukan ummat ini dengan kerja dakwah. Sehingga timbul diantara mereka rasa sepenanggungan dan seperjuangan. Inilah yang terjadi antara kaum muhajjirin dan anshor di madinah. Inilah rasa yang dimiliki antara Nabi SAW dan para sahabatnnya RA yaitu perasaan syukbah, rasa persahabatan dan sepenanggungan dengan Nabi SAW. Lalu Biyah akan datang dengan membentuk suasana amal seperti di mesjid Nabawi. Sehingga ketika suasana amal ini wujud di mesjid Nabawi bisa membuat seorang kafir masuk ke mesjid nabawi keluar-keluar sudah menjadi orang beriman.

Lalu bagaimana caranya membentuk Syukbah dan Biyah ini dikalangan umat ?

1. Mengirimkan rombongan-rombongan dakwah untuk pergi di jalan Allah
membentuk syukbah diantara jemaah dan mesjid yang didatangi

2. Menerima rombongan-rombongan dakwah dan para pelajar di mesjid-mesjid kita
membuat suasana amal atau Biyah dengan program-program agama

Inilah yang dilakukan Nabi SAW dalam mengenalkan agama yaitu dengan mengirimkan rombongan dakwah dan menerima rombongan atau orang-orang yang mau belajar di mesjid Nabawi. Sehingga terbentuk suasana syukbah, persahabatan antara Nabi SAW dan para sahabatnya. Dan terbentuk pula suasana amal, biyah, dari orang-orang yang mau belajar kepada Nabi SAW. Di jaman Nabi SAW sampai ke jaman Khulafaur Rasyidin jika orang masuk ke mesjid Nabawi maka akan terlihat halaqoh-halaqoh pembicaraan Iman dan pengajaran agama. Sehingga suasana ini di mesjid Nabawi mampu memberikan kesan kepada orang-orang yang tidak mengenal agama. Sehingga ketika itu kita lihat banyak orang kafir masuk islam karena terkesan dengan suasana amal dan suasana persahabatan yang dibuat Nabi SAW di mesjid Nabawi.

Ketika syukbah dan Biyah sudah terbentuk, maka ketika itu akan terlihat orang-orang berbondong-bondong masuk kedalam Islam. Inilah cara Islam mengenalkan agama yaitu dengan dakwah sehingga terbentuk yang namanya syukbah dan Biyah di kehidupan umat. Masalahnya mengenalkan agama dan mengamalkan agama adalah dua hal yang berbeda. Agar umat dapat mengamalkan agama diperlukan keimanan yang kuat. Sedangkan Iman ini akan kuat jika ada Hidayah dari Allah. Hidayah akan datang jika ada pengorbanan dari orang tersebut untuk membuat usaha atas Iman atau Hidayah. Inilah yang dilakukan Nabi SAW dalam mendidik sahabat untuk mendapatkan yang namanya Iman, yaitu membuat usaha atas hidayah Allah.

Hari ini mengapa umat tidak bisa mengamalkan agama secara sempurna ini dikarenakan umat tidak di bawa kepada pengorbanan untuk agama seperti sahabat RA. Melalui pengorbanan akan datang kesadaran dalam beramal dan rasa tanggung jawab terhadap agama. Nabi SAW mendidik sahabat untuk mendapatkan Iman dengan cara membawa mereka kepada pengorbanan untuk agama. Hanya dengan melalui pengorbanan untuk agama maka keimanan akan datang. Seperti Bilal RA ketika disiksa oleh Abu Jahal agar Bilal mau murtad dari islam. Bilal disiksa dipadang pasir yang panas terpanggang oleh panasnya padang pasir, tubuhnya ditiban batu besar yang melebihi bobot badannya saat itu, tetapi siapa yang di ingat oleh Bilal ketika itu ? “Ahad…Ahad”, yaitu Allah yang diingatnya, bukannya Abu Jahal yang menyiksanya ketika itu. Waktu bilal menyebut “Ahad..ahad..” ketika itulah Iman telah masuk. Mengingat Allah dalam keadaan susah dan bersabar atasnya inilah yang dapat mendatangkan Iman. Lalu bagaimana nasehat atau respon Nabi SAW ketika tahu Bilal RA di siksa ? Nabi SAW menasehati Bilal RA untuk bersabar karena dibalik kesabaran dalam mujahaddah atas agama tersimpan rahasia-rahasia Allah berupa kefahaman agama dan kekuatan Iman. Ketika Bilal ditanya oleh seseorang kapan masa yang paling bahagia di dalam kehidupannya, Bilal menjawab yaitu ketika Abu Jahal menyiksanya dipadang pasir ketika itu. Saat itulah masa yang paling bahagia bagi Bilal karena saat itulah dia dapat merasakan manisnya Iman. Bilal RA dapat merasakan manisnya Iman dan kebahagiaan dalam beragama yaitu ketika dia berkorban untuk agama. Begitu juga dengan yang dirasakan oleh sahabat-sahabat RA lainnya ketika mereka merasakan manisnya Iman melalui pengorbanan untuk agama.

Iman ini adalah bukan suatu benda yang dapat disentuh, atau dilihat oleh mata, atau dibeli oleh uang, tetapi keimanan ini adalah pemberian dari Allah. Allah berikan yang namanya Iman ini karena adanya keinginan dan usaha seseorang atas Hidayah atau Keimanan. Iman inilah yang memberikan kekuatan pada seseorang untuk dapat mengamalkan agama secara sempurna. Iman ini adalah seperti ruh pada jasad, ruh ini tidak nampak, tetapi mampu menghidupkan jasad manusia untuk bergerak. Dan Iman ini akan datang melalui pengorbanan seseorang atas Iman. Melalui pengorbanan inilah Nabi SAW mendidik sahabat agar datang kepada mereka keimanan yang sempurna untuk dapat menerima dan mentaati seluruh perintah-perintah Allah. Pendidikan Keimanan yang diberikan oleh Nabi SAW kepada sahabat ini berlangsung selama 13 tahun sebelum perintah sholat turun. Hari ini mengapa orang susah sholat, ini dikarenakan belum adanya kesiapan atas keimanan mereka untuk menerima perintah-perintah Allah.

Kesempurnaan keimanan sahabat mampu membawa mereka ketingkat keyakinan bahwa ada harta tidak ada harta tidak ada masalah. Hari ini ummat karena kekurangan harta maka mereka berlaku anarkis, merusak, bahkan menjadi liar melebihi liarnya binatang. Beda dengan jaman sahabat, mereka mampu berkeyakinan bahwa harta yang mereka miliki tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat tanpa seizin Allah. Sehingga orang seperti Abu Bakar RA mampu menyerahkan seluruh hartanya uintuk agama. Nabi SAW rumahnya sangat kecil, sangking kecilnya ketika hendak sholat saja harus menyingkirkan kaki Aisyah R.ha. Pernah dapur nabi tidak mengepul asap selama 2 bulan berarti selama itu dirumah Nabi SAW kekasih Allah tidak terdapat makanan. Pakaiannya hanya 2 helai saja dan makannnya dari roti gandum yang kasar yang untuk merngunyahnya saja harus menggunakan minyak samin agar lunak. Tetapi Nabi SAW tidak pernah mengeluh, bahkan setiap pulang selalu mengucapkan, “Bayyiti Jannati..” yaitu rumahku surgaku. Begitu juga ketika Allah menawarkan Nabi SAW untuk menjadi Nabi yang kaya tetapi beliau SAW menolaknya dan lebih memilih amalan sehari lapar dan sehari kenyang karena ketika lapar bisa bersabar dan ketika kenyang bisa bersyukur. Inilah yang diajarkan Nabi SAW kepada umatnya yaitu mencari kebahagiaan dan kenikmatan dengan amal bukan kebendaan. Nabi SAW faham dibalik amal ini ada pertolongan Allah untuk segala masalah.

Pertanyaannya sekarang adalah : “apakah itu mungkin mencari kenikmatan dan ketenangan hidup lewat amal walaupun keadaan kita susah ?” jawabnya mungkin dan bisa karena memang sudah ada buktinya dan contohnya yaitu Nabi SAW dan para Sahabat RA. Ini dikarenakan tingkat keimanan pada level tertentu mampu mendatangkan kenikmatan walaupun dalam keadaan susah. Inilah yang didakwahkan oleh para Nabi AS, Sahabat RA, Tabi’in, dan para ulama yaitu bagaimana umat bisa sampai pada derajat Iman yang sudah tidak terkesan pada keadaan baik miskin atau kaya, menang atau kalah, sehat atau sakit. Bagi orang yang sudah sampai pada derajat keimanan seperti itu, mereka hanya terkesan pada perintah Allah saja. Apa perintah Allah pada diri mereka pada saat itu, inilah yang menjadi prioritas orang-orang yang sudah sampai pada kesempurnaan Iman.

Jika keimanan sudah wujud dalam kehidupan umat, maka kehidupan umat akan sendirinya terperbaiki seperti kehidupan sahabat yang tadinya jahil menjadi kehidupan yang mulia. Bahkan Sahabat yang tadinya jahil asbab keimanan mereka maka kehidupan mereka menjadi percontohan ummat dan menjadi pusat peradaban manusia sedunia. Jika Iman sudah wujud dalam diri ummat, maka yang namanya tingkat kejahatan akan menurun, kehidupan sosial manusia akan membaik, ekonomi akan membaik, dan lain-lain. Ini semua asbab adanya perbaikan keimanan. Jika Iman baik, maka amal akan meningkat, akhlaq manusia akan membaik, perbuatan maksiat dari mencuri, berzina, mabuk-mabukan, penganiayaan, kerusakan akan berkurang. Suasana inilah yang perlu kita semua wujudkan, dengan Iman yang benar, manusia akan terhindar dari prilaku anarkis dan vandalisme. Langkah pertama untuk mendatangkan keimanan ini adalah dengan mengorbankan sedikit harta dan waktu kita untuk Khuruj Fissabillillah, pergi di jalan Allah, semampu kita.

Allah berfirman :

“ Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebaikan (Iman) yang sempurna, sebelum kamu menginfakkan (korbankan) sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya ” ( 3 : 92 ).

Rasullullah SAW bersabda mahfum :

“Tidak sempurna Iman kamu sebelum engkau mencintai aku melebihi perkara-perkara yang kamu cinta dari anak kamu, istri kamu, harta kamu, perdagangan kamu, kedua orang tuamu, bahkan dirimu sendiri.” (Al Hadits )

Mudzakaroh Cara Abu Bakar RA menyelesaikan Masalah Ummat

Setelah Nabi SAW wafat ketika itu terjadi goncangan hebat didalam ummat islam. Banyak masalah bermunculan yang harus dihadapi ummat islam ketika itu :

1. Orang murtad dimana-mana
2. Orang islam tidak mau membayar zakat
3. Nabi-nabi palsu bermunculan
4. Musuh Islam di luar madinah sudah siap menyerang ummat islam.

Ketika itu kira-kira 1 minggu, 7 hari saja, sahabat-sahabat di kota Madinah semuanya buntu, tidak mempunyai jalan keluar atau solusi. Orang-orang di madinah hanya memikirkan bagaimana nasib orang-orang islam dan siapa yang akan menggantikan Nabi SAW, ini saja kesibukan sahabat selama seminggu. Asbab kefakuman sahabat ini, tidak ada fikir untuk agama, maka tidak ada lagi yang keluar di jalan Allah, semua rombongan tertunda. Akibatnya ketika itu karena tidak ada fikir agama adalah 100.000 orang islam menjadi murtad. Satu minggu saja sahabat ini vakum dari dakwah, dari keluar di jalan Allah, walaupun di jaman itu hidup ulama-ulama besar dan sahabat-sahabat yang besar dan kuat, 100.000 orang murtad dari islam. Lalu Nabi palsu bermunculan, dan tentara Romawi sudah sampai di perbatasan siap masuk ke madinah untuk menghancurkan ummat islam.

Setelah Abu Bakar RA dilantik menjadi khalifah, bagaimana cara Abu Bakar RA menyelesaikan masalah ini. Keputusan pertama yang dibuat Abu Bakar RA adalah segara mengirimkan rombongan yang tertunda pergi di jalan Allah, yaitu yang telah dibentuk oleh Nabi SAW sebelum beliau SAW wafat. Abu Bakar RA memutuskan untuk mengirim seluruh orang beriman yang laki-laki untuk keluar di jalan Allah semuanya. Para sahabat bingung dengan keputusan Abu Bakar RA. Mereka memikirkan jika semua laki-laki keluar dijalan Allah, maka siapa yang akan menjaga madinah dari musuh, siapa yang akan menjaga ummul mukminin dan keluarga Nabi SAW. Maka Abu Bakar RA dengan suara lantang berkata, “Kalian tetap keluar di jalan Allah, nanti Allah yang akan menjaga semuanya.” Ketika itu yang orang-orang fikirkan adalah keselamatan orang-orang islamnya, padahal yang harus dirisaukan adalah bagaimana menyelamatkan agamanya terlebih dahulu. Inilah yang difikirkan Abu Bakar RA. Inilah perbedaan fikir yang mencolok antara satu orang sahabat ini melawan fikir sahabat-sahabat yang lain. Disini ada perbedaan pendapat diantara sahabat yang dapat menjadi pelajaran bagi kita semuanya.

Ketika itu Abu Bakar RA yakin sepenuhnya jika kita menolong agamaNya, maka Allah pasti akan menolong mereka. Jika kita keluar di jalan Allah untuk melaksanakan perintah Allah, maka pasti Allah akan tolong kita. Jadi keputusan Abu Bakar ini untuk mengeluarkan seluruh laki-laki ke luar madinah di jalan Allah ini sungguh tidak masuk diakal bagi sahabat yang lainnya. Apalagi ketika itu hewan-hewan buas bisa masuk kapan saja memangsa wanita dan anak-anak di Madinah, jika semua laki-lakinya keluar dari Madinah. Secara logika laki-laki yang ada seharusnya dibagi menjadi dua yaitu yang menjaga dalam kota dan yang menjaga diluar kota atau yang pergi di jalan Allah. Tetapi disini Abu Bakar RA justru menyuruh laki-lakinya untuk semuanya keluar, pergi di jalan Allah.

Abu Bakar RA menyelesaikan masalah dengan menggunakan 2 prinsip :

1. Prinsip Taqwa :

“Saya tidak rela agama berkurang di jaman kekhalifahan saya ini walaupun itu hanya seutas tali yang mengikat di leher hewan qurban.”

Takwa ini maksudnya adalah Sempurna Amal. Jadi atas dasar prinsip ini, Abu Bakar RA tidak rela dijamannya agama ini berkurang sedikitpun walaupun itu hanya seutas tali yang mengikat leher hewan korban. Fikirnya Abu Bakar RA ini adalah bagaimana agama dapat sempurna diamalkan oleh umat islam ketika itu. Inilah prinsip yang digunakan untuk menghadapi orang-orang islam yang tidak mau membayar zakat. Jadi mereka diancam akan diberantas jika mereka tidak mau membayar zakat.


2. Prinsip Tawakkul :

“Keluarkan semua laki-laki untuk pergi di jalan Allah. Nanti biar Allah yang menjaga Ummul mukminin, keluarga nabi dan wanita-wanita di madinah.”

Abu Bakar RA lebih rela melihat keluarga Nabi dalam bahaya, dibanding harus melihat agama dalam bahaya. Jadi bagi Abu Bakar RA, derajat Agama ini lebih utama dibanding keluarga Nabi SAW dan ummat islam itu sendiri. Agama lebih penting untuk diselamatkan dibandingkan ummat itu sendiri. Abu Bakar RA, mengirimkan semua laki-laki keluar dijalan Allah dan berserah diri kepada Allah atas keadaan di Madinah inilah Tawakkalnya Abu Bakar RA. Prinsip ini yang digunakan untuk menghadapi orang murtad, nabi palsu, dan musuh islam yang mau menyerang madinah dari luar.

Disinilah terdapat 2 perbedaan pemikiran dan menyangkut kepada masalah keimanan. Dimana Abu Bakar RA yakin jika semua pergi di jalan Allah mendakwahkan agama Allah, maka nanti Allah akan selesaikan semua masalah : orang murtad, nabi palsu, yang tidak mau bayar zakat, dan pasukan romawi yang sudah siap menyerang. Hanya dalam waktu tempo 3 hari saja setelah semua pergi di jalan Allah akhirnya masalah terselesaikan : Madinah tetap aman, 100.000 orang murtad masuk islam lagi, orang membayar zakat lagi, Nabi palsu dapat ditumpas, dan Pasukan Romawi mundur. Jadi risaunya Abu Bakar RA ini adalah Islamnya atau Agamanya dulu, bukan orang-orang Islamnya. Hari ini ada pemikiran seperti yang terjadi ketika sahabat berbeda pendapat dahulu. Sekarang kebanyakan kita ini risaunya adalah orang-orang islamnya, seperti orang islam ada yang dibunuh, diperkosa, diperangi, hak-haknya dirampas, kekurangan makan, miskin keadaannya, pengungsi-pengungsi, ini boleh saja. Tetapi seharusnya yang lebih penting lagi adalah risau atas islamnya. Akibat islamnya tidak dijaga, sehingga Allah tidak menjaga ummat islam. Ini karena islam itu sendiri sudah diacuhkan oleh orang islam. Kita lihat hari ini orang islam kebanyakan tidak sholat, mesjid kosong. Sholat berjamaah di masjid sudah tidak diacuhkan oleh umat saati ini. Lalu sunnah-sunnah Rasullullah SAW sudah ditinggalkan oleh orang islam, bahkan dianggap aneh bagi yang mengamalkannya. Kehidupan orang islam sudah seperti kehidupan orang yahudi dan nasrani, tidak ada bedanya dengan cara-cara atau kehidupan orang kafir, sulit dibedakan mana yang beriman dan mana yang kafir. Semua kehidupan sunnah Nabi SAW sudah ditinggalkan oleh ummat islam itu sendiri. Tetapi begitu terjadi musibah, semua orang berpikir sama, “Apa dosa saya ? Kenapa ini bisa terjadi, musibah seperti ini ? Kenapa Allah tidak tolong kita ?”. Ummat islam diusir, dibunuh, dijajah, diperkosa hak-haknya, tetapi fikirnya hanya diri mereka sendiri saja (“Apa dosa saya ?”). Padahal jemaah-jemaah dakwah sudah datang mengajak kepada sunnah, kembali kepada amal Nabi SAW, amalkan islam, taat pada perintah Allah. Walaupun perkara-perkara ini sudah didengar berkali-kali, tetapi tetap saja sama tidak ada peningkatan amal. Ditaskil, diminta untuk keluar di jalan Allah tidak mau, maka itulah akibatnya, musibah banyak datang. Tetapi fikirnya “Apa dosa saya ?”. Islamnya sudah kita tinggalin, kita acuhkan, tetapi ketika musibah tiba-tiba datang tidak terpikir amal-amal kita yang buruk, bahkan bertanya, “Kenapa Allah tinggalkan kita ? kenapa Allah tidak tolong kita ?”

Inilah sifat manusia, ketika senang mereka beramai-ramai meninggalkan perintah Allah, melupakan Allah, tidak mempedulikan kehendakNya. Tetapi ketika musibah datang baru nangis-nangis kepada Allah minta ditolong. Sudah menjadi sifat manusia hanya ingat kepada Allah dikala susah dan suka melupakan Allah dikala senang. Bahkan ketika kesusahan itu datang bisanya hanya merengek minta tolong tetapi tidak mau memikirkan apa yang Allah kehendaki atas dirinya saat itu dan tidak mau memikirkan kekurangan atau keburukan amal yang telah dia perbuat. Orang seperti ini bagaimana do’anya mau di dengar oleh Allah ? Jadi kalau mau masalah ummat selesai, kirimkan rombongan untuk pergi di jalan Allah sebanyak-banyaknya secara bergiliran. Nanti Allah akan selesaikan masalah yang ada pada ummat ini sebagaimana Allah selesaikan masalah yang terjadi pada kekhalifahan Abu Bakar RA.


Mudzakaroh “Learning By Doing” – Belajar dengan Beramal

Hari ini banyak orang yang membicarakan tentang pengorbanan Nabi SAW dan para sahabat RA untuk agama. Namun masalahnya pada hari ini tidak semua orang yang mengerti dan memahami maksud dan kepentingan dari pengorbanan Nabi SAW dan para Sahabat RA tersebut. Ini disebabkan karena kita tidak melakukan pengorbanan yang sama seperti mereka. Untuk bisa merasakan pengorbanan Nabi SAW dan Sahabat dalam memperjuangkan agama maka kita harus ikuti napak tilas mereka. Seperti pelatih renang dan orang yang baru mau belajar berenang. Walaupun si pelatih ini juara dunia dan juara olimpiade renang dan ahli dalam menjelaskan tentang air dan teknik renang kepada muridnya, tetapi jika si murid renang ini tidak terjun ke air maka dia tidak akan mampu memahami apa yang dikatakan dan dijelaskan gurunya. Tetapi jika si murid sudah terjun ke air, maka dia akan tau apa yang dirasakan dan dimaksud gurunya. Semakin dicoba dan diusahakan semakin mengerti dia akan penjelasan gurunya, sampai pada akhirnya dia bisa berenang bahkan menjadi sehebat gurunya. Ini karena si murid tersebut sudah merasakannya langsung pengorbanan gurunya ketika berada di dalam air. Begitu juga mengapa hari ini umat sangat jauh dari agama, sehingga yang tinggal hanya pengetahuan atau teori saja, bangunan-bangunan saja, tulisan-tulisan saja, ini dikarenakan umat tidak dilibatkan dalam pengorbanan untuk agama sebagaimana Nabi SAW telah melibatkan para sahabat dalam pengorbanan untuk agama. Sehingga hari ini umat hanya tahu saja tetapi tidak ada kefahaman dan kerisauan terhadap agama.

Tujuan dari keluar di jalan Allah itu sendiri sebagai individu adalah dalam rangka islah atau perbaikan diri, sebagaimana trainingnya atau latihannya seorang tentara yang dikirim ke barak untuk peningkatan qualitas. Ketika tentara ini balik ke barak maka dia akan di evaluasi kekurangannya dan akan menjalankan traning atau latihan-latihan kembali dalam rangka meningkatkan kualitas. Sehingga ketika tentara balik ke medan pertempuran maka kemampuan dan kesiapannya akan menjadi lebih tambah baik lagi. Jadi kita perlu mengembalikan umat islam ini kepada baraknya agar bisa dilatih kembali dan ditingkatkan qualitasnya. Namun hari ini permasalaannya ummat hari ini sedang terjangkit penyakit lemah Iman. Asbab lemah Iman ini ummat tidak ada gairah atau tidak ada kekuatan untuk memperbaiki diri, atau meningkatkan amal ibadah. Maka untuk mengobati lemah iman ini perlu perawatan khusus. Ibarat orang sakit maka mesjid ini adalah rumah sakitnya orang beriman agar orang beriman ini dapat terperbaiki Iman dan Hatinya. Jika kita sakit badan maka kita bisa pergi ke dokter dan tinggal di rumah sakit. Tetapi rusaknya hati atau iman ini hanya Allah yang bisa memperbaiki yaitu di rumah sakitnya orang beriman, di mesjid. Jika mesjid tempat pabriknya perbaikan untuk orang beriman sudah tidak digunakan lagi, maka bisa dijamin bahwa kehidupan ummat saat ini sudah terjangkit banyak penyakit hati dan penyakit iman. Mengapa diri kita bisa terperbaiki dengan keluar di jalan Allah ? Dengan keluar di jalan Allah maka kita akan mempunyai waktu khusus untuk memperbaiki keimanan dan amaliat kita. Kita keluar di jalan Allah ini adalah latihan meninggalkan perkara-perkara yang kita cintai sebagaimana sahabat telah meninggalkan perkara-perkara yang mereka cintai demi agama Allah. Dengan demikian akan terbentuk dalam diri kita keyakinan bahwa bukan kitalah yang memelihara keluarga kita tetapi Allah lah yang memelihara keluarga kita. Dengan keluar di jalan Allah kita akan mendapatkan kefahaman dan perasaan yang dirasakan oleh sahabat ketika mereka berkorban untuk agama di jalan Allah sampai tidak ada lagi yang bisa mereka korbankan untuk agama Allah.

Semakin bertambah pengorbanan kita maka akan semakin bertambah pemahaman kita atas pengorbanan sahabat untuk agama Allah. Sampai pada akhirnya kecintaan pada agama akan timbul, ketaqwaan dalam menjalankan perintah Allah akan meningkat, dan kehidupan agama kita, keluarga kita, kerabat kita, tetangga kita, akan terperbaiki. Dengan keluar di jalan Allah kita akan mendapatkan banyak pelajaran seperti dari bertemu dengan ulama-ulama untuk mendapatkan pengajaran dari mereka, berteman dengan orang-orang sholeh, menambah pertemanan, meningkatkan ilmu dan wawasan, menambah pengalaman, merasakan napak tilas nabi dan sahabat sehingga wujud didalam diri kita kecintaan sahabat pada agama, kerisauan Nabi SAW terhadap ummat, dan lain-lain.

Da’i ini hanya mempunyai 2 keadaan saja :

1. Maqomi
2. Khuruj Fissabillillah

Khuruj Fissabillillah atau Keluar di Jalan Allah ada 2 cara :

1. Nishab Waktu Keluar yang di istiqomahkan
2. Takaza Pembentangan Kepentingan Agama

Namun untuk dapat menggerakkan ummat ke arah kebaikan ini diperlukan risau dan fikir yang sungguh-sungguh, sebagaimana risau dan fikir Nabi SAW. Begitu juga dalam menyiapkan Ummat ini diperlukan sifat-sifat Nabi SAW dan Sahabat. Para Sahabat ini dimuliakan oleh Allah karena memiliki sifat-sifat dan qualitas-qualitas yang Allah sukai. Jika kita bisa mendapatkan qualitas atau sifat ini, maka kemuliaan yang Allah berikan kepada para Sahabat RA, juga akan Allah berikan kepada kita. Sifat, Risau, dan Fikir ini akan datang melalui keadaan-keadaan mujahaddah atas agama, pengalaman berjuang untuk agama.

Bagaiaman cara mendapatkan Sifat, Risau, dan Fikir ini :

1. Pergi Khuruj Fissabillillah ( Keluar di jalan Allah )
2. Membuat Amal Maqomi

Inilah kepentingan kita bawa fikir ketika kita pergi di jalan Allah :

1. Bagaimana diri kita bisa terperbaiki atau meningkat qualitasnya
2. Bagaimana Amal Maqomi dapat wujud di mesjid yang dikunjungi
3. Bagaimana rombongan dari mesjid itu bisa keluar di jalan Allah

Sedangkan maksudnya Dakwah ini adalah untuk memenuhi takaza ( pembentangan atau penawaran kerja agama ) yang ada, bukan nishab ( waktu yang di istiqomahkan untuk keluar ) saja. Jika waktunya nishab tetapi datang takaza, maka tinggalkan nishab untuk memenuhi takaza. Sahabat-sahabat RA menurut ulama, nishab harian mereka itu 12 jam untuk agama, sisanya buat selain agama. Sahabat meluangkan waktu mereka untuk mesjid itu 12 jam, sedangkan takazanya mereka 24 jam, kapan saja diminta mereka siap tinggalkan semua. Jadi sahabat ini nishab 12 jam, sedangkan kesiapan mereka untuk ditaskil ( dipanggil ) memenuhi takaza, yaitu 24 jam. Jadi dengan gerak yang dilakukan seperti sahabat ini maka Allah akan tolong ummat islam. Maksud daripada Dakwah ini adalah memenuhi takaza, dimana daerah yang belum islam, dimana daerah yang belum mengucapkan syahadat, dimana daerah yang belum dimasuki jemaah, dimana daerah yang belum hidup amal mesjid Nabawi ? kita siap berangkat kapan saja. Keadaan sahabat itu seperti itu, siap kapan saja berangkat ketika dibentangkan takaza.

Dari riwayat Tirmidzi, Allah berfirman :

“Wahai anak Adam jadikan seluruh hidupmu untuk beribadah kepadaKu, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku akan penuhi kebutuhanmu. Dan apabila engkau tidak mengerjakannya, niscaya Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan memenuhi kebutuhanmu.”

Keadaannya di jaman Nabi ini beda dengan kita, ketika itu para sahabat selalu dalam keadaan siap mengambil takaza lagi dan lagi. Sekali taskil sahabat itu lamanya mereka pergi di jalan Allah adalah 4 bulan full, yaitu di jaman Umar RA. Ketika mereka pulang dari ambil takaza, ternyata ada takaza lagi, sehingga mereka berangkat lagi 4 bulan di jalan Allah. Inilah kehidupan sahabat dalam memenuhi takaza agama. Dalam setahun berarti sahabat ini 8 bulan di jalan Allah dan hanya 4 bulan saja tinggal di kampungnya. Sahabat ini 4 bulan dikampungnya adalah 2 bulan untuk mesjid, dan sisanya 2 bulan lagi adalah 1 bulan di rumah bersama keluarga dan 1 bulan ( 24 jam x 30 hari = waktu sahabat di pasar / di sawah selama 1 tahun ) lagi untuk buat kerja yang mampu memenuhi keperluan untuk 1 tahun. Allah telah ringkaskan buat sahabat kerja untuk 1 tahun dapat dilakukan dalam 1 bulan saja. Ini karena apa ? ini adalah berkat amalan dakwah sehingga kehidupan sahabat ini penuh dengan keberkahan. Sedangkan kita kini kerja satu tahun tidak cukup untuk satu bulan, berbeda dengan keberkahan yang didapat oleh para Sahabat RA. Inilah yang terjadi jika ummat telah meninggalkan kerja dakwah ini, maka Allah akan cabut keberkahan rizki dari kehidupan ummat. Kalau ummat islam ini kembali kepada amalan dakwah, sibuknya mengambil takaza, maka kerja 3 hari saja bisa mencukupi kerja satu bulan. Tetapi jika ummat islam sibuk mengurusi dunia saja, tinggalkan amalan dakwah, tidak mau mengambil takaza agama, maka kerja 1 bulan tidak bisa mencukupi keperluan 3 hari, tidak ada keberkahan. Ini semuanya karena manusia sudah melecehkan Allah dan perjuangan untuk agama Allah. Padahal semua rezki itu datang dari Allah, dan sedangkan syetan itu hanya menakut-nakuti kita.

PRINSIP DAN USAHA MEMBANGUN TRADISI DAKWAH

Dakwah merupakan masalah yang paling penting dalam mengembalikan kejayaan umat Islam. Kesan dakwah pada saat ini tidaklah sepenting yang digariskan, dan seakan sudah tidak ada lagi dalam pikiran orang-orang Islam yang hidup pada zaman ini. Orang-orang Islam mungkin lupa bahwa risalah kenabian dan kerasulan telah ditutup oleh Allah SWT. Sementara agama Islam yang menjadi jalan keselamatan harus sampai kepada generasi terakhir umat manusia yang tidak seorangpun mengetahui kapan berakhirnya. Sering diungkapkan dalam riwayat-riwayat tentang penyakit umat-umat nabi terdahulu yang pada saat ini dapat kita lihat sendiri. Maka menjadi tugas umat Islam sebagai pewaris tugas kenabian untuk mendakwahkan agama Allah SWT hingga generasi terakhir dari peradaban manusia.

Dalam pandangan Maulana Muhammad Ilyas dakwah merupakan kewajiban umat Nabi Muhammad saw. Pada prinsipnya setiap orang yang mengaku mengikuti ajaran Nabi Muhammad tentulah memiliki kewajiban mendakwahkan ajarannya, yaitu agar selalu taat kepada Allah dengan cara yang telah dicontohkan Rasulullah. Menjadikan dakwah sebagai maksud hidup untuk mencapai puncak pengorbanan merupakan tujuan yang harus dicapai setiap individu pendakwah yang mengerti kondisi umat Islam saat ini. Sebagaimana halnya para sahabat nabi yang dalam riwayat banyak dikisahkan tentang pengorbanan mereka terhadap agama Allah SWT, sehingga Allah memberikan kemulian dan kesempurnaan amal agama dan kehidupan yang tidak hanya berdimensi ibadah semata melainkan mencakup semua bidang kehidupan berupa politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan.

Pada awal perkembangannya yang sedemikian terbatas, Islam mampu menguasai belahan dunia pada saat itu dengan menundukkan Romawi dan Persi serta menyebarluaskan ilmu pengetahuan ke seluruh belahan dunia. Hal ini merupakan bukti tentang besar dan megahnya Islam dengan generasi yang berpegang teguh pada ajarannya. Hal inilah yang dikehendaki Maulana agar dapat terwujud kembali di kalangan umat Islam. Maulana menghabiskan masa hidupnya untuk berdakwah, mengajarkan prinsip dakwah yang hakiki yakni bahwa setiap diri yang mengaku sebagai umat Islam mempunyai kewajiban dakwah, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.

Dalam salah satu suratnya yang ditujukan pada Syaikh Muhammad Zakariya, beliau menulis:

Aku ingin agar pikiran, hari, kekuatan dan waktuku hanya aku gunakan demi cita-citaku ini saja. Bagaimana aku dapat bekerja selain dari kerja dakwah dan tabligh, sedangkan aku melihat ruh. Nabi saw bersedih akibat perilaku buruk umatnya, lemah agama dan aqidah, merosot dan hina serta tidak adanya kejayaan bahkan telah lama digilas kekufuran [11].

Kerisauan yang mendalam akan keadaan umat inilah yang menyebabkan beliau berkeinginan kuat untuk terus berdakwah mengajak orang taat kepada Allah dan menyampaikan kebesaran Allah dengan manifestasi menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Melalui segala macam usaha yang dilakukan oleh beliau dengan pikiran dan kerisauan akhirnya terbentuklah jama’ah-jama’ah yang berkeinginan mendakwahkan kembali ajaran Nabi Muhammad saw kepada umatnya.

Membebankan kewajiban bertabligh (amar ma’ruf nahi munkar) semata-mata pada kalangan ulama adalah sebagai tanda adanya kebodohan pada diri kita. Tugas ulama adalah mengajarkan ilmu dan menunjukkan jalan yang benar akan pemahaman terhadap agama. Sedangkan memerintahkan berbuat kebajikan di antara khalayak dan mengusahakan supaya mereka menuju jalan yang benar adalah tanggung jawab semua orang Islam [12]. Sementara Dr. Sayyid Muhammad Nuh dalam tulisannya menegaskan:

Laju perjalanan umat Islam saat ini jauh tertinggal di belakang, setelah sebelumnya berada di barisan paling depan. Banyak sebab yang menjadikan kaum muslimin dalam kondisi seperti ini, di antara sebab terpenting adalah ditinggalkannya kewajiban dakwah, amar ma’ruf nahi munkar dan jihad fi sabilillah. Semua ini berangkat dari kesalahan persepsi umat dalam memandang kewajiban ini. Masih banyak yang memahami bahwa dakwah adalah kewajiban ulama saja, terbatas dalam bentuk ceramah, khutbah dan mau’idzhoh saja. Sementara itu, sebagian dari mereka ada yang memahami dakwah ini merupakan kewajiban yang berlaku atas setiap individu muslim, namun mereka melakukannya tanpa disertai pemahan yang baik terhadap manhaj dakwah nabawiyah dan rambu-rambu Al-Qur’an [13].

Jauh sebelum itu Maulana Muhammad Ilyas telah memikirkan keadaan ini, sehingga keinginannya yang telah bersatu dengan kerisauannya akan kondisi umat Islam yang dilihatnya, membuatnya mencurahkan hidupnya untuk kerja dakwah. Bahkan Maulana Muhammad Ilyas mulai membangun tradisi dakwah yang ia mulai dengan membentuk jama’ah-jama’ah dakwah yang dikirim ke tempat-tempat tertentu, bahkan dipimpin langsung oleh beliau. Dengan tenaga dan kerisauan yang ada beliau berusaha mengenalkan kewajiban dakwah pada umat Islam dan membangun tradisi tersebut agar semua dapat melaksanakan jalan dakwah ini.

Membangun tradisi dakwah diantara kondisi umat yang jauh dari agama, seperti di Mewat tidaklah semudah yang dibayangkan. Dalam keadaan yang penuh dengan kesesatan dan kejahilan masyarakat, Maulana Muhammad Ilyas terpanggil untuk mengajak mereka kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Terlebih lagi masyarakat yang masih kuat memegang syariat agama. Beliau sangat menyadari bahwa Rasulullah bukanlah orang yang mementingkan diri sendiri, beliau selalu memikirkan umatnya, merisaukan keadaan umatnya di kemudian hari. Sehingga dalam riwayat di beritakan bahwa ketika ajal beliau datang, dengan terbata-bata masih menyebut umatnya. Pikiran itulah yang selalu muncul dalam benak Maulana, bahwa dakwah hari ini adalah bagaimana mengajak umat kembali kepada jalan Allah dan Rasulnya.

Berdasarkan pengalaman dan pemikiran yang panjang, Maulana melihat bahwa para petani Mewat yang miskin tidak mungkin dapat meluangkan waktunya untuk belajar agama, sedangkan mereka masih berada di tengah-tengah lingkungan dengan segala kesibukannya. Bahkan dalam jangka waktu yang pendek yang dapat mereka berikan itu, tidak dapat diharapkan agar mereka dapat memperoleh kesan yang dalam dari ajaran-ajaran agama yang telah mereka peroleh, serta memiliki semangat agama sebagaimana yang diharapkan yang dapat mengubah cara hidup mereka. Sesungguhnya tidak mungkin meminta mereka semuanya untuk ke madrasah. Namun juga tidak tepat berangan-angan bahwa hanya dengan sekedar nasihat dan ceramah akan mengubah kehidupan mereka dari cara-cara jahiliyah kepada cara-cara Islam, baik dalam perangai, tradisi, maupun pola pikir [14].

Peran Maulana Muhammad Ilyas dalam menggerakkan masyarakat Mewat yang jahiliyah itu menyebabkan tumbuhnya suasana agama yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. Suasana agama inilah yang diperlukan guna menstimulasi berkembangnya masyarakat yang Islami yang mengikuti kehidupan rasul dan para sahabat. Jama’ah-jama’ah dari masyarakat pun dibentuk untuk dikirim ke beberapa tempat agar dapat memperbaiki diri dalam suasana agama, dengan perbekalan seadanya dan semangat untuk menyebarkan dan mensuasanakan agama.

Datangnya Ramadhan dan cahayanya telah menyinari hati manusia, Maulana Ilyas pun meminta para sahabatnya agar menyiapkan jama’ah untuk dikirim ke Kandhla. Padahal mereka tahu bahwa Kandhla merupakan pusat ilmu dan banyak terdapat rohaniawan. Tentu saja mereka berkeberatan untuk menyampaikan seruan agama tersebut. Apalagi jama’ah itu adalah orang-orang yang bodoh, sungguh ini merupakan suatu yang aneh. Namun akhirnya terbentuklah jama’ah yang terdiri dari sepuluh orang Mewat yang dipimpin oleh Hafidzh Maqbul Hasan. Jama’ah ini bertolak dari Delhi menuju ke Kandhla setelah hari raya. Jama’ah mendapatkan sambutan yang menyenangkan [15].

Jama’ah pertama yang dikirim menyebabkan bertambahnya semangat beliau dalam membangun tradisi dakwah di kalangan masyarakat. Daerah-daerah lain pun mulai dipikirkannya. Gerak jama’ah sangat penting artinya bagi upaya mengubah pola hidup masyarakat. Bagaimanapun keadaannya, beliau tetap berharap dapat mengirimkan jama’ah-jama’ah serupa ke berbagai tempat lainnya. Jama’ah kedua dikirim ke Raipur, kemudian mengadakan ijtima’ (berkumpul bersama) di Chatora hingga terbentuk jama’ah lagi hingga dikirim ke Sonepar, Panipat, dan daerah sekitarnya. Begitulah perkembangan yang terjadi di daerah Mewat dan sekitarnya.

Beliau sepenuhnya meyakini bahwa kebodohan, kelalaian serta hilangnya semangat agama dan jiwa keislaman itulah yang menjadi sumber kerusakan. Adapun satu-satunya jalan keluar adalah membujuk orang-orang Mewat supaya keluar (dari kampung halamannya) guna memperbaiki diri, belajar agama, dan melatih kebiasaan yang baik hingga tumbuh kesadarannya untuk lebih mencintai agama daripada dunia, dan mementingkan amal daripada mal (harta) [16]. Maulana bercita-cita mewujudkan satu generasi yang benar-benar mau berkorban untuk agama, seperti berkorbannya para sahabat dahulu. Jika sehari-hari mereka berkorban waktu, harta, dan diri mereka untuk keduniaan, maka mereka pun harus berusaha untuk berkorban dengan diri, harta dan waktu mereka untuk agama. Menjadi hal yang biasa bahwa segala sesuatu yang diperoleh melalui pengorbanan akan sangat dicintai.

Lambat laun suasana di Mewat semakin berubah. Bahkan perubahan tersebut makin tampak pada cara hidup dan tradisi mereka. Mewat menjadi tanah gembur dan subur yang apabila tanaman dakwah Islamiyah dan pengajaran hukum-hukum agama ditanamkan akan tumbuh, berkembang dan berbuah di tempat tersebut [17]. Perkembangan yang terjadi di Mewat adalah perkembangan yang mengesankan, Mewat yang pada mulanya dilingkupi jahiliyah kini telah berubah menjadi pusat dakwah dan siar agama. Usaha Maulana Muhammad Ilyas yang pertama adalah menanamkan iman dan keyakinan yang benar terhadap Allah SWT dengan cara yang telah dicontohkan Rasulullah. Kemudian beliau menyampaikan keutamaan-keutamaan beramal dan kerugian meninggalkannya serta mengajak umat Islam untuk berkorban menyisihkan diri, harta dan waktunya di jalan Allah.

Sampai akhir hayatnya beliau tetap mencurahkan perhatiannya pada usaha dakwah ini. Bahkan setelah berkembang di India, usaha dakwah ini berkembang ke seluruh dunia. Hingga saat ini negara-negara di beberapa berlahan benua telah memiliki amal jama’ah dakwah. Mereka terus bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mengajak manusia kembali kepada tugas utama sebagai hamba Allah yang sudah seharusnya mengabdi dengan segenap jiwa dan raga serta sebagai umat Nabi yang terakhir Muhammad saw yang mempunyai tugas dakwah beramar ma’ruf nahi munkar.

PENTINGNYA USAHA DAN KERJA DAKWAH

Mengapa Kita harus berpartisipasi dalam pergerakan ini

Yang perlu kita sadari adalah bahwa hampir lebih dari 80 % kandungan Al Qur’an itu isinya mengenai perjuangan para Nabi AS dalam berdakwah, kisah-kisah ummat yang menolak dakwah para Nabi AS. Tidak ada diterangkan di dalam Al Qur’an ini mengenai jumlah ibadah Nabi-Nabi, berapa banyak sholatnya ? berapa banyak dzikirnya ? berapa banyak puasanya ? tetapi justru yang diceritakan adalah kebanyakan daripada pengorbanan para Nabi. Ini karena Allah ingin kita belajar dari pada pengorbanan para Nabi-nabi ini. Napak tilas pengorbanan merekalah yang telah mendapatkan ridho Allah ini yang patut kita ikuti. Bahkan jantung daripada Al Qur’an itu sendiri yaitu surat yassin, isinya menjelaskan kisah seorang pemuda yang mengajak kaumnya untuk mengikuti daripada ajakan, dakwah, nabi-nabi yang telah datang kepada mereka. Sekarang caranya bagaimana kita mengikuti Napak Tilas mereka yang telah di ridhoi Allah ini.

Allah berfirman :

“Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Dan mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” ( 9 : 100 )

Dan dalam ayat ini Allah telah menggambarkan orang2 yang telah Allah Ridhoi :

1. Orang islam yang terdahulu dan yang pertama masuk islam ( Awallun Muslimin )
2. Orang-orang Muhajjir dan Anshor
3. Orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik

Jadi yang perlu kita lakukan sekarang adalah dengan meniru-niru pergerakan mereka yaitu menjadi orang-orang yang Muhajirin ( hijrah membawa agama ) dan jika tidak pergi di jalan Allah kita bisa menjadi Anshor ( orang-orang yang menerima Muhajjirin ). Dengan pergi di jalan Allah ini meniru-niru daripada pergerakan dan perjuangan merka yang telah di ridhoi Allah ini, mudah-mudahan Allah juga golongkan kita termasuk daripada “Orang-orang yang mengikuti mereka ( Nabi dan Sahabat, Muhajjir dan Anshor ) dengan baik.” Untuk perkara inilah penting kita ikut mengambil bagian dari pada usaha nubuwah ini.

Allah berfirman :

“Walladzina’amanu wahajaru wajahadu fissabillillahi walladzina awawwa nasharu ulaika humul mukinuna haqqan lahummaghfirotuw warizqun kariim.”

Artinya : Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah ( Muhajjir ) serta berjuang pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman ( Anshor ) dan memberi pertolongan (kerja sama antara Muhajjir dan Anshor / orang tempatan), mereka itulah orang-orang yang beriman dengan Haq ( yang benar-benar beriman ). Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia.

Jadi orang-orang yang beriman ini, mereka tidak ada keraguan dalam menjalankan perintah Allah dan mereka buktikan dengan berkorban di jalan Allah. Allah telah beritakan bahwa orang yang mau berjuang di jalan Allah lah yang Imannya adalah Haq, Iman yang sebenarnya. Kita tidak bisa mengklaim diri kita beriman jika kita belum bisa membuktikan diri kita kepada Allah, bahwa kita mau berkorban di jalannya sebagaimana nabi SAW dan para Sahabat RA dahulu yang telah membuktikan keimanan mereka dengan pengorbanan yang nyata di jalan Allah.

Allah berfirman :

“Apakah Kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” ( 3:142)

Rasullulah SAW bersabda mahfum :

“Permisalan seorang yang melakukan Jihad di jalan Allah adalah seperti orang yang berpuasa di siang hari, menghabiskan masanya membaca qur’an dalam sholat, bersedekah secara terus menerus sampai si Mujahid itu kembali. Itupun orang yang pergi di jalan Allah masih melebihi daripada itu.”

Jangan sampai yang namanya Dunia menghalangi kita dari Kerja Dakwah ini dan dari berjuang di jalan Allah. Apa itu yang namanya dunia ? segala sesuatu selain Allah yang dapat menjauhkan kita dari perintah Allah adalah dunia.

Allah berfirman :

“Katakanlah : Jika Bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta kekayaanmu yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiaannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan rasulNya dan dari berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak akan memberi petunujuk kepada orang-orang yang fasik.” (9 : 24)

Inilah definisi dunia menurut sebagian ulama, dan bagaimana dengan teknologi, ekonomi, kekuasaan, dan kekuatan militer ? Itu hanyalah keperluan manusia saja bahkan hanya seperti hiasan dunia saja. Jadi jangan sampai kita salah faham, bukan berarti kita tidak perlu teknologi, ekonomi, kekuasaan, dan kekuatan militer, hanya saja itu bukan sebagai maksud kita, tetapi hanya sebagai keperluan saja.

Allah berfirman :

“Sesungguhnya kami telah jadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya.” (18 : 7)

Dari riwayat Tirmidzi, Allah berfirman dalam Hadits Qudsi :

“Wahai anak Adam jadikan seluruh hidupmu untuk beribadah kepadaKu, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku akan penuhi kebutuhanmu. Dan apabila engkau tidak mengerjakannya, niscaya Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan memenuhi kebutuhanmu.”

Rasullullah SAW bersabda mahfum :

“Apabila engkau membaktikan dirimu hanya untuk kepentingan perniagaan, dan menyebar lembu-lembumu untuk pertanian, dan engkau puas dengannya, dan meninggalkan Jihad, maka Allah akan melimpahkan kehinaan ke atasmu. Kehinaan ini tidak akan diangkat sehingga engkau kembali kepada agamamu ( dan berjihad di jalannya )”. ( HR Abu Dawud )

Orang-orang yang sibuknya hanya memperbaiki memperbaiki keperluan saja dan melupakan maksud, maka pasti dan pasti kehidupannya akan dipenuhi masalah. Kalau memperbaiki keperluan ini dijadikan maksud maka yang terjadi adalah masalah akan bermunculan. Seperti seorang turis yang naik kapal pesiar lalu dia transit di suatu pulau. Kalau si turis ini ketika dia turun kepulau tersebut lalu membangun rumah membeli mobil dan semua peralatan hidup maka hidupnya akan menjadi masalah ketika dia harus meninggalkan pulau untuk pergi ke kota yang dia tuju. Ini karena transit di pulau itu bukan maksud hanya keperluan, dan itu semua harus kita tinggalkan untuk menuju tempat tujuan terakhir yaitu akheratnya Allah. Jadi harta, teknologi, ekonomi, semua ini hanya keperluan saja bahkan menjadi ujian buat kita, karena semua itu hanya perhiasan dunia yang suatu saat harus kita tinggalkan menuju kampung akherat. Namun bukan berarti kita melupakan keperluan kita di dunia ini, karena walau bagaimanapun yang namanya keperluan ini adalah sarana untuk dapat mencapai maksud.

Ibarat / Kiasan :

Kapal adalah alat atau kendaraan menuju kampung akherat. Namun yang terpenting dari kapal ini yang perlu di jaga agar jangan sampai bolong yang menyebabkan air dapat masuk kedalam kapal. Sehingga menyebabkan kapal bisa tenggelam. Air ini adalah dunia, tanpa air kapal tidak bisa jalan, namun jika air masuk kedalam kapal, maka kapal bisa karam. Jadi penting kita usahakan bagaimana hati kita ini tidak bolong kemasukan air dunia. Jika dunia sudah masuk kedalam hati maka hati kita akan tenggelam sebagaimana tenggelammnya kapal yang kemasukan air. Jadi dunia ini hanya keperluan saja agar kapal kita bisa sampai pada tujuannya yaitu akherat. Orang yang hatinya sudah kemasukan dunia ini akan terjangkit penyakit wahan. Apa itu penyakit Wahan yaitu penyakit cinta dunia (Hubbud Dunia) dan Takut Mati. Lalu bagaimana mengatasi penyakit ini, ulama buat ijtihad yaitu dengan meninggalkan dunia yang kita cintai ini sementara saja dengan pergi di jalan Allah. Pergi di jalan Allah meninggalkan dunia yang kita cintai ini hanya latihan saja sebelum maut menjemput dan kita harus meninggalkan dunia selamannya. Inilah cara kita mempersiapkan diri.

Allah berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan satu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih ? yaitu kamu beriman kepada Allah dan RasulNya, lalu kamu berjuang di jalan Allah dengan harta dan diri kamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu andaikan jika kamu mengetahuinya. Allah akan mengampuni dosa-dosamu, dan Allah akan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan tempat tinggal yang baik di dalam surga. Itulah Keuntungan ( kemenangan dan kejayaan ) yang besar.”
( 61 : 10 – 12 )

Disini Allah menawarkan kepada orang beriman suatu perdagangan dengan Allah, berbisnis dengan Allah, yang dapat menyelamatkan kita dari pada siksa Allah yang pedih. Padahal Allah tidak memerlukan kita. Jadi tawaran ini hanya sebagai kasih sayang Allah kepada kita agar mau beramal. Tawaran perniagaan yang seperti apa yang Allah tawarkan :

1. Beriman kepada Allah dan RasulNya
2. Berjuang di jalanNya dengan harta dan diri kita

Maka keuntungannya dari perniagaan ini hingga Allah katakan sebagai keuntungan, kemenangan, kejayaan yang besar andaikan saja kita mengetahuinya. Apa keuntungan itu :

1. Ampunan dosa-dosa kita
2. Dimasukkan kedalam Surga

Jadi derajat mereka yang mau berkorban di jalan Allah ini sangat tinggi sekali di sisi Allah, sehingga Allah menawarkan Jihad Fissabillillah ini sebagai suatu perniagaan yang dapat memberikan keuntungan bagi kita. Bahkan Allah mengancam bagi mereka yang tidak mau berkorban di jalan Allah atau mau berhenti atau istirahat daripada jalan Allah ini :

Allah berfirman :

“ Dan belanjakanlah hartamu di jalan Allah, dan janganlah kamu melemparkan diri kamu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. “ ( 2 : 195 )

Asbabun Nuzul daripada ayat ini adalah ketika seorang sahabat hendak cuti atau istirahat, atau tidak mau ikut pergi di jalan Allah karena sedang mempunyai urusan. Sehingga turunlah ayat ini untuk mereka yang ada terlintas untuk istirahat atau berhenti dari berjuang di jalan Allah.

Di dalam Al Qur’an Allah berfirman :

“ Sesungguhnya Kalian adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang Ma’ruf (dakwah), dan mecegah yang mungkar, dan beriman kepada Allah…”
(3 :111)

Disini Allah bilang kita sebagai Choiru Ummat atau Umat terbaik tentu ada sebabnya. Ini dikarenakan kita diamanahkan untuk memikul suatu kerja yang tidak diamanah kepada umat sebelumnya yaitu kerja kenabian atau kerja dakwah. Menyeru manusia kepada yang Ma’ruf dan mencegah yang mungkar atau dakwah ini adalah identitas umat Nabi SAW sebagai pelanjut risalat kenabian. Jika kita tidak melakukan tugas ini maka ini seperti polisi yang berpakaian polisi tetapi tidak mau mengerjakan tugasnya, hanya mau duduk-duduk saja diwarung, pasti dia akan dimarahi atasannya. Baju Polisi yang melambangkan identitas seorang polisi ini seperti kerja dakwah yang merupakan identitas umat ini. Jika kita tidak melakukan tugas yang menjadi identitas kita sebagai umat Nabi SAW maka kita akan dimurkai Allah Ta’ala.

Dalam Mahfum Hadits, Dari Aisyah R.ha berkata mendengar Nabi SAW bersabda :

“ Hai Manusia, Allah SWt berfirman kepada kalian : “Serulah (dakwahlah) kepada manusia untuk berbuat kebaikan dan cegahlah mereka dari perbuatan mungkar”, sebelum datang kepada kalian (akibatnya) dimana kalian berdo’a kepadaKu tetapi Aku tidak akan menerima do’a kalian, kalian meminta kepadaKu tetapi Aku tidak akan memenuhi permintaan kalian, kalian memohon pertolongan kepadaKu tetapi Aku tidak akan menolong kalian.” (At Targhib)

Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda mahfumnya :

“Apabila umatku sudah mengagungkan dunia (maksudnya : mendahulukan dunia dibanding perintah Allah), maka tercabutlah dari mereka dari kehebatan islam. Apabila umatku meninggalkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar (Dakwah), maka diharamkan bagi mereka keberkahan wahyu (Kefahaman Agama). Dan apabila umatku sudah saling caci mencaci (hujat menghujat) satu sama lain, maka jatuhlah mereka dari pandangan Allah Ta’ala.” (HR Hakim dan Tirmidzi)

Dari Abu Said Al Khudri, Nabi SAW bersabda :

“Barangsiapa melihat suatu kemungkaran maka hendaklah cegah dengan tangannya. Jika tidak mampu cegahlah dengan lidahnya. Jika tidak mampu hendaklah dia merasa benci dalam hatinya dan ini adalah selemah-lemahnya Iman.” (HR Muslim)

Oleh karena itu penting ada diantara kita yang siap melakukan inisiatif untuk mengajak manusia kearah perbaikan seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi SAW. Walaupun itu hanya segolongan orang yang memulainya demi tegaknya agama dan perbaikan atas ummat.

Allah berfirman :

“Dan hendaklah ada diantara kalian segolongan ummat (jemaah) yang menyeru kepada kebaikan, menyeru kepada yang Ma’ruf, dan mencegah kemungkaran, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (3:104)

Disini bahkan Allah bilang bagi orang yang mau menyeru manusia kepada kebaikan ini sebagai orang-orang yang beruntung. Dan hanya orang-orang yang mencintai Allah, Rasul, dan Agamanya Allah saja yang mampu berfikir ke arah tersebut dan mau membuat usaha perbaikan atas Ummat. Tanda-tanda kecintaan seseorang kepada Allah yaitu terlihat dari keinginan dia mengikuti orang yang paling Allah cintai agar dia bisa mendapatkan cinta dari Allah kepadanya.

Allah berfirman :

“Katakanlah (hai Muhammad SAW) : Jika kamu mencintai Allah , ikutilah Aku, niscaya Allah akan mengasihimu, dan mengampuni dosa-dosamu..” (3:31)

Inilah yang Allah minta kepada orang yang mengaku cinta kepada Allah yaitu dengan mengikuti jalan orang yang paling dicintaiNya yaitu Nabi SAW. Hanya dengan cara Nabi SAW kita akan mendapatkan cinta Allah SWT, ini karena Allah telah mewariskan kepada Nabi Sunnanul Huda atau Jalan-jalan Hidayah (Petunjuk). Jika kita berjalan diluar Sunnanul Huda niscaya tersesatlah kita. Sekarang bagaimana cara mengikuti Nabi SAW ? Apa itu jalan Nabi SAW ?

Allah berfirman :

“Katakanlah (hai Muhammad SAW) : ini adalah jalanku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (manusia) kepada Allah dengan Hujjah yang nyata…” (12:108)

Allah telah perintahkan kepada Nabi SAW untuk menjelaskan jalan hidupnya kepada manusia agar mereka mengikutinya. Apa itu jalan hidup Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya yaitu mengajak orang untuk taat kepada Allah dan semua Perintah-perintahNya. Inilah yang namanya Dakwah yaitu mengajak orang kepada Allah saja dan untuk taat kepada perintah-perintahNya. Inilah maksud dikirimkan rombongan-rombongan dakwah ke seluruh pelosok dunia. Jadi jalan dakwah ini adalah jalan hidup kenabian dan salah satu sunnah Nabi SAW. Hanya dengan mengikuti jalan yang orang kita cintai baru cinta kita ini dapat dibenarkan. Bagaimana kita bisa mengaku cinta sementara kita tidak mau mengikuti orang yang kita cintai.

Dalam Hadits Mahfum Nabi SAW bersabda :

“Barang siapa yang mengamalkan sunnahku berarti dia mencintaiku, dan barang siapa yang mencintaiku maka dia akan di surga bersamaku.” (Al Hadits)

“Semua orang dari ummatku akan masuk surga kecuali yang menolak.” Para sahabat bertanya, “Siapakah yang menolak ya Rasullullah SAW ?” Nabi SAW menjawab, “Mereka yang menolak Sunnahku.” (Al Hadits)

Sedangkan Dakwah ini adalah Sunnah Nabi SAW yang nyata, bahkan kita ini disunnahkan dalam suatu riwayat nabi SAW :

“Balighul Anni Walau Ayyat”

Artinya : “ Sampaikanlah kepada mereka walaupun hanya satu ayat ”

Dalam Haji Wada, Haji Nabi SAW yang pertama dan yang terakhir Nabi SAW bersabda mahfum kepada para sahabat yang hadir :

“ Sudahkah aku sampaikan kepada kamu perintah-perintah Allah ?” para sahabat RA semua menjawab, “Ya, engkau telah menyampaikan risalah itu !” lalu Baginda Nabi SAW berkata : “Ya Allah, saksikanlah ini ( pengakuan umatku ).” Nabi SAW bersabda kembali : “Hendaklah yang hadir disini menyampaikan kepada yang tidak hadir disini…”

Inilah sign, tanda, dari Nabi SAW agar kita siap untuk menyampaikan agama ke suluruh permukaan bumi. Inilah sebabnya banyak maqam sahabat ditemukan di luar negeri. Dari 114.000 sahabat hanya 14.000 sahabat yang ditemukan makamnya antara Mekkah dan Madinnah, selebihnya di luar negeri. Seperti Saad bin Abi Waqqash RA makamnya ditemukan di Cina, Ayub Al Anshori di Turkey, Tariq bin Ziyad RA di Spanyol, dan lain-lain. Andaikata sahabat ini hanya memikirkan ibadah saja di mesjidil haram dan mesjid nawabi maka islam tidak akan tersebar dan kita kemungkinan masih menyembah patung dan kuburan.

Imam Malik Rah. A berkata :

“Tidak ada cara lain untuk memperbaiki ummat ini selain menggunakan cara Nabi SAW ketika memperbaiki Ummat pada kurun Awal.”

Jadi hanya dengan dakwah ummat akan terperbaiki karena dakwah ini adalah sarana atau alat untuk mempromosikan atau menyebar luaskan agama. Sudah tertulis dalam sejarah setiap ummat terdahulu setelah tidak ada lagi kerja dakwah dari nabi-nabi mereka maka kecenderungan mereka akan menjadi kafir melalui tahapan :

1. Tahap Pertama manusia akan meninggalkan amal ibadah
2. Tahap Kedua manusia akan mengerjakan maksiat atau perbuatan mungkar
3. Tahap Ketiga manusia akan meninggalkan agama menjadi kafir atau murtad karena sudah tidak ada lagi keyakinan pada agama bahwa agama dapat menyelesaikan masalah.

Tanpa Dakwah maka agama lambat laun akan pudar hingga tidak ada lagi orang yang mengamalkannya. Bahkan ketika ada yang mengamalkannya akan nampak aneh, bahkan yang mengamalkannya akan dicap seperti orang gila. Jika tidak ada dakwah maka tidak ada orang yang saling ingat mengingati karena Allah. Padahal di dalam Al Qur’an dibilang bahwa peringatan itu baik buat orang beriman. Tanpa Dakwah, agama ini seperti barang bagus tetapi tidak laku atau tidak ada yang mau membeli. Ini karena tidak ada yang mempromosikannya sehingga tidak ada yang mau membeli. Dakwah ini adalah sarana untuk mempromosikan manfaat-manfaat agama dan menjelaskan kerugian yang terjadi bila kita meninggalkannya. Jadi Dakwah ini adalah tulang punggung agama. Tanpa Dakwah yang Haq maka Dakwah yang Bathil akan masuk. Jika Dakwah yang bathil sudah masuk seperti promosi minuman keras, perjudian, prostitusi, pakaian-pakaian yang vulgar, dan lain-lain, maka keimanan orang akan menurun. Jika Iman sudah menurun maka Amal Ibadah akan berkurang, akhlaq manusia akan menjadi buruk, muamalah dan muasyaroh manusia akan rusak. Ketika itu maka do’a tidak akan didengar dan pertolongan Allah tidak akan datang, yang ada hanya kerusakan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Ketika itu semua masalah akan berdatangan. Namun dengan Dakwah maka keimanan akan datang, agama akan tersebar, amal agama akan meningkat, akhlaq manusia akan bagus, perdagangan dan hubungan antar manusia akan baik, dan pertolongan Allah akan datang kepada ummat ini. Atas perkara ini penting kita membantu agama Allah agar Allah perbaiki kehidupan kita.

Allah berfirman :

“Hai orang-orang beriman jika kamu membantu agama Allah maka Allah akan menolongmu dan menguatkankan kedudukanmu.” (47:7)

ini adalah janji Allah bagi mereka yang mau membantu agama Allah maka Allah akan menolong kehidupan kita memperbaiki keadaan rusak dan Allah akan menyelesaikan seluruh masalah yang dihadapi oleh seluruh manusia. Inilah yang dianjurkan ulama yaitu belajar menyelesaikan masalah dengan amal agama. Belajar menyelesaikan masalah dengan pertolongan Allah. Bagaimana cara mendatangkan pertolongan Allah yaitu dengan menjalankan perintahnya. Setiap perintah Allah dibaliknya pasti ada pertolongan Allah. Seperti seorang duta negara yang diperintahkan negaranya jika terjadi sesuatu pasti negara tersebut akan menolong dutanya karena si duta bertindak berdasarkan perintah negara. Apalagi dengan menolong agama Allah, pasti Allah akan menolong kita balik. Hanya dengan agama Allah saja semua permasalahan dapat terselesaikan. Namun syaratnya harus ada niat dan kesungguhan usaha dari ummat tersebut untuk memperbaiki keadaan.

Allah berfirman :

“…Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan nasib suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (13 : 11)

Jadi Allah baru mau membantu merubah suatu kaum setelah kaum itu mau berusaha untuk merubah kehidupannya sendiri. Allah akan mendatangkan perbaikan pada suatu kaum jika kaum itu mau buat usaha perbaikan. Apa yang harus diperbaiki pertama kali yaitu kondisi agamanya, karena baik atau buruknya manusia tergantung pada kondisi agama yang ada diri mereka. Sedangkan Agama ini adalah solusi yang Allah berikan untuk menyelesaikan seluruh masalah manusia sampai hari kiamat.

Hidupkan amal-amal mesjid nabawi di setiap mesjid maka akan datang perbaikan dan peningkatan qualitas hidup bagi orang-orang yang tinggal di kampung itu. Sebagaimana terperbaikinya kehidupan ummat di madinah pada jaman Nabi SAW. Bagaimana kehidupan para sahabat terperbaiki dan meningkat qualitasnya setelah Agama tersebar melalui mesjid Nabawi. Syaratnya harus ada orang yang mau bergerak mengajak manusia kepada kebaikan.

Dari Anas RA :

Kami para sahabat RA bertanya “Ya Rasullullah SAW kami tidak akan menyuruh orang untuk berbuat baik sebelum kami sendiri mengamalkan semua kebaikan dan menjauhi semua kemungkaran.” Maka Nabi SAW bersabda, “ Tidak, bahkan serulah orang untuk berbuat baik, meskipun kalian belum mengamalkan semuanya. Dan cegahlah kemungkaran, meskipun kalian belum menghindari semuanya.”
(HR Thabrani)

Inilah isyarat dari Nabi mengenai pentingnya kerja dakwah walaupun kita belum sempurna mengerjakan kebaikan dan belum sempurna meninggalkan kemaksiatan. Dan hanya dengan mendakwahkan agama saja keadaan akan terperbaiki bukan dengan ekonomi, teknologi, kebudayaan atau dengan kekuasaan itu hanya keperluan saja. Kalau masih memerlukan itu berarti agama belum sempurna karena tidak bisa menyelsaikan masalah manusia. Sedangkan Agama ini sudah sempurna Allah berikan kepada manusia sebagai solusi untuk menyelesaikan seluruh masalah. Siapa saja yang mencari solusi diluar solusi yang telah Allah berikan kepada manusia maka yang akan terjadi hanyalah masalah. Selain dengan agama maka manusia hanya menyelesaikan masalah dengan masalah, bukan masalah selesai tetapi hanya akan menambah masalah.

Allah berfirman :

“…Pada hari ini telah aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Aku sempurnakan nikmatKu kepadamu dan telah Aku relakan islam menjadi agamamu…” (5 : 3)

Semua sudah sempurna Allah berikan dari rumus dan methode untuk menyelesaikan seluruh masalah yang di hadapi oleh manusia sampai hari kiamat, tidak ada cara lain. Selain cara Allah dapat dipastikan akan menemukan kegagalan. Seperti kaum ad yang sukses membuat usaha atas kesehatan dan kekuatan tetapi ingkar terhadap Agama maka mereka berakhir binasa. Kaum Madyan yang sukses membuat usaha atas perbaikan ekonomi dan keuangan juga berakhir binasa karena mereka ingkar terhadap Allah dan AgamaNya. Kaum Saba yang sukses membuat usaha atas pertanian namun ingkar terhadap perintah Allah maka mereka Allah binasakan. Kaum Luth yang sukses membuat usaha atas peningkatan qualitas seksualitas untuk mencapai kebahagiaan, merekapun Allah binasakan. Kaum Tsamud yang sukses membuat usaha atas teknologi arsitektur juga Allah telah hancurkan. Firaun dan Namrud yang sukses membuat usaha atas kekuasaan, sangking berkuasa sampai mengaku sebagai tuhan, juga Allah hancurkan. Qorun yang sukses membuat usaha atas peningkatan harta dan kebendaan juga Allah telah hancurkan. PM Hamman Laknatullah Alaih yang sukses membuat usaha atas karir politik juga telah Allah hancurkan karena ingkar terhadap perintah Allah. Abrahah yang sukses membuat usaha atas kekuatan militer juga telah Allah hancurkan. Hanya dengan cara Nabi dan para sahabat saja keadaan akan terperbaiki selain itu akan berakibatkan kebinasaan. Hanya dengan amal-amal agama saja keadaan terperbaiki, bahkan akan Allah buat ummat islam berkuasa kembali. Lalu Allah akan menukar keadaan mereka yang susah dan penuh dengan masalah dan penderitaan menjadi keadaan yang aman dan sentosa. Dan ini adalah janji Allah yang mutlak kepastiannya. Caranya mendapatkannya bagaimana ? yaitu dengan menghidupkan amal-amal agama didalam kehidupan ummat saat ini.

Allah berfirman :

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman diantara kamu dan yang mengerjakan amal-amal sholeh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana mereka telah menjadikan orang-orang sebelum kamu berkuasa, dan sungguh dia akan menguhkan bagi mereka Agama yang telah di RidhoiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa… ” ( 24 : 55 )

Apa yang perlu kita fikirkan dan kita risaukan saat ini. Bagaimana umat yang 6 milyar, tetapi hanya 1.5 milyar yang muslim. Dari 1.5 milyar berapa banyak yang sudah melakukan sholat. Lalu berapa banyak orang yang mati tiap hari tanpa mengucapkan La Illaha Illallah. Tiap hari kurang lebih 200.000 orang mati tanpa mengucapkan La Illaha Illallah, ini siapa yang bertanggung jawab. Kita ini Allah kasih islam bukannya gratis tetapi datang dengan tanggung jawab untuk menyampaikan agama kepada yang belum tau. Akherat adalah tempat untuk saling menagih Hak, nanti asbab orang tidak dakwah ini maka ini bisa menjadi asbab orang tersebut masuk kedalam Neraka. Anaknya, Saudaranya, tetangganya, temannya dan umat akan menagih haknya kenapa tidak disampaikan atau diajak dalam berbuat kebaikan ketika di dunia, kenapa mereka tidak diperingatkan. Asbab ini Allah bisa kirim kita ke Neraka. Tetapi ada orang yang dosanya sejauh mata memandang, tetapi Allah tunjukan suatu buku amalan yang penuh dengan amal Ibadah orang lain asbab dia mengajak satu orang lain untuk tobat dan orang ini mengajak yang lainnya dalam amal dan ibadah. Sehingga Allah duplikatkan amal ibadah mereka kepada orang pertama yang mengajak mereka.

Jika tidak ada risau dan fikir maka agama tidak bisa bergerak atau berkembang. Kalau Kerja Agama tidak jalan maka kerusakan akan timbul dimana-mana. Tanpa agama manusia ini akan rusak dan merusaki, jauh lebih jahat dari binatang sebagaimana kaum jahiliyah terdahulu yang menjadikan ibu hamil sebagai ladang judi. Ibu hamil ini di belah perutnya hidup-hidup lalu diambil anaknya untuk sebagai bahan perjudian. Jadi tanpa Dakwah atas yang Haq maka Dakwah terhadap yang Bathil akan tegak dan merajalela. Seperti Iklan yang ada di TV menawarkan baju-baju ketat yang tidak pantas bagi wanita dikenakan. Dulu di Indonesia tahun 1970-an jika ada orang pakai rok mini atau baju ketat yang terlihat auratnya maka orang ini akan dibilang tidak punya moral. Tetapi kini orang yang berpakaian demikian akan dibilang maju dan modern. Hari ini karena tidak ada usaha atas agama, perempuan bangga memperlihatkan aurat mereka, sehingga laki-laki mudah tergoda untuk bermaksiat. Maksiat dimana-mana, perjudian, perzinahan, dan minum-minuman keras dimana-mana sudah menjadi hal biasa. Saat ini dalam diri ummat sudah ada rasa kebanggaan ketika melanggar perintah Allah, inilah yang namanya Dzoluman Jahula, yaitu Kebodohan yang Paling Jahil. Sahabat dibilang jahil karena belum mengenal agama, sedangkan kita lebih super jahil dari mereka karena kita sudah tahu perintahnya tetapi masih dilanggar. Ini karena tidak ada Kerja Agama atau Dakwah.

Berdasarkan perkiraan, dulu tahun 1980-an jika orang ditanya berapa persen penduduk Indonesia jawabnya 90% penduduk Indonsia adalah orang Islam ( 90% dari 200Jt = 180Jt). Tetapi kini tahun 2003 karena tidak ada kerja Dakwah, umat Islam tinggal 85 % menurut pendataan penduduk. Ini siapa yang salah, butuh berapa lama lagi untuk umat Islam di Indonesia pindah agama jika dalam 20 tahun terjadi penurunan 5% dari jumlah total umat Islam. 5% dari 200 juta orang berarti 10 juta orang pindah agama dalam kurun waktu kurang lebih 20 tahun. Ini berarti satu juta orang tiap 2 tahun lari dari agama Islam. Ini perlu jadi fikir kita jika tidak maka nanti tanpa kita sadari cucu-cucu kita telah tidak kenal Allah lagi. Salah siapa, ini salah kita karena kurang sungguh-sungguh dalam kerja agama. Hanya dengan Dakwah, yang bathil akan hilang dan yang Haq akan tegak. Namun hanya Dakwah yang dicontohkan oleh Nabi SAW yang akan effective dalam menumpas kebathilan. Perancis tidak ada dakwah, maka gereja mereka dijadikan Night Club. Dan inipun bisa terjadi pada kita di indonesia yang mayoritas islam jika kita tidak mau mengerjakan Kerja Dakwah dan Tabligh ini. Di Perancis tahun 1960-an Mesjid hanya satu namun asbab ada kerja dakwah dari orang-orang India yang mengirimkan rombongan jemaah tabligh kesana, sekarang di Paris saja terdapat 700 mesjid, dan diseluruh Perancis terdapat 2000 mesjid. Dulu Nabi SAW asbab kerja bermulai dari 5 orang sahabat dengan sungguh-sungguh berapa banyak umat Islam kini termasuk kita yaitu tidak kurang 1.5 milyar orang telah masuk kedalam Islam. Jika ada Fikir dan Risau yang sungguh-sungguh maka Agama akan wujud dalam diri kita dan dalam diri umat.

Nikmat yang paling tinggi bagi umat ini adalah diwarisinya umat ini atas kerja nubuwah atau kerjanya para Nabi. Nabi tidak diwariskan harta dan takhta, tetapi Nabi dan umat ini diwarisi kerja Nubuwat oleh Allah Ta’ala. Asbab kerja ini umat ini diangkat derajatnya oleh Allah sebagai “Choiru Ummah : Umat Terbaik”, dan telah diberitakan dalam kitab-kitab terdahulu yang membuat nabi-nabi iri terhadap umat ini. Penting kita jadikan Kerja Nubuwat ini menjadi kerja kita, karena ini adalah identitas kita sebagai Umat Nabi SAW dan Amanah dari Allah Ta’ala. Dan semua nikmat di dunia ini akan dihisab oleh Allah Ta’ala termasuk Nikmat terbesar umat ini yaitu kerja Dakwah. Sahabat karena telah menjadikan Kerja, Fikir, dan Maksud Nabi menjadi Kerja, Fikir, dan Maksud hidup mereka, maka kemuliaanpun dan kejayaan Allah datangkan di bawah kaki mereka. Bilal RA sebelumnya menjadi budak lalu meninggal sebagai Gubernur di Yamman. Jaman Umar RA, Romawi dan Persia beserta kemewahannya takluk dibawah kaki Umar RA.

Allah berfirman :

Artinya : Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjuang di jalan Allah dengan harta dan diri mereka adalah lebih tinggi derajat mereka di sisi Allah, dan mereka itulah yang mendapatkan kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padaNya, keridhoanNya, dan Surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal. ( 9 : 20-21 )

Sahabat telah korbankan segala-galanya, anak, istri, harta, dan diri mereka agar kita dapat selamat dari adzab Allah, tetapi lihat kini apa yang kita lakukan, hanya duduk saja sibuk dengan urusan kita masing2x, tidak ada waktu sama sekali buat agama. Apa yang akan kita katakan nanti kepada mereka jika bertemu dengan para Sahabat. Bagaimana Jika sahabat tidak buat kerja Agama. Apa yang terjadi jika kita tidak memeluk Islam pada hari ini, ketika Mati Allah buang kita ke neraka selama-lamanya. Bagaimana perasaan orang yang dilempar Allah ke dalam Neraka selama-lamanya karena kita belum sempat menyampaikan perkara ini kepada mereka.

Nabi SAW menangisi kita tiap hari dan selalu mendo’akan kita hingga kakinya bengkak bengkak dan matanya menjadi sembab karena kebanyakan menangis. Ketika hidupnya, Nabi SAW sudah mengatakan kita sebagai kekasih dan mereka yang lebih beruntung dari Sahabat, yang Imannya paling afdhol, karena mereka tidak pernah melihat Aku dan mukjizatku kata nabi, tetapi mereka beriman kepadaku. Kitalah yang dirindukan dan dirisaukan oleh Nabi SAW siang dan malam dalam do’anya. Sebelum beliau wafat menjelang sakratul maut yang di ingatnya adalah umatnya, Nabi SAW bekata kepada Jibril jika ini sakit yang dirasakan umatku maka timpakanlah seluruh sakit umatku sampai hari kiamat kepadaku saja. Inilah fikir dan risau Nabi. Sebelum Nabi SAW wafat kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Nabi SAW adalah “ummati…ummati : umatku, umatku”. Ketika dibangkitkan yang diingat Nabi SAW pertama kali adalah umatnya, bukan istrinya, keluarganya, sahabatnya tetapi umatnya. Ketika umat Nabi SAW berjatuhan di shirath seperti hujan, Nabi SAW menunggu di ujung shirath sambil bersujud kepada Allah berdo’a : Selamatkan umatku, selamatkan umatku ya Allah. Inilah fikir dan risau Nabi terhadap kita. Jika kita duduk-duduk saja nanti ketemu nabi apa yang akan kita katakan kepadanya.

Allah telah mudahkan agama ini untuk kita, beda dengan sahabat yang harus menjalankan agama dengan sempurna 100%. Inilah standard sahabat dalam menjalankan agama, kurang sedikit maka Allah akan turunkan adzab dan dapat menjadi asbab tercampaknya mereka kedalam neraka. Tetapi kalau kita dalam sebuah mahfum hadits cukup dengan 10% saja sudah bisa menjadi asbab kita selamat dari adzab Allah Ta’ala. Tetapi cara dan modelnya harus sama dengan sahabat. 10% dari 1 tahun adalah 40 hari, 10 persen dari 1 bulan adalah 3 hari. 10% dari 24 jam adalah 2.5 jam, dan ini yang harus kita jaga minimal. Yang penting adalah keistiqomahan kita untuk menjaga 10% waktu kita buat agama Allah. Sehingga Fikir Nabi dan Risau Nabi masuk kedalam diri kita.

Penulis : Buya Atha'illah
Copied from

TARGHIB IMAN DAN AMAL

Jika Allah SWT sudah mencintai hambanya maka Allah akan memberikan kepada hambanya itu perkara yang paling penting yaitu Agama. Allah akan mudahkan orang itu untuk amalkan agama. Sebaliknya jika Allah sudah tidak suka atau murka dengan hambanya maka Allah akan jauhkan dia dari amal-amal Agama dan Allah akan matikan dia dalam keadaan bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Nikmat tertinggi dari Allah adalah pertolongan dari Allah dalam melakukan ketaaatan terhadap perintah-perintahNya. Dari 6 Milyar manusia semuanya Allah kasih nafas, penglihatan, pendengaran, detak jantung, sinar matahari, tetapi hanya orang tertentu yang Allah kasih nikmat ketaatan. Hari ini kita suka iri sama yang namanya status dan kebendaan yang dimiliki orang. Jangan sampai salah faham itu semua hanya titipan dari Allah, sebagai amanah, apakah kita bisa dapat dipercaya. Apakah kita bisa menggunakannya sesuai dengan yang Allah mau. Semua yang namanya status dan kebendaan ini, Allah berikan untuk dimiliki oleh semuanya bahkan kepada musuh-musuh Allah sekalipun. Ini yang namnya sifat Rahman, Maha Pemberi, Allah.

Didunia ini siapa yang sanggup mengampunkan dosa, menaikkan derajat, memberikan banyak kebaikan, ini hanya Allah yang bisa lakukan. Ini bisa dilakukan hanya dengan melangkahkan kaki kita ke mesjid lima kali sehari tiap hari. Hanya dengan menjaga sholat berjamaah di mesjid di awal waktu Allah mampu menyelesaikan seluruh masalah kita sebelum dan sesudah mati. Di dunia ini hanya dengan menjaga sholat saja, Allah berikan kita keberkahan Rizki. Sesudah mati Allah akan angkat siksa kubur kita, di Mahsyar diberi buku amal ditangan kanan, melewati shirath secepat kilat, dan masuk surga tanpa hisab. Ini semua masalah yang akan dihadapi semua orang dan yang semua orang cemaskan. Semua dapat Allah selesaikan hanya dengan menjaga sholat.

Namun orang yang dapat melangkahkan kakinya ke mesjid hanya orang-orang yang yang dipilih Allah saja walaupun orang itu berilmu, kuat tenaganya, banyak hartanya, dekat rumahnya dengan mesjid, semua ini tidak ada jaminannya. Walaupun ini kelihatannya mudah tapi tidak semua orang dapat melakukannya, hanya orang-orang pilihan saja. Allah mengundang kita lima kali sehari untuk datang kerumahnya karena ada acara, bagaimana kalau presiden mengundang kita ke Istana untuk menghadiri acara kepresidenan. Hari ini orang mau ketemu presiden aja harus mengeluarkan uang banyak dan usaha yang keras, jadi pejabat dulu, buat yayasan yang besar dulu, buat partai dulu dan lain-lain.

a cukup dengan sujud saja, itu sudah saat yang paling deket dengan Allah, yaitu rajanya para raja dan presiden. Dan ini Allah undang 5 kali sehari. Dan yang dipanggil Allah ini hanya orang beriman saja, yaitu yang ketika dipanggil ia datang. Seperti kita manggil tukang baso, kalau memang yang dipanggil itu tukang baso, maka dia akan datang memenuhi panggilan kita, kalau tidak datang cuek aja berarti dia bukan tukang baso mungkin tukang asongan, bubur ayam, atau yang lain. Begitu juga orang beriman yang dipanggil Allah untuk datang kerumahnya, yang datang dan yang nyaut itulah orang beriman.

Dalam Mahfum Hadits Nabi SAW :

“Jika kamu melihat ada orang yang kerjanya mondar mandir ke mesjid saksikanlah bahwa orang itulah orang yang beriman.”

“Nanti Allah akan bertanya kepada para Malaikat dimana tetangga-tetangganya, lalu para malaikat akan bertanya, “Siapakah tetangga-tetanggamu ya Allah ?” Lalu Allah berfirman, “Tetangga-tetanggaku adalah orang-orang yang memakmurkan mesjidku.”

Hari ini di acara-acara kalau ada artis yang dateng buat pertunjukan maka orang-orang akan ramai-ramai datang. Namun jika dalam acara itu tidak ada amal maka tidak akan ada nilainya disisi Allah. Beda dengan acara mudzakaroh di mesjid, walaupun tidak ada artis yang datang hanya beberapa orang saja tetapi ini punya nilai disisi Allah. Majelis seperti ini akan dihadiri oleh malaikat sebagai tamu yang lebih mulia dari pada artis. Malaikat ini datang beramai-ramai bersusun-susun sampai ke arasy Allah. Tetapi ke acara yang tidak ada amal walaupun banyak artisnya malaikat tidak akan datang. Segala sesuatu mendatangkan nilai disisi Allah jika ada Iman dan Amal. Dunia ini disisi Allah tidak ada nilainya walaupun itu hanya sebelah sayap nyamuk. Kenapa hari ini Allah tidak lepaskan angin sekuat-kuatnya seperti topan, kenapa tanah tidak Allah getarkan seperti gempa yang dahsyat, kenapa gelombang air masih Allah berikan ukuran batasan ketinggian, bumi masih bisa bergelantungan berputar mengelilingi matahari tanpa ada tali atau tiang tetapi tidak bertabrakan, ini semua karena masih adanya orang beriman. Jika tidak ada Iman dan Amal maka Allah tidak akan ragu-ragu menghancurkan semuanya.

Hari ini orang demi yang namanya kesehatan mereka rela pergi keluar negeri habiskan biaya yang banyak korbankan harta benda. Ini dikarenakan kesehatan dimata mereka lebih mahal dan lebih bernilai dari harta benda yang mereka miliki. Berapa banyak orang yang korbankan seluruh hartanya demi kesembuhan dan kesehatan. Berapa banyak orang yang korbankan hartanya agar kencingnya tidak macet lagi, nafasnya bisa normal lagi, penglihatannya bisa pulih lagi, dan lain-lain. Orang dipaksakan berolah raga demi mendapatkan yang namanya kesehatan. Tapi rencana Allah lain, ditengah jalan ketika berolah raga atau dalam pengobatan tau-taunya mati. Maka semua rencana-rencana yang mereka usahakan menjadi sia-sia. Dikubur gak ada iman dan amal maka masalah jadinya. Tidak ada kata sakit lagi atau perlu olah raga lagi, yang ada hanya ada pertanyaan mengenai Iman dan Amal, bukannya ada atau tidaknya berolah raga waktu hidup.

Kini manusia sibuknya hanya memperbaiki keadaan, karena mereka merasa dibalik keadaan ada kebahagiaan. Seperti kalau ada uang pasti bahagia dan kalau tidak ada uang pasti menderita, kalau ada mobil pasti bahagia dan kalau tidak ada mobil pasti menderita. Kalau ada ini dan itu pasti bahagia, kalau tidak ada ini dan itu pasti menderita. Ini sangat tidak benar dan keliru, dan ini yang namanya salah faham. Kebahagiaan manusia itu sebetulnya tidak ada hubungannya dengan keadaan-keadaan. Yang namanya kebahagiaan itu sebenarnya apabila manusia dapat menjalankan perintah-perintah Allah dalam berbagai keadaan. Kalau menurut kita, kini yang namanya kebahagiaan itu masih tergantung pada keadaan-keadaan. Kalau banyak duit kita bahagia, kalau tidak ada duit kita akan susah. Ini yang namanya keadaaan, padahal menurut Allah tidak begitu. Allah dapat membahagiakan siapa saja dalam keadaan apa saja. Dan yang Allah mau adalah agar kita taat dalam segala keadaan, nanti Allah buat keadaan-keadaan untuk bahagiakan kita. Mau ada uang atau tidak ada uang tidak ada masalah. Allah mampu membuat kita senang dalam keadaan susah dan Allah mampu buat kita susah dalam keadaan senang. Seperti nabi SAW dapurnya tidak mengepul selama 3 bulan tetapi setiap pulang beliau berkata Bayyiti Jannati, rumahku surgaku. Dalam keadaan susah Allah mampu memberi kesenangan penghuni surga kepada Nabi SAW. Beda dengan Firaun yang Allah telah buat dia susah dikerajaannya sendiri. Firaun dibalik kesenangan yang nampak Allah telah buat dia menderita dan merasa susah. Jadi Allah mampu melakukan segalanya. Allah Maha Kuasa, Dia yang menciptakan segala sesuatu, selain Allah tidak bisa apa-apa. Allah tidak bergantung pada keadaan-keadaan untuk dapat membahagiakan kita. Allah tidak perlu mahluk, tetapi mahluk perlu Allah. Ini perlu kita yakini.

Kini kalau kita suruh manusia untuk membuat daun siapa yang bisa, sementara ada berapa milyar daun yang Allah telah buat dari jaman Nabi Adam AS sampai sekarang. Bagaimana Bayi yang lahir dari jaman Nabi Adam AS, sampai sekarang, dari matanya, mulutnya, rambutnya, badannya, tingginya, semuanya Allah ciptakan dengan perbedaan-perbedaan, Allah tidak pernah kekurangan stock mata, rambut, mulut, dan lain-lain. Allah Maha Kaya dan kekayaan Allah ini tanpa batas. Allah Maha Kuasa, dan kekuasaannya tanpa batas.

Allah menciptakan segala sesuatu dengan sifat-sifat, dan sifat-sifat ini adalah milik Allah. Air mempunyai sifat menenggelamkan, sifat menenggelamkan ini adalah Allah yang kasih. Sifat panas pada Api, inipun panasnya api atas izin dari Allah Ta’ala. Seluruh sifat-sifat yang ada pada mahluk Allah ini dapat berubah ubah tergantung pada keinginan Allah Ta’ala. Contoh, Api yang panas dapat menjadi menyejukkan dan menyelamatkan bagi Ibrahim AS. Atas perintah Allah api yang mempunyai sifat membakar menjadi menyejukkan dan menyelamatkan bagi Ibrahim AS. Air yang mempunyai sifat menenggelamkan dapat menjadi keras seperti dinding yang dilewati oleh Bani Israil dan Nabi Musa AS. Jadi semuanya ini dapat berubah-ubah tergantung keinginan dari Allah Ta’ala.

Begitu juga Matahari terbit dan terbenam atas aturan Allah Ta’ala. Semua planet yang ada berputar tidak saling berbenturan ini karena yang mimpin adalah Allah Ta’ala, semuanya bergerak atas komando Allah Ta’ala sendiri. Planet-planet dan bintang-bintang yang jumlahnya milyaran bergerak tidak berbenturan padahal tidak ada rel yang mengatur peredaran. Kalau kereta bergerak tidak diatas rel pasti akan terjadi tabrakan. Tapi lihat bintang-bintang, planet-planet, matahari semuanya bergerak tanpa ada relnya. Ini karena semuanya Allah yang pimpin, dan semuanya dibawah komandonya Allah Ta’ala. Coba kalau matahari telat datangnya, atau kalau planet-planet bergerak asal-asalan sesukanya pasti akan berantakan saling tabrakan. Tapi ini semua tidak terjadi karena yang mengaturnya adalah Allah Ta’ala. Tidak ada yang bergerak sendiri-sendiri, semuanya bergerak menurut tertib yang Allah kasih. Allah tidak pernah tidur atau mengantuk dalam pemeliharaannya, dan Allah tidak pernah letih dalam menjaganya. Semuanya dalam 24 jam dibawah pengawasan Allah Ta’ala. Jadi semua yang kita lihat ini dibaliknya ada kekuasaan Allah Ta’ala dan ada aturan Allah Ta’ala. La Illaha Illallah.

Bagaimana Jantung berdetak dalam diri kita, tanpa perlu kita repot-repot ngatur detaknya. Kita tidak perlu pusing mikirin darah yang harus keluar masuk dari jantung sebanyak 12 liter darah per menit, 2200 galon per hari. Ini semua siapa yang ngatur darah keluar masuk, kita tidak bisa merintah jantung tetapi jantung tetap aja bergerak sendiri, dan jumlah darah yang keluar masukpun tidak pernah meleset. Kalau Allah kasih kita urus detak jantung dan ngurusin darah yang keluar masuk mungkin waktu kita habis ngurusin jantung. Jadi Jantung ini berdetak dibawah komando Allah, Allah yang ngatur, dan Allah yang pimpin jantung tersebut. Sekarang berapa milyar Jantung yang Allah atur saat ini. Kalau jantung Allah putuskan untuk berhenti maka tidak ada yang bisa mencegahnya. Semuanya Allah yang pimpin dan semuanya berjalan atas aturan dari Allah Ta’ala. La Illaha Illallah.

Bagaimana dengan Nafas yang keluar masuk ke dalam paru-paru kita, tanpa perlu kita atur-atur. Coba kalau Allah serahkan urusan nafas pada kita, mungkin pas tidur bisa bisa kita kelupaan mengurus nafas kita. Kalau Allah sudah perintahkan paru-paru ini untuk berhenti maka mau kita pompa pake tabung gas pun paru-paru tetap aja tidak akan bergerak lagi.

Bagaimana air masuk ke badan atas aturan dari Allah Ta’ala, kita tidak perlu repot-repot mikirin air harus pergi kesini atau kesana didalam badan. Coba kalau air masuk ke lobang paru-paru, apa jadinya. Jadi mengalirnya air dibadan kita ini atas aturan Allah Ta’ala. Allah yang mimpin dan Allah pulalah yang mengatur. Jadi kita semua ini sangat bergantung kepada Allah Ta’ala. La Illaha Illallah.

Hanya ada satu yang mampu memberikan segala sesuatu yang kita perlukan, yaitu hanya Allah Ta’ala yang mampu lakukan. Allah Ta’ala kasih air, makanan, pakaian, kendaraan, semuanya dari mana asalnya. Manusia hanya bisa merubah-rubah atau mengolah saja tetapi tidak ada yang bisa menciptakan sebagaimana Allah Ta’ala telah ciptakan daun dan tidak ada satu manusiapun yang mampu.

Allah telah ciptakan tanah dan dari tanah yang sama keluar berbagai macam tumbuhan, buah-buahan, makanan dan lain lain, tidak ada habis-habisnya. Semuanya Allah yang mengeluarkan dari tanah dan Allah tidak pernah kekurangan dan tidak pernah kehabisan. Tidak ada dalam kamus Allah yang namanya kekurangan stock. Dari tanah yang sama bisa mengeluarkan padi, jagung, buah, dan lain-lain. Kita tinggal menanam selebihnya Allah yang melakukan, yang mendatangkan panas yang cukup, hujan yang cukup, kesuburan tanah. Ini semuanya hanya Allah yang mengerjakan dan hanya Allah yang mampu. Kita tinggal nunggu dan memodifikasi sedikit, seperti dari serat bambu menjadi kertas, dari karet menjadi ban, dan lain-lain. Tetapi pada dasarnya semuanya dari Allah. Coba kalau manusia disuruh buat karet, kapas, gandum, mana bisa. La Illaha Illallah.

Sekarang yang kita perlu belajar adalah yakin yang betul tidak cukup dengan hanya tau saja. Apa yang perlu kita yakini ? yang perlu kita yakini adalah Hanya Allah yang bisa selain Allah tidak bisa apa-apa. Semua orang pingin bahagia, pingin merasa cukup, tidak ada yang mau susah. Ini semua hanya Allah yang tau persis caranya, selain Allah tidak ada yang tau bagaimana caranya.

Dalam Hadits Qudsi Allah berfirman Mahfum :

“Wahai hamba-hambaku Aku punya Kehendak kalian punya keinginan. Jika kalian penuhi KehendakKu maka Aku akan penuhi Keinginanmu. Jika kalian tidak penuhi KehendakKu maka aku akan persulit dirimu mencapai keinginanmu. Tetapi percayalah hanya KehendakKu yang akan terjadi.”

Kalau kita mau ikuti kehendak Allah nanti Allah akan bantu kita dan penuhi keinginan kita. Semua keadaan nanti akan Allah buat untuk memenuhi keinginan kita. Kita harus percaya dan yakin kalau Allah bisa buat apa saja. Jangan terlalu percaya pada akal, apa yang diakal belum tentu bener. Kini karena akal, kehebatan Allah jadi hilang. Kini mana ada orang yang percaya ada orang lahir tanpa ibu dan bapak, tapi Allah telah ciptakan Adam AS tanpa ibu dan bapak. Kini tak ada yang akan percaya kalau laki-laki bisa melahirkan perempuan, padahal Allah telah lahirkan Hawa AS dari Adam AS. Begitu juga tentang anak lahir tanpa bapak, seperti Isa AS. Jadi pertama kita perlu yakini dulu kalau Allah kuasa dan hanya Allah yang bisa selain Allah tidak bisa apa-apa. Jangan sampai salah bergantung dan jangan sampai tertipu. Semuanya tidak ada yang memberikan apa yang kita perlukan, yang bisa hanya Allah.

Kunci kesuksesan itu hanya ada pada Allah Ta’ala, jadi kini yang perlu kita lakukan adalah buat sambungan yang benar dengan Allah Ta’ala. Kalau kita ada hubungan baik dan sambungan yang benar dengan Allah Ta’ala maka semuanya akan beres, tidak ada masalah. Hanya dengan cara mempunyai sambungan yang benar dengan Allah baru Allah berikan kesuksesan. Kesuksesan itu tidak Allah letakkan pada keadaan-keadaan seperti miskin atau kaya, sakit atau sehat. Kesuksesan itu adalah ketika Sehat kita taat dan ketika sakit tetap taat, ini baru sukses. Ketika kaya taat dan ketika miskinpun tetap taat, ini baru sukses. Punya sambungan yang baik dengan Allah maka hidupnya akan baik. Tetapi jika tidak ada sambungan dengan Allah walaupun punya banyak harta dan kekuasaan yang luas maka hidupnya akan penuh masalah seperti Firaun dan Qorun.

Agar kita bisa nyambung dengan Allah Ta’ala makanya kita perlu Agama. Hanya dengan Agama kita bisa nyambung dengan Allah Ta’ala, karena Agama ini isinya adalah keinginan dan kehendak Allah. Nanti hanya Orang yang nyambung dan punya hubungan baik dengan Allah Ta’ala yang akan dimenangkan oleh Allah Ta’ala. Bagaimana Ibrahim AS punya sambungan yang benar dan hubungan baik dengan Allah Ta’ala sehingga api yang panas dibuat sejuk oleh Allah Ta’ala. Ini secara logika tidak kena dan tidak mungkin, tetapi bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin, semuanya mungkin2x aja, dan Allah masih banyak cara lagi yang kesannya tidak mungkin oleh akal. Bagaimana Yunus AS Allah Ta’ala pelihara dalam perut Ikan di kedalaman laut. Ini semua dapat terjadi karena mereka punya hubungan baik dan sambungan yang benar dengan Allah Ta’ala. Yang paling penting Iman dan Amal jika ini ada maka semuanya akan beres.

Allah dapat melakukan sesuatu yang bertentangan dengan akal sesuka Allah. Walaupun secara logika tidak masuk diakal tetapi apa yang Allah telah buat ada kenyataan dan faktanya. Seperti kisah pemuda yang hidup tanpa minum dan makan 309 tahun tertidur di goa. Ini siapa yang bisa percaya kalau ada manusia dapat hidup tanpa minum dan makan. Jadi siapa yang menghidupkan ? Allah. Atau seperti Bayi Musa AS yang dicari-cari Firaun musuh Allah, yang sampai-sampai membuat Firaun membunuh 70.000 bayi tiap tahunnya agar Bayi Musa AS dapat dimusnahkan. Tetapi apa yang Allah buat, Allah mampu buat bayi Musa AS selamat dari pembunuhan massal bahkan dibawa langsung oleh Allah ke istana Firaun dan dirawat dibawah naungan Firaun laknatullah Alaih. Ini siapa yang bisa buat seorang Raja merawat musuhnya sendiri. Ini semua adalah kerjaan Allah, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Bagaimana Nabi SAW dapat selamat dari kejaran 100 pedangnya pendekar-pendekar terbaik orang Quraish hanya dengan sarang laba-laba. Padahal sarang laba-laba ini rumah yang paling rapuh kena tiup angin saja bakal rusak dan pendekar-pendekar Quraish itu kalau melihat kebawah kakinya maka Nabi SAW dapat terlihat tetapi tidak ada yang mampu menundukkan kepalanya untuk melihat ke bawah. Ini menunjukkan betapa lemah logika dan kekuatan manusia disisi Allah. La Illaha Illallah.

Saat ini, yang paling penting adalah bagaimana kita fikirkan diri kita agar bisa menjadi hamba yang baik. Jika kita bisa menjadi hamba yang baik maka nanti Allah akan berikan kita kebaikan-kebaikan yang banyak sekali, di dunia dan di akherat. Kini kita lihat anjing aja yang baik dengan tuannya, maka tuannya akan menyediakan segala kebutuhannya dan akan merawatnya. Dia akan dimandikan, di sediakan makanannya, sakit dibawa kedokter hewan, bahkan kini ada salon dan restoran untuk anjing agar anjing ini bisa senang. Beda dengan anjing liar, tidak patuh pada majikannya, maka dia akan dibiarkan, makan nyari sendiri susah-susah, dikejar-kejar orang mau dipukulin, tidak ada yang ngerawat, tidurnya tidak enak. Bagaimana dengan manusia jika dia mau jadi hamba yang baik, maka semuanya akan Allah bereskan kebutuhan dan masalahnya.

Yang paling baik adalah bagaimana kita ini jadi hamba saja yang baik dijamin tenang dan senang, Hayatun Thoyibah. Contohnya, seorang anak kecil ngtidak pernah pusing mikirin listrik, air, makan, baju baru, karena ia yakin orang tuanya akan menyelesaikan segala urusannya. Nah kalau kita punya keyakinan seperti ini maka Insya Allah kita bisa mendapatkan Hayatun Thoyibah. Nabi SAW pernah berkata :

“Allah lebih mencintai hambaNya melebihi seseorang Ibu kepada anaknya 70 kali lipat”

Seharusnya dengan hadist ini kita bisa lebih santai menghadapi hidup ini melebihi santainya seorang anak kecil. Karena kita yakin Allah akan menyelesaikan masalah-masalah kita sebagaimana seorang ibu menyelesaikan masalah anaknya.

Inilah yang diajak Nabi-nabi dari dulu dan ini yang Allah mau kita jaga. Sampai-sampai Allah kirim 124.000 nabi-nabi agar kita semua dapat selamat dan punya yakin yang benar. Selamat dari adzab Allah di dunia dan di akherat. Jangan sampai tertipu dan jangan sampai salah bergantung, inilah yang diajak nabi-nabi. Gantungkan diri kita hanya pada Allah karena dari dulu orang-orang yang menang, sukses, dan bahagia dunia dan akherat hanya orang-orang yang punya hubungan baik dengan Allah dan gantungan yang benar. Kalau ada perlu minta aja langsung pada Allah, Allah seneng diminta. Tidak usah takut, kita ada Allah yang semakin diminta semakin seneng. Allah hanya perlu kita yakin seperti yakinnya anak kecil, yaitu yakinnya anak pada orang tuanya. Uang tidak bisa buat apa-apa, kalau kita dikejar anjing apakah anjing dapat disogok ? La Illaha Illallah.

Di alam arwah Allah telah bertanya pada semuanya, “Apakah Aku Rabbmu ?” semua mengakui dan sepakat bahwa Allah adalah Rabb kita. Jadi dunia ini adalah tempat untuk menguji apa yang telah kita sepakati dan kita akui di alam arwah. Masalahnya kebanyakan dari kita setelah sampai di alam dunia, Allahnya tidak keliatan. Allah tidak pernah berubah, tetapi kitanya yang berubah. Dari jaman Adam AS sampai sekarang Allahnya tetap sama dan tidak berubah, tetapi kitanya yang selalu berubah-ubah kepada Allah. Keyakinan kita berubah-ubah ketika di dunia. Nanti di kubur akan ditanya lagi, kalau jawabannya benar maka akan dikatakan benar. Kalau jawabannya bohongpun nanti Allah akan kasih tau.

Orang yang beragama, baik ibadahnya, ini tidak otomatis dia jadi kaya, atau pangkat naik. Tetapi agama ini adalah memberikan keberkahan yaitu menghilangkan ketakutan dan kesusahan walapun miskin. Dengan agama ini Allah akan masukkan rasa kaya walaupun dia hidup miskin. Sekarang masalahnya adalah hati yang miskin, hati yang selalu merasa kurang, tidak pernah cukup, selalu was-was. Inilah masalah semua orang hari ini. Tapi karena Allah ini Maha Baik maka Allah berikan kita agama. Jadi agama itu adalah keberkahan dan ketenangan bukan untuk mendatangkan kekayaan atau kenaikan pangkat. Modal hidup yang terbaik adalah bagaimana kita dapat hadirkan Allah dalam hati ini dengan Agama. Agama adalah tertib hidup yang Allah kasih untuk manusia. Kalau matahari tidak mau ikut tertib yang Allah kasih, bintang tidak mau ikut tertib yang Allah kasih, maka yang ada kerusakan. Begitu juga kita jika kita tidak mau ikut tertib yang Allah kasih maka kita akan rusak dan merusaki. Karena tanpa agama hati orang ini akan rusak walaupun hatinya dipenuhi seluruh isi langit dan bumi, tetap aja tidak akan pernah merasa tercukupi atau terpuasi, selalu merasa kurang. Kalau hati udah rusak maka rusaklah seluruhnya. Hidupnya akan rusak dan merusaki. Banyak orang yang kelihatan sukses dari kebendaan dan pangkat tetapi susah hatinya. Ini karena tidak nyambung dengan Agama. Tetapi kalau ada Agama hati orang ini akan baik. Jika baik hatinya maka akan baik badannya, dan kehidupannya. Hati ini akan tenang, tidak stress, tidak merasa susah dan sedih. Tenang aja, kan ada Allah. La Illaha Illallah.

Dunia ini hanya tempat untuk persiapan untuk kehidupan yang abadi, tempat untuk usaha. Sedangkan akherat adalah tempat untuk menerima hasil atau gaji. Sukses dan gagalnya seseorang nanti di akherat bukan di dunia. Banyak orang kelihatan dari segi kebendaan sukses ternyata susah. Firaun dan Qorun dari segi kebendaan dan kekuasaan kelihatannya sukses tetapi ternyata didunianya saja sudah menderita, apalagi setiap ketemu Musa AS, selalu keluh kesah. Kehidupan yang sukses sebenarnya adalah kehidupan yang dapat mengantarkan kita ke surganya Allah. Daripada hidup terkenal, kaya raya, dan berkuasa tetapi ujungnya masuk neraka, ini namanya kegagalan.

Dunia ini bukannya tempat untuk memenuhi kemauan kita, tapi tempat untuk bersabar atas keinginan-keingan kita. Sekarang ini adalah tempat untuk ikuti maunya Allah, nanti Allah baru penuhi maunya kita di surga. Nanti akan ada satu kesempatan Allah akan sempurnakan seluruh kemauan kita, sesuka kita. Tapi sekarang kita sempurnakan dulu maunya Allah. Dunia ini hanya tempat ujian dan penjara bagi orang beriman. Tidak ada kebebasan bagi orang beriman selama di dunia. Semuanya harus ikut aturan seperti dalam penjara. Bebas nanti kalau masuk surganya Allah. Didunia ini kita di uji untuk ikuti perintah Allah yang kelihatan hasilnya. Kalau dilihatin hasil dari 27 derajat sholat maka kontan mesjid akan ramai jadi tempat antrian. Bahkan kini yang taat terlihat susah dan yang tidak taat telihat senang. Ini karena dunia ini adalah tempat untuk bersabar bagi orang beriman, senangnya nanti di akherat.

Seperti dalam suatu kisah ada 2 orang pemancing yang satu kafir yang satu beriman. Ketika mereka pergi mancing ketempat yang sama, pada waktu yang sama, dengan perlengkapan yang sama. Orang beriman mengucapkan bismillah ketika memancing dan yang kafir mengucap nama tuhannya. Namun ketika selesai memancing yang kafir mendapatkan hasil yang banyak sedangkan orang beriman tidak mendapatkan satu ekor ikanpun. Malaikat bertanya kepada Allah mengapa demikian. Ini karena hasil jerih payah orang kafir ini di balas di dunia sedangkan orang beriman di akherat. Lalu Allah perlihatkan Neraka sebagai tempat kembalinya orang kafir dan Allah perlihatkan surgabuat orang beriman yang sabar. Maka para malaikatpun sepakat bahwa tidak ada artinya susah di dunia bagi orang beriman dibanding kesenangan yang Allah berikan di akherat. Dunia tempat sandiwara saja. Kini dipanggil adzan tidak ada untungnya mendingan dagang di pasar banyak untungnya. Nanti dulu lihat akhirnya, hanya orang-orang yang mau meyakini bahwa keuntungan hanya ada di balik amal yang akan bahagia pada akhirnya. Hasil dari pasar hanya bisa dinikmati ketika hidup, tetapi amal yang sedikit dapat dinikmati sampai mati.

Alam dunia ini seperti mimpi kata ulama. Di dalam mimpi seakan-akan kita memeluk harta kita seperti kenyataan, setelah bangun ternyata hanya mimpi yang dipeluk bantal. Begitu juga di kubur seperti terjaga dari mimpi, baru nangis-nangis menyesal, tidak ada gunanya lagi. Nanya mana hartanya, mana rumahnya, mana mobilnya, kata malaikat, “mimpi kamu.” Ada yang mimpi senang tau-tau setelah bangun dalam keadaan susah. Ada yang mimpi susah setelah bangun dalam keadaan senang. Ada di akherat orang yang taat tetapi hidupnya susa, tetapi setelah diperlihatkan Kenikmatan Surga oleh Allah malah merasa dirinya tidak pernah susah hidupnya. Begitu juga kesenangan kehidupan orang kafir di dunia setelah di perlihatkan Neraka merasa tidak pernah hidup senang ketika di dunia.

Sebenarnya yang kita perlukan adalah bukannya harta, pangkat, ekonomi yang maju, tetapi Ridho Allah, hanya ini tidak ada yang lain. Kalau Allah Ridho pada kita maka semuanya akan beres. Untuk mendapatkan Ridho ini perlu usaha, sebagaimana para sahabat berusaha mendapatkan Ridho Allah. Akan datang masa dimana seluruh yang kita usahakan akan hilang dan yang dulu seperti cerita akan nampak nyata menjadi kenyataan. Kalau mau lihat balasan terhadap amal nanti di akherat kalau diminta sekarang rugi karena apa yang Allah berikan di akherat tidak ada bandingannya. Kita ini punya kebiasaan mintanya buru-buru, ini kerugian. Padahal yang Allah mau kita ini bersabar dulu. Orang-orang yang masuk surga ini nanti adalah orang-orang yang mau bersabar ketika di dunia. Sedangkan Surga ini adalah tempat untuk memuaskan hawa nafsu bahkan dilipat gandakan oleh Allah nafsu kita menjadi 100x. Jangan sampai tertipu dengan yang ada di dunia.

Apa yang ada di Surganya Allah tidak ada bandingannya dan tidak sebanding dengan yang ada di dunia. Rugi, bangkrut, kalau mau ditukar dengan dunia, inilah orang-orang yang tertipu dan mau dibodohi.

1. Di dunia perempuan yang cantik kalau berumur tua sudah tidak dapat mendatangkan selera lagi. Kalau tidak mandi bisa bau apek, kalau tidak dandan tidak keliatan cantiknya. Kalau kentut baunya bukan main. Andaikata kita bisa melihat isi perutnya, pasti jadi jijik kita jadinya. Kadang-kadang suka ngelawan pada kita. Tapi kalau di Surganya Allah, dimana wanita langsung dibuat oleh Tangan Allah sendiri yang bersih dan suci. Dikatakan kalau Bidadari ini diturunkan kedunia maka semua laki2x akan berkelahi memperebutkannya. Bapak rela bunuh anak dan anak rela bunuh bapaknya demi bidadari tersebut. Yang mati akan hidup jika diperlihatkan bidadari tersebut. Pertama kali ngeliat bidadari kita akan terpana, bengong selama 40 tahun sangking cantiknya, mengagumi kecantikan bidadari tersebut, itupun baru pembantunya. Orang tersebut harus melewati beberapa pintu untuk bertemu dengan bidadari yang sebenarnya itupun setiap melewati pintu maka setiap bidadari yang ditemui jauh lebih cantik dari yang sebelumnya. Yang dikatakan kulitnya ini seperti telur yang baru dikupas kulitnya. Tidak pernah disentuh dan dijamah oleh siapapun. Matanya bagaikan mutiara menyejukkan dan menyenangkan jika dipandang. Tidak pernah mengeluarkan bau-bau yang tidak menyedapkan. Suaranya indah, parasnya menawan. Semakin dipandang semakin bertambah kecantikannya. Bajunya saja ada 70 lapis dan bila setiap lapisan dibuka akan bertambah kenikmatannya. Tidak akan pernah melawan kepada suaminya, selalu taat dan selalu dalam kondisi menghibur suaminya. Hebatnya saat ini mereka merindukan kita. Dan disana kita akan mempunyai Nafsu yang dilipat gandakan oleh Allah, syahwat yang tidak pernah melemah.

2. Di dunia untuk pembantu saja, kita harus cari dulu yang benar setia dan jujur. Belum lagi malasnya kalau kerja, mukanya masem melulu kalau disuruh kerja. Tapi nanti di Surganya Allah, Allah akan berikan pelayan-pelayan yang menyenangkan dipandang mata, rajin-rajin. Pakaiannya bagus-bagus dari jenis laki-laki dan perempuan. Mereka akan senantiasa melayani kita. Tidak ada lagi tuh pelayan yang tidak jujur, yang tidak setia, yang mukanya tidak enak dilihat. Semuanya ada disana untuk menyenangkan kita. Semuanya pelayanan kelas 1, makanan apapun, kendaraan apapun, baju macam apapun yang akan kita minta akan diberikan, semuanya kelas satu.

3. Di Surga, rumah yang Allah Ta’ala berikan jauh lebih baik dari pada yang ada di dunia bahan materialnya, designnya, luasnya, keindahannya, tidak sebanding dengan yang ada di dunia. Cukup dengan usaha yang sedikit, satu Subhanallah saja, Allah mampu berikan rumah yang jauh lebih baik di Surga, seperti kerajaan dan kita adalah rajanya. Disini kalau mau buat rumah usahanya musti keras, dan dengan kredit lagi. Bahannya hanya terbuat dari koral bata, dan kayu. Tapi disurga, Allah akan bangunkan Istana yang bahannya terbuat dari mutiara, emas dan permata. Didalam Istana itu kita bisa memasukkan aliran sungai atau mengeluarkannya sesuka hati kita. Lantainya ada yang terbuat dari kaca sehingga kita bisa melihat air mengalir dibawahnya. Tangganya terbuat dari emas permata, dan didalam Istana itu terdapat tujuh puluh kamar, yang didalamnya telah siap bidadari-bidadari melayani kita disetiap kamar. Belum lagi makanannya bermacam-macam yang setiap makanannya dapat mempunyai tujuh puluh rasa. Setiap dicoba semakin bertambah kenikmatannya.

4. Belum lagi kemampuan kita yang Allah kasih di Surga seperti Tingginya nabi Adam AS, Parasnya Yusuf AS, Suaranya Daud AS, Kekuatannya Musa AS, Umurnya Isa AS, Akhlaqnya Rasullullah SAW dan ditambah satu kelebihan lagi yang kelebihan ini tidak pernah Allah kasih kepada mahluk lain selain manusia. Yaitu kekuatan “Kun Fa Ya Kun” nya Allah, apapun yang kita minta disurga akan terjadi.

5. Luasnya Surga, bagi yang terakhir masuk Surga saja ini Allah berikan 10x lipat lebih luas daripada langit dan bumi. Ada yang masuk seperti bangsawan, ada yang masuk seperti raja-raja tergantung pada amalnya masing-masing. Semuanya disambut disurganya masing-masing.

Jadi jangan sampai tertipu dengan dunia yang ada sekarang dan jangan mau dibodohi. Allah pingin kita masuk Surga makanya Allah kirim sampai dengan 124.000 Nabi. Kita harus pikirkan ini dari sekarang. Prinsip hidup itu bukannya bagaimana nanti ? tapi nanti bagaimana ? kecuali yang tidak mau masuk surga yaitu orang tertipu dan dibodohi oleh dunia. Inilah mengapa Ali RA pernah berkata dia pernah mendengar Nabi SAW bersabda Mahfum :

“Tidak sempurna Iman kamu sebelum kamu mempercayai Apa yang ada ditangan Allah lebih baik daripada yang ada ditanganmu.”

Iman ini walaupun sebesar biji debu, Allah akan gantikan kerajaan 10 kali lipat lebih besar dari dunia dan seisinya. Padahal untuk orang yang keluar dijalan Allah ini setiap pahala dikali 700.000 kali itu buat yang belum nikah, kalau sudah dikali 70 kali lagi, jadi 49.000.000 pahala. Sedangkan satu pahala saja Allah kasih 10x lebih besar dari langit dan bumi. Jawabannya Tidak pernah terdengar oleh telinga, tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terbesit dalam hati. Inilah Kehebatan, Kekuasaan, dan Kekayaan Allah.

Iman ini lakunya selama masih belum kelihatan, masih ghaib, lalu kita percaya dan kita takut ini Iman namanya. Seperti percakapan antara Allah dan malaikatnya yang baru datang mengunjungi manusia yang baru selesai buat amalan. Allah bertanya kepada malaikat walaupun Allah Ta’ala telah mengetahuinya, firmannya, “Dari mana kalian ?” Malaikat menjawab, “Kami dari mengunjungi hambamu, yang mengingatmu.” Lalu Allah bertanya, firmannya, “Apakah mereka pernah melihatku ?” jawab malaikat, “Tidak pernah ya Allah.” Allah berfirman kembali, “Bagaimana jika mereka melihatku ?” malaikat menjawab, “Mereka akan tambah rajin beribadah kepadamu.” Allah berfirman kepada para malaikat, “Apa yang mereka Minta ?” Malaikat menjawab, “Surgamu ya Allah”, Allah berfirman, “Apakah mereka pernah melihat Surga ?” jawab Malaikat, “Belum pernah ya Allah”, Allah berfirman, “Apa yang mereka takuti ?” jawab malaikat, “Nerakamu Ya Allah”, Allah berfirman, “Apakah mereka pernah melihat Neraka tersebut?”, Malaikat menjawab, “Belum pernah ya Allah.” Lalu Allah berfirman, “Maka saksikanlah oleh kalian aku akan memberikan apa yang mereka minta dan menjauhkan mereka dari apa yang mereka takuti.” Ini baru namanya Iman yaitu ketika belum melihat tapi meyakininya.

Tapi nanti di akherat ketika semua yang ghaib dan yang terdengar seperti cerita ketika di dunia telah menjadi kenyataan, baru orang-orang semuanya sepakat, “Ya Allah kami melihat dan kini kami bersaksi, kirimlah kami balik ke dunia, kami akan beriman dan beramal kepadamu.” Tetapi ketika itu yang namanya Iman dan Tobat sudah tidak laku lagi. Penyesalan tidak akan diterima dan kita tidak akan dibalikkan ke dunia lagi. Setetes air mata yang keluar karena Allah ketika di dunia, ini dapat memadamkan api neraka. Tetapi di akherat nanti nangis tidak ada gunanya, walaupun air mata itu keluar banyak sampai menjadi air mata darah lalu menjadi nanah, tetap aja tidak dipe duliin oleh Allah. Semua pintu tobat sudah di tutup oleh Allah. Bahkan Allah tidak suka dipanggil-panggil namanya oleh mereka, ahli neraka, sehingga suara mereka Allah ubah menjadi suara keledai.

Sedangkan kini kita dalam program transmigrasi di akherat. Orang-orang sibuk mudik pulang kampung. Padahal kamupung kita yang sebenarnya adalah akherat. Dunia ini adalah tempat kerja untuk Allah, apa yang Allah mau harus kita ikuti. Nanti di akherat tinggal kasih laporan kerjanya. Sahabat nanya kepada Rasullullah siapakah orang yang palin pinter itu. Rasullullah SAW tidak menjawab orang yang punya titel, harta yang banyak, perusahaan yang besar, rumah yang mewah, pangkat yang tinggi bukan itu. Tetapi Rasullullah SAW menjawab orang yang pintar itu adalah orang yang senantiasa mengingat mati. Dengan begitu dia akan mempersiapkan amalnya untuk hari nanti. Tapi masalahnya kini banyak dari kita yang over confidence, terlalu yakin, terhadap Iman kita menjelang sakratul maut, merasa aman saja. Padahal menjelang sakratul maut ini tidak ada jaminan orang mampu meninggal dengan membawa Iman. Jadi kita kini jangan merasa aman dulu dengan keadaan Iman kita. Umar RA saja yang sudah dijamin Surganya oleh Allah Ta’ala masih merasa takut akan kondisi Iman dan Amalnya menjelang mati. Dia bilang, “Andaikata dosa Umar seimbang dengan kebaikan yang Umar dibuat maka itu telah cukup bagiku.” Apalagi kita kini yang belum ada jaminannya.

Mati dan Akherat merupakan urusan yang paling penting saat ini. Ketika kita sedang makan untuk hidup tiba-tiba kantor manggil, lalu makan kita tinggalkan karena panggilan kantor lebih penting. Begitu juga ketika di kantor, istri sakit manggil kita, lalu kita pulang karena panggilan istri lebih penting. Dan mati ini perkara yang pasti dan perkara yang lebih penting dari semuanya. Tidak bisa ditunda-tunda, dan tidak bisa kompromi dengan malaikat maut. Orang yang pinter ini adalah orang suka inget mati dan mempersiapkan diri untuk mati. Bukannya mempersiapkan harta untuk mati, rumah besar, pakaian-pakaian yang indah, ini semua tidak akan laku di kubur.

Di dunia ini tidak ada yang pasti, yang pasti hanya mati. Orang kini bisa kaya, besok tidak ada jaminan dia masih bisa dalam keadaan kayak bisa aja jatuh miskin karena utanglah, bangkrutlah. Saat ini kita bisa dalam keadaan sehat, tetapi semenit dari sakarang, sejam dari sekarang, kita bisa jatuh sakit. Hari ini kita berpangkat, tau-taunya besok kita dipecat, dan lain-lain. Yang pasti hanya Mati. Sahabat melangkah dengan kaki kiri tetapi tidak yakin masih bisa melangkah dengan kaki kanan. Tetapi kini kita sukanya merancang jauh-jauh kedepan, 5 tahun lagi, 10 tahun lagi. Padahal semua ini tidak ada jaminan. Ini namanya panjang angan-angan. Kita akan dibangkitkan sebagaimana kita dimatikan. Hidup penuh amal dan ketika mati dalam keadaan beriman dan membawa amal maka bangkit akan dalam keadaan beriman dan membawa amalan. Tetapi jika hidup penuh maksiat dan mati dalam keadaan membawa murka Allah maka ketika dibangkitkan dia akan bangkit dengan membawa murka Allah dan membawa dosa-dosa maksiatnya.

Hazrat Ibnu Umar RA, memberi nasehat :

“Ketika kamu dipagi hari janganlah menunggu waktu malam, ketika kamu dimalam hari janganlah kamu menunggu waktu pagi. Persiapkan dirimu untuk masa sakitmu ketika masih sehat dan persiapkan bekalmu untuk mati ketika kamu masih hidup.”

Jadi jangan nunggu-nunggu lagi dalam beramal kapan ada waktunya kerjakan, karena waktu ke depan tidak ada jaminannya. Sahabat Saad bin Abi Waqqash RA ditanya Nabi bagaimana dia sholat ? Saad RA menjawab saya sholat Ashar seakan-akan saya tidak akan dapat hidup sampai Maghrib. Saya sholat maghrib seakan-akan saya tidak akan hidup sampai waktu Isya, dst. Bahkan ada Sahabat yang berkata saya salam kekanan seakan-akan saya tidak bisa salam ke kiri. Itupun masih dibilang panjang angan-angan oleh Rasullullah SAW.

Hari ini dibagi 3 :

1. Kemarin Tidak akan kembali lagi sampai kapanpun
2. Hari Esok Tidak ada jaminan masih hidup, panjang angan-angan
3. Saat ini Waktu terbaik untuk beramal

Ali RA berkata :

1. Jika hari ini sama dengan hari yang kemarin, rugi namanya.
2. Jika hari ini lebih buruk daripada hari kemarin bangkrut namanya
3. Jika hari ini lebih baik dari hari kemarin, ini baru beruntung

“Demi Masa, Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian kecuali orang yang beriman, beramal sholeh, dan yang saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.” ( Al Ashr : 1-3 )

Menurut Allah semua manusia dalam keadaan merugi karena mereka tidak bisa memanfaatkan waktu dalam beramal. Amal yang tidak dilakukan dalam waktu yang telah lewat tidak akan bisa dapat ditebus, kita hanya dapat beramal untuk waktu yang sekarang. Waktu yang akan datang tidak ada jaminan. Jadi kita perlu memikirkan Iman kita dan amal kita saat ini. Iman dan Amal penting tetapi usaha atas Iman dan Amal lebih penting lagi. Iman dan Amal tidak bisa datang dengan membaca buku tetapi harus lewat pengorbanan. Ini resep dari Allah. Jika pengorbanan kita diterima maka Allah akan memberikan kita kefahaman-kefahaman dan kekuatan untuk mengamalkan agama secara sempurna. Kini mau makan harus usaha cari makan, mau uang harus usaha cari uang. Tidak bisa uang dan makanan datang sendiri, ini sunatullah. Caranya dengan meninggalkan rumah. Begitu juga dengan Iman dan Agama. Tidak bisa datang sendiri, harus diusahakan. Sebagaimana para Nabi dan sahabat usaha atas Iman dan Amal, yaitu dengan pengorbanan, tinggalkan rumah, anak, dan isteri.

Iman dan Amal ini seperti Iklan, tidak bisa dengan mendengarkan saja atau melihat saja, tetapi harus dipraktekkan. Seperti Ikaln pepsodent, kalau mau tau kegunaannya maka harus dibeli dan dipake, tidak bisa dengan hanya melihat iklannya saja. Kalau kita mau Iman dan Amal maka harus segera praktek, nanti Allah kasih tau kegunaannya.