Selasa, 30 November 2010

Kemunduran Umat Islam dan Cara Memperbaikinya

Lebih dari 1350 tahun yang lalu, ketika dunia ini telah dipenuhi oleh kekufuran, kegelapan, kebodohan, dan kejahilan, maka dari balik pegunungan Batha (Makkah) memancarlah nur hidayah yang menembus daerah Timur, Barat, Utara, Selatan, sehingga seluruh penjuru dunia disinari dengan nur hidayah tersebut. Hanya dalam waktu singkat, yaitu selama 23 tahun, Nabi Muhammad saw. dapat membawa manusia ke puncak kemajuan yang tiada bandingnya dalam sejarah dunia. Dan pelita hidayah, perdamaian, serta kejayaan berada di tangan kaum muslimin, sehingga dengan sinarnya, mereka selalu berjalan di puncak kemajuan yang belum pernah dicapai sebelumnya. Dengan cahaya hidayah tersebut, seluruh dunia berada di bawah kekuasaan kaum muslimin selama berabad-abad sehingga tidak ada kekuatan yang berani menantang mereka. Kalaupun ada, setiap kekuatan yang menentang itu akan dihancurkan hingga ke akar-akarnya. Ini merupakan kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Namun demikian, semua itu adalah cerita lama yang jika diceritakan terus menerus memang akan menghibur hati, tanpa ada faedah dan manfaatnya, selama kehidupan orang-orang terdahulu itu hanya kita simpan dalam kenyataan dan kejadian kita pada saat sekarang ini.

Dari sejarah kehidupan kaum muslimin pada tiga belas abad yang silam dapat kita ketahui bahwa umat Islam adalah satu-satunya pemilik dan penguasa kemuliaan, keagungan, keberanian, dan kehebatan serta kekuatan. Namun, bila kita beralih dari lembaran sejarah tersebut dan melihat keadaan yang terjadi sekarang ini, maka kaum muslimin berada dalam keadaan yang sangat rendah dan hina, miskin papa tanpa memiliki kekuasaan ataupun kekayaan, tanpa kewibawaan dan kekuatan. Tidak ada kerjasama, persaudaraan, dan kasih sayang, dan tidak lagi memiliki adab yang baik maupun akhlak mulia, juga tidak ada lagi amal perbuatan yang baik. Segala keburukan ada pada diri kita, sedangkan kebaikan sangat jauh.

Musuh-musuh kita sangat bergembira dengan kehinaan kita ini, kelemahan-kelemahan kita diperlihatkan dengan terang-terangan dan kita dijadikan bahan tertawaan. Tidak cukup sampai di situ, bahkan para pemuda kita yang telah mendapat pendidikan gaya baru telah berani mempermainkan asas-asas agama yang suci ini dan menentangnya, bahkan syariat yang suci ini dianggap tidak layak untuk diamalkan, sia-sia, dan tidak ada gunanya. Sungguh mengherankan, kaum yang telah membuat kenyang seluruh dunia, mengapa justru kehausan? Kaum yang telah mengajarkan adab dan kebudayaan, mengapa sekarang justru tidak beradab dan berbudaya?

Para tokoh kaum muslimin pun telah banyak memikirkan hal ini dan telah mencoba dengan berbagai cara untuk memperbaiki keadaan ini. Tetapi, semakin diobati, semakin parah penyakitnya. Sekarang, apabila keadaan sudah lebih buruk dan pada masa yang akan datang mungkin akan semakin buruk, maka jika kita hanya berdiam diri dan tidak berusaha sungguh-sungguh untuk mencegahnya, ini merupakan suatu kesalahan besar. Sangat penting bagi kita sebelum mulai melangkah untuk memikirkan penyebab kehinaan dan keburukan yang terjadi dewasa ini. Usaha untuk memperbaiki keruntuhan dan kegagalan kita telah banyak diucapkan. Dan untuk menyelesaikannya pun sudah banyak cara yang ditempuh, namun setiap cara yang diusahakan selalu tidak sesuai dan tidak mencapai kesuksesan. Sehingga, para pemikir agama telah jatuh dalam keputusasaan dan kecemasan.

Sebenarnya, sampai sekarang pun belum diketahui dengan pasti apa penyakit yang tengah diderita oleh umat ini. Hal-hal yang dijelaskan selama ini sebenarnya bukan merupakan asal penyakit yang sesungguhnya, namun hanya akibat dari penyakit tersebut. Karena kita tidak bertawajjuh terhadap penyakit yang sebenarnya, pengobatan dan perbaikan pun bukan ke atas sumber penyakit, sehingga tidak mungkin dan mustahil dapat memperbaiki akibat-akibat yang sudah terjadi sebelum kita mengetahui dengan benar sumber penyakit yang melanda umat ini dan mengobatinya dengan tepat. Cara perbaikan kita yang asal-asalan merupakan kesalahan yang sangat besar.

Kita mengakui bahwa syariat Islam adalah suatu aturan Ilahi yang sempurna, sebagai sebab kesuksesan di dunia dan akhirat, serta jaminan pada hari Kiamat kelak. Oleh sebab itu, tidak ada alasan bagi kita untuk mendiagnosis sendiri penyakit ini, lalu mulai mengobatinya dengan cara kita sendiri. Sangat penting bagi kita untuk berusaha mengetahui penyebab penyakit ini di dalam Al-Quran. Kemudian dengan berpusat pada petunjuk dan hidayat tersebut, kita akan mengetahui cara pengobatannya yang benar, sehingga penyakit tersebut dapat diobati.

Apabila Al-Quran dijadikan sebagai tuntunan amal atau aturan yang sempurna bagi kita hingga hari Kiamat, maka tidak ada alasan bahwa Al-Quran akan membawa kita kepada kegagalan pada saat yang sangat genting ini. Benarlah janji Maharaja langit dan bumi bahwa Dia telah berjanji akan menjadikan orang-orang yang beriman sebagai khalifah di muka bumi.

"Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antaramu dan beramal shalih, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka khalifah di muka bumi." (Q.s. An-Nur: 55).

Dan memberi kabar gembira bahwa orang-orang mukmin akan selalu menang melawan orang-orang kafir dan tidak ada teman serta penolong bagi orang-orang kafir.

"Dan jika orang-orang kafir memerangi kalian, pasti mereka akan lari berpaling. Kemudian mereka tidak akan mendapatkan seorang pun teman atau penolong." (Q.s. Al-Fath : 22).

Bantuan dan pertolongan bagi orang-orang mukmin adalah tanggung jawab Allah, sehingga orang-orang mukminlah yang akan selalu menang.

"Dan adalah hak (kewajiban) Kami menolong orang-orang mukmin. Dan janganlah kalian merasa rendah, dan jangan merasa sedih, padahal kalian yang akan unggul jika kalian orang-orang beriman." (Q.s. Ar-Rum: 47, Q.s. Ali Imran: 139).

"Dan kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang yang beriman." (Q.s. Al-Munafiqun : 8).

Setelah kita merenungkan ayat-ayat di atas, dapat kita ketahui bahwa kemuliaan, pangkat, keberanian, ketinggian, kemenangan, dan kebaikan kaum muslimin hanya terikat erat dengan sifat keimanan. Apabila telah tercipta hubungan yang kuat dengan Allah dan Rasul-Nya (sebagai maksud iman), maka semua janji di atas akan terwujud. Sebaliknya (semoga Allah melindungi), apabila terputus hubungan dengan Allah dan Rasul-Nya, atau melemah bahkan berkurang; maka kekurangan, kerugian, dan kehinaan yang akan didapat. Hal itu disebutkan dengan jelas dalam ayat berikut ini:

"Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan nasihat menasihati agar mentaati kebenaran dan nasihat menasihati agar menepati ketabahan." (Q.s. Al-'Ashr : 1-3).

Para pendahulu kita telah mencapai kemuliaan yang sempurna, tetapi kita berada dalam kehinaan dan keburukan. Maka dapat diketahui bahwa sifat keimanan mereka telah mencapai derajat yang sempurna, sedangkan kita jauh dari nikmat yang sangat besar itu, sebagaimana sabda Nabi saw.:

"Akan datang suatu zaman bahwa tidak akan tersisa Islam kecuali namanya saja dan tidak pula Al-Quran kecuali tulisannya saja." (Misykat).

Yang patut kita renungkan adalah jika kita benar-benar terhalang dari hakikat Islam yang hakiki sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya -- yang menjadi penyebab kejayaan dan kemenangan kita di dunia dan akhirat-- maka dengan cara apa lagi kita dapat memperoleh kembali nikmat-nikmat yang telah hilang itu? Apakah yang menyebabkan ruh Islam keluar sehingga kita hanya memiliki jasad Islam tanpa ruh? Apabila kita mengkaji kandungan Al-Quran mengenai keutamaan serta ketinggian umat Muhammad saw., maka dapat kita ketahui bahwa umat ini digelari sebagai umat yang terbaik karena memiliki kedudukan yang mulia dan tanggung jawab yang sangat besar.

Maksud diciptakannya dunia adalah untuk mengenal dan mentauhidkan Allah dari segala serikat selain Dia. Hal ini tidak mungkin tercapai jika manusia masih bergelimang dengan kemusyrikan dan dosa-dosa tanpa menggantinya dengan kebaikan. Untuk mencapai maksud tersebut, diutuslah ribuan Nabi, sehingga untuk menyempurnakan maksud tersebut diutuslah Nabi terakhir; Rasulullah saw. , sesuai dengan firman-Nya:

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku atasmu dan telah Aku relakan Islam menjadi agamamu." (Q.s. Al-Maidah : 3).

Sekarang, karena maksud telah sempurna dan setiap kebaikan serta kejahatan telah dijelaskan, dan suatu aturan amal yang sempurna telah diberikan, maka silsilah risalah dan kenabian yang pada mulanya diberikan kepada para Nabi dan Rasul, telah dibebankan kepada umat Muhammad saw. hingga hari Kiamat.

"Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, kalian menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan kalian beriman kepada Allah." (Q.s. Ali Imran: 110).

"Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, dan menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar; dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Q.s. Ali Imran: 104).

Dalam ayat pertama disebutkan bahwa umat terbaik diperuntukkan bagi mereka yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Sedangkan ayat berikutnya disertai pengkhususan bahwa hanya mereka yang menunaikan tugas dan tanggung jawab yang akan mendapatkan kebahagiaan dan kejayaan. Bahkan tidak hanya itu, dalam ayat yang lain disebutkan bahwa mereka yang tidak menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran wajib mendapatkan laknat dan adzab Allah swt..

"Telah dilaknat orang-orang kafir Bani Israil dengan lisan Dawud a.s. dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sungguh sangat buruklah apa yang selalu mereka perbuat." (Q.s. Al-Maidah : 78-79).

Ayat ini dijelaskan dengan keterangan hadits:

Dari Abdullah bin Mas'ud r.a., Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya keadaan umat sebelummu, apabila di antara mereka ada yang berbuat dosa (kemaksiatan), datanglah seseorang melarang seraya memperingatkan mereka dengan berkata, 'Wahai kamu, takutlah kepada Allah.' Pada hari-hari berikutnya, orang yang melarang itu pun bergaul, duduk, makan-makan dan minum bersamanya, seakan-akan ia tidak pernah melihatnya berbuat dosa pada hari sebelumnya. Ketika Allah menyaksikan pergaulan mereka, maka Allah menyatukan hati mereka. Kemudian Allah melaknat mereka atas lisan (nabi-Nya) yaitu Dawud dan Isa bin Maryam. Demikian itu karena mereka mentaati Allah dan sudah melampaui batas. Demi Dzat Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Kalian harus menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemaksiatan, memegang tangan orang jahil dan memaksanya ke arah kebenaran. (Kalau tidak), maka Allah akan menyatukan hatimu dengan hati mereka. Kemudian Allah melaknatmu sebagaimana Dia melaknat mereka (umat-umat sebelummu)." (Abu Dawud, Tirmidzi - At-Targhib).

Jarir bin Abdullah r.a. berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Tidaklah seseorang berada di suatu kaum, ia berbuat maksiat di tengah mereka, dan mereka mampu untuk mencegahnya, namun mereka tidak mencegahnya, melainkan Allah akan menimpakan kepada mereka siksa sebelum mereka mati." Yakni mereka akan ditimpa berbagai musibah di dunia. (Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al-Ashbahani - At-Thargib).

Diriwayatkan dari Anas r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Kalimat Laa ilaaha illallaah akan selalu memberi manfaat bagi siapa saja yang mengucapkannya dan akan menghindarkan mereka dari adzab dan bencana selama mereka tidak mengabaikan hak-haknya." Sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud mengabaikan hak-haknya?" Jawab beliau, "Kemaksiatan kepada Allah dilakukan secara terang-terangan, tetapi tidak dicegah dan diubah olehnya." (Al-Ashbahani - At-Tharghib).

Aisyah r.ha. meriwayatkan, "Pada suatu saat, Rasulullah saw. masuk ke rumahku, dan aku mengetahui dari raut wajah beliau bahwa sesuatu telah terjadi pada beliau. Beliau tidak berbicara kepada seorang pun. Setelah berwudhu, beliau masuk ke dalam masjid. Aku pun merapatkan (telinga) ke dinding kamarku agar dapat mendengar apa yang beliau sabdakan. Beliau duduk di atas mimbar. Setelah memuji Allah, beliau berkhutbah, 'Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah berfirman kepada kalian, 'Suruhlah manusia berbuat kebaikan dan cegahlah mereka dari kemungkaran, sebelum (datang masanya) di mana kalian berdoa, tetapi doa kalian tidak dikabulkan; kalian meminta kepada-Ku, tetapi Aku tidak akan memberimu, dan kalian memohon pertolongan dari-Ku, tetapi Aku tidak akan menolongmu.'" Beliau pun tidak menambah khutbahnya hingga beliau turun (dari mimbar)." (Ibnu Majah, Ibnu Hibban - At-Targhib).

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, "Rasulullah saw. bersabda, 'Jika umatku sudah mengagungkan dunia, maka akan tercabut darinya kehebatan Islam. Dan jika mereka sudah meninggalkan amar ma'ruf nahi mungkar, maka mereka akan terhalang dari keberkahan wahyu. Dan jika umatku sudah saling menghina, maka jatuhlah mereka dari pandangan Allah." (Hakim, Tirmidzi - Durrul Mantsur).

Jika hadits-hadits di atas direnungkan, maka dapat diketahui bahwa meninggalkan amar ma'ruf nahi mungkar akan menyebabkan laknat dan murka Allah swt.. Dan apabila umat Muhammad saw. meninggalkan tugas ini, maka mereka akan ditimpa banyak musibah, kesusahan, kehinaan, dan akan terjauh dari nushrah ghaibiyah dari Allah swt. dalam setiap masalah mereka. Penyebab dari semua ini karena kita tidak mengenal apa yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab kita sebagai umat Muhammad saw., dan sebagai akibat dari kelalaiannya dari tanggung jawab ini. Inilah penyebabnya, mengapa Rasulullah saw. mendudukkan amar ma'ruf nahi mungkar pada bagian iman yang istimewa dan diikrarkan kelazimannya. Sedangkan jika kita meninggalkannya, itu menunjukkan kelemahan iman serta kemalasan kita, sebagaimana disebutkan di dalam hadits Abu Said r.a. berikut ini:

Dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a., ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lidahnya. Jika tidak mampu, maka bencilah dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemah iman." (Muslim,Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa'i - At-Targhib).

Ringkasnya, jika membenci kemaksiatan adalah derajat yang terendah dan menunjukkan iman yang terlemah, demikian pula tingkat pertama adalah kesempurnaan dakwah sebagai kesempurnaan iman. Untuk lebih jelasnya disebutkan dalam sebuah hadits dari Ibnu Mas'ud r.a.:

"Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus sebelumku, melainkan ia memiliki pengikut dan para sahabat pilihan dari umatnya yang setia kepada sunahnya dan mengikuti perintahnya. Yaitu mereka menjaga syariat Ilahi sebagaimana keadaan dan bentuk yang diajarkan oleh Nabi mereka, dan tidak membiarkan ada perbedaan sedikit pun. Kemudian datanglah setelah mereka masa yang penuh fitnah dan kerusakan, sehingga muncullah satu generasi berikutnya yang membicarakan apa yang tidak mereka amalkan, beramal tetapi bukan yang diperintahkan. Barangsiapa bersungguh-sungguh (mencegah mereka) dengan tangannya, maka ia seorang mukmin, barangsiapa bersungguh-sungguh (mencegah mereka) dengan lidahnya, maka ia seorang mukmin, dan barangsiapa bersungguh-sungguh (mencegah) mereka dengan hatinya, maka ia juga seorang mukmin. Sedangkan setelah itu tidak ada lagi derajat iman walau hanya sebesar biji sawi." (Muslim).

Keutamaan dan pentingnya dakwah ini juga telah disebutkan oleh Imam Ghazali rah.a., ia berkata, "Tidak diragukan lagi bahwa amar ma'ruf nahi mungkar adalah inti yang paling agung dalam agama, sesuatu yang paling penting, yang demi tugas tersebut Allah mengutus seluruh Anbiya a.s.. Apabila penyebarannya dihentikan, ilmu dan amalnya ditinggalkan; tentu kenabian akan sia-sia, keagamaan akan melemah, sifat bermalas-malas akan menyebar, jalan-jalan kesesatan akan terbuka, kebodohan akan merajalela, kerusakan akan terjadi di dalam setiap pekerjaan, akan timbul perpecahan di antara manusia, perkampungan, dan negara, sehingga akan hancur dan binasa seluruh makhluk. Sedangkan mereka tidak menyadari kehancurannya kecuali pada hari Kiamat ketika dibawa dihadapan Allah swt.. Dan apa yang kita khawatirkan tampaknya akan benar-benar terjadi. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Tanda-tanda ilmu dan amalnya tiang ini telah terhapus. Keberkahan serta hakikatnya pun telah tiada. Sikap meremehkan dan menghina orang lain telah mengakar di dalam hati. Hubungan hati dengan Allah swt. telah terhapus. Dan manusia bebas mengikuti hawa nafsu dan syahwat sebagaimana hewan melata. Sulit didapati seorang mukmin yang benar demi agama Allah yang tidak terpengaruh dengan celaan orang-orang yang mencelanya. Dengan demikian, barangsiapa yang berusaha menghilangkan kehancuran ini dan berusaha menghidupkan sunnah Rasulullah saw., dan ia berdiri memikul beban ini, bangkit untuk mengembannya serta menyingsingkan lengan untuk menghidupkannya, maka di antara manusia, dialah pemilik kemuliaan dan orang pilihan."

Kata-kata Imam Ghazali rah.a. yang menerangkan pentingnya dan perluan kerja ini sebenarnya telah cukup sebagai peringatan untuk membangunkan dan menyadarkan kita.

Minggu, 28 November 2010

8 Pengertian Cinta Menurut Qur’an

Menurut hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai’an fa huwa `abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta sejati ada tiga : (1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, (2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan (3) lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri. Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Alloh SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Alloh SWT, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Alloh SWT daripada perintah yang lain.

Dalam Qur’an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:

1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.

2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.

3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.

4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.

5. Cinta ra’fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2).

6. Cinta shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)

7. Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi

8. Cinta kulfah..yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286).

==== SALAM SABAR ====

Tips Tampil Ceria, Awet Muda dan Disenangi Orang

Anda ingin tampil ceria, awet muda, dan disenangi orang? Caranya gampang dan tidak perlu mengeluarkan biaya, biasakan saja melanggengkan wudlu’ terutama saat bergegas tidur. Tapi biasakan juga setiap wudlu’ diiringi dengan do’a wasiat nabi sembari mengangkat kedua belah tangan :

“asyhadu an laa ilaaha illa allah, wahdahu laa syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluh, allahuma aj’alnii minat tawwabiena, wa ja’alnii minal muta thohhirien, wa ja’alni min ‘ibadakash sholihien, wash shobirien, wal muhsinien, wa ‘amilien, wal muhibbien, wal ahibbiena min kholqillahi ajma’ien. Wa shallallahu ‘alaa sayyida muhammadin wa ‘ala ‘alihi wa shohbihi ajma’ien. Wal hamdulillahi robbil ‘alamien, amien.

Kemudian tiup kedua belah tangan lalu usapkan pada muka sebanyak 3x. (har)

Seruan sukses dan semangat hidup

Orang sukses adalah orang yang melakukan apa yang tidak dilakukan dan tidak disukai oleh orang yang gagal.

Anda tidak akan sukses, jika anda tidak melakukan sesuatu melebihi dari yang seharusnya (ala-kadarnya).

Sangat banyak orang yang memilki ide cemerlang, tapi kandas hanya gara-gara tidak ada tindak-lanjut.

Manusia dapat berkembang, bahkan bisa hebat karena memiliki mimpi atau impian. Karena bisa jadi mimpi adalah pengugah semangat bagi manusia meraih sukses yang nyata.

Keceriaan adalah senjata pamungkas untuk memerangi kebosanan, rasa bersalah, iri hati, dan frustasi. Sementara kunci ceria adalah senyum. Maka hiasilah hari-harimu dengan senyum keceriaan.

Kalau anda menginginkan kemakmuran 1 tahun , tanamlah padi. Jika anda menginginkan kemakmuran 10 tahun, maka tanamlah pohon. Dan jika anda hendak memperoleh kemakmuran selama-lamanya, maka kembangkanlah manusia.

Obat Hati Yang Gersang

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Abu Hurairah ra. bercerita, seseorang melapor kepada Rasulullah saw, tentang kegersangan qalbu yang di alaminya. Nabi menegaskan, bila engkau mau menghidupkan qalbumu, beri makanlah orang orang miskin dan cintai anak yatim (H.R. Ahmad).

Saya mengutip hadist ini, ingat akan kegelisahan hidup seorang teman. Perasaan serba kurang, padahal ia telah berada dalam standart hidup cukup mampu. Memiliki rumah ukuran besar dan satu mobil. Lantas mengapa ia masih juga gelisah?

Saya menyarankan dia untuk menunaikan zakat, infak, sedekah, dan kepedulian lainnya yang di landasi tujuan membahagiakan fakir, miskin, dan yatim sebagai ekspresi dari jiwa syukur atas anugerah nikmat Allah. Syukur di sini adalah aktivitas yang lahir dari keyakinan, bahwa harta yang di milikinya, titipan Allah yang harus dipergunakan secara proporsional sesuai dengan yang di kehendaki-Nya.

Konon Nabi Ibrahim As. tidak bersedia makan kecuali jika ada beberapa tamu yang ikut serta makan bersama di mejanya. Suatu saat ketika terjadi tidak ada seorang tamu pun yang datang kerumahnya, padahal ia sudah merasa lapar. Ibrahim pun pergi keluar untuk mencari seseorang yang bersedia diajak makan bersamanya. Akhirnya di tepi hutan, ia bertemu dengan seorang yang telah berusia lanjut.

Ibrahim pun mengundangnya untuk makan. Di tengah perjalanan, Ibrahim as bertanya kepada lelaki tua itu mengenai agama yang di anutnya. Si lelaki tua itu menjawab, bahwa ia seorang yang tidak beragama (Atheist). Mendengar hal ini, Ibrahim menjadi marah dan membatalkan undangan makannya kepada si lelaki tua itu.

Namun tak lama setelah itu, Ibrahim as mendengar suara dari atas “ Wahai Ibrahim, kami bersabar atasnya selama tujuh puluh tahun meskipun ia tidak beriman (kepada kami), namun engkau tidak dapat bersabar atasnya, meskipun hanya tujuh menit saja?” Mendengar itu, Ibrahim as pun sadar, lalu ia segera menyusul lelaki tua itu untuk kembali kerumahnya untuk makan malam bersamanya.

Rasulullah saw bersabda, “Seseorang yang melewati malamnya dengan perut kenyang sedangkan tetangganya menderita lapar, berarti ia tidak pernah beriman kepadaku. Pada hari kiamat kelak, Allah tidak akan memandang penduduk suatu negri yang salah satu warganya kelaparan.”

Ketika seorang miskin mati kelaparan, itu terjadi bukan karena tuhan tidak memperhatikannya. Tetapi karena kita enggan memberikan kepada orang itu sesuatu yang dibutuhkannya. Lantaran ada bisik rasa selalu kekurangan dalam hati kita. Sehingga kita lebih takut rugi jika memberi. Padahal seperti wasiat Rasulullah SAW, memberi dan mencintai fakir miskin, obat mujarab untuk menjernihkan dan menenangkan hati dan jiwa manusia.

Itu sepenggal cerita teladan yang penting untuk kita simak dan perlu kita apresiasikan dalam keseharian. Supaya kita terbebas dari berbagai penykit yang muncul beragam dalam dekade ini. Dimana banyak penyakit yang timbul dalam kekinian, banyak disebabkan karena persoalan mintal yang tidak dilandasi rasa syukur, tetapi sebaliknya gengsi dan keserakahan berkecamuk dibenaknya. Na’udubillah tsumma Na’udubillah. Semoga kita dapat membebaskan diri dari penyakit hati dan ketidak pedulian. Dan semoga kita senantiasa diberikan kesehatan serta kebahagian oleh Allah. Cerita ini juga modah-modahan memberikan ilham mamfaat bagi kita semua, amien ya Mujibas Saailien.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Sepuluh Faktor Yang Dapat Mengkokohkan Cinta

1. Niat dengan Ikhlas.

Di awal setiap perbuatan harus kita tentukan niat ,harus kita getarkan hati dengan penuh keihklasan untuk melangkah semata karena Allah. Setiap perbuatan akan berbeda nilainya ,berbeda bobotnya, berbeda pahalanya, berdeda implikasinya walaupun secara fisik yang dilakukan sama. Perbedaan itu terletak pada niatnya. Kalau kita lihat setiap sholat apapun yang kita lakukan ternyata bacaannya sama,gerakannya sama bahkan jumlah rakaatnya sama,tapi semua itu bisa berbeda karena getaran hati kita di awal sholat kita. Dalam memperkokoh cinta , niat ini sangat penting,getaran hati kita sangat penting. Niat yang paling tinggi nilainya adalah nilai yang ikhlas karena Allah.

2. Nyatakan Cinta Kita

Nyatakan , beritahukan kepada orang yang dicintai bahwa kita mencintai karena Allah ta’ala. Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiallaahu anhu, bahwa ia mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ صَاحِبَهُ فَلْيَأْتِ فِيْ مَنْزِلِهِ فَلْيُخْبِرْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ فِي اللهِ تَعَالَى. (رواه ابن المبارك(

“Apabila ada seorang dari kalian mencintai temannya hendaklah dia datangi rumahnya dan mengkhabarinya bahwa ia mencintainya (seorang teman tadi) kerena Allah Ta’ala.” (HR.Ibnul Mubarok )

3. Saling memberi Hadiah
Rasulullah bersabda dalam riwayat Abu Hurairah Radhiallaahu anhu:

تَهَادَوْا تَحَابُّوْا. (رواه البخاري).

“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al-Bukhari)

4. Saling mengunjungi
Rasulullah bersabda dalam riwayat Abu Hurairah .

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ! زُرْ غِبًّا تَزْدَدْ حُبًّا. (رواه الطبراني والبيهقي).

“Wahai Abu Hurairah! berkunjunglah engkau dengan baik tidak terlalu sering dan terlalu jarang, niscaya akan bertambah sesuatu dengan kecintaan.” (HR.Thabrani dan Baihaqi)

5. Saling menyebarkan salam.

لاَ تَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوْا وَلاَ تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ، أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ. (رواه مسلم،).

“Tidaklah kalian masuk Surga sehingga kalian beriman, tidakkah kalian beriman sehingga kalian saling mencintai, Maukah kamu aku tunjukkan tentang sesuatu yang apabila kalian melakukan-nya akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim ).

6. Saling menasehati dengan kebenaran dan kesabaran

Dalam hubungan saling mencintai kita harus relakan hati kita untuk saling menasehati dengan landasan kebenaran ,perilaku sabar. Ini akan memperkokoh cinta,bahkan orang yang melakukan sikap seperti ini terkelompok sebagai orang yang tidak merugi. Hal ini Allah nyatakan dalam Al-quran surat Al’Ashr (masa ).

7. Saling tolong menolong dalam Kebaikan dan Taqwa

Dan bertolong tolonglah kamu dalam kebajikan dan taqwa ,jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…. ( Q.S. Surat Al-Maidah ayat 2 )

8. Meninggalkan dosa-dosa.
Dalam hal ini Rasulullah bersabda:

مَا تَوَادَّ اثْنَانِ فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَوْ فِي اْلإِسْلاَمِ فَيَفْرُقُ بَيْنَهُمَا إِلاَّ بِذَنْبٍ يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا. (رواه البخاري).

“Tidaklah dua orang yang saling mencintai karena Allah atau karena Islam kemudian berpisah kecuali salah satu dari ke duanya telah melakukan dosa.” (HR. Al-Bukhari )

9. Meninggalkan perbuatan ghibah

Ghibah itu adalah membicarakan sesuatu tentang saudaranya di saat tidak ada, dan jika saudaranya tersebut mendengarkan dia marah-marah atau tidak suka.

Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah sebagian kamu menggunjingkan (ghibah) sebagian yang lain,sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentunya kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat:12)

10. Saling Mendoakan

Jumat, 26 November 2010

Cinta Tidak Pernah Meminta Dan Ia Sentiasa Memberi

Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.

Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah namanya Cinta.

Ada 2 titis air mata mengalir di sebuah sungai. Satu titis air mata tu menyapa air mata yg satu lagi,” Saya air mata seorang gadis yang mencintai seorang lelaki tetapi telah kehilangannya. Siapa kamu pula?”. Jawab titis air mata kedua tu,” Saya air mata seorang lelaki yang menyesal membiarkan seorang gadis yang mencintai saya berlalu begitu sahaja.”

Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata: aku turut bahagia untukmu.

Jika kita mencintai seseorang, kita akan sentiasa mendoakannya walaupun dia tidak berada disisi kita.

Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.

Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kamu mahu berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga. Tapi apabila kamu Coba menutup matamu dari orang yang kamu cintai, cinta itu berubah menjadi titisan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.

Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.

Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia , lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya . Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.

Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas kurniaan itu.

Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat -Hamka

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.

Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.

Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahawa pada akhirnya menjadi tidak bererti dan kamu harus membiarkannya pergi.

Kamu tahu bahwa kamu sangat merindukan seseorang, ketika kamu memikirkannya hatimu hancur berkeping.
Dan hanya dengan mendengar kata “Hai” darinya, dapat menyatukan kembali kepingan hati tersebut.

Tuhan ciptakan 100 bahagian kasih sayang. 99 disimpan disisinya dan hanya 1 bahagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bahagian itulah, makhluk saling berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya kerana takut anaknya terpijak.

Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehinggalah kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna sesalan karena perginya tanpa berpatah lagi.

Jangan mencintai seseorang seperti bunga, kerana bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir selamanya.

Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta !

Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.

Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit,bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.~ Hamka

Kata-kata cinta yang lahir hanya sekadar di bibir dan bukannya di hati mampu melumatkan seluruh jiwa raga, manakala kata-kata cinta yang lahir dari hati yang ikhlas mampu untuk mengubati segala luka di hati orang yang mendengarnya.

Kamu tidak pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu,dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya

Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut ke mulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.

Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak. Bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka. Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merindu dan cemburu.

Bercinta memang mudah. Untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.

Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan.


===Salam Sabar =====

Kamis, 25 November 2010

Kisah Keluarga Burung

Alkisah di suatu negeri burung, tinggallah bermacam-macam keluarga burung. Mulai dari yang kecil hingga yang besar. Mulai dari yang bersuara lembut hingga yang bersuara menggelegar. Mereka tinggal di suatu pulau nun jauh di balik bukit pegunungan.

Sebenarnya selain jenis burung masih ada hewan lain yang hidup di sana. Namun sesuai namanya negeri burung, yang berkuasa dari kelompok burung. Semua jenis burung ganas, seperti, burung pemakan bangkai, burung Kondor, burung elang dan rajawali adalah para penjaga yang bertugas melindungi dan menjaga keselamatan penghuni negeri burung.

Burung-burung kecil bersuara merdu, bertugas sebagai penghibur. Kicau mereka selalu terdengar sepanjang hari, selaras dengan desau angin dan gesekan daun. Burung-burung berbulu warna warni, pemberi keindahan.

Mereka bertugas bekeliling negri melebarkan sayapnya, agar warna-warni bulunya terlihat semua penghuni. Keindahan warnanya menimbulkan kegembiraan. Dan rasa gembira bisa menular bagai virus, sehingga semua penghuni merasa senang.

Pada suatu ketika, seekor induk elang tengah mengerami telur-telurnya. Setiap pagi elang jantan datang membawa makanan untuk induk elang.

Akhirnya, di satu pagi musim dingin telur-telur mulai menetas. Ada 3 anak elang yang nampak kuat berdiri. Dua anak elang hanya mampu mengeluarkan kepalanya dari cangkang telur harus berakhir dalam paruh sang ayah. Dengan tangkas, elang jantan mengoyak cangkang telur lalu mematuk-matuk calon anak yang tak jadi. Perlahan-lahan sang induk memberikan potongan-potongan tubuh anaknya ke dalam paruh mungil anak-anak elang. Kejam…? Ini hanya masalah kepraktisan.

Untuk apa terbang dan mencari makan jauh-jauh jika ada daging bangkai di dalam sarang. Sebagai hewan, elang hanya mempunyai naluri dan akal tanpa nurani. Inilah yang membedakan manusia dan hewan.

Waktu berjalan terus, hari berganti hari. Anak-anak elang yang berbentuk jelek karena tak berbulu, kini mulai menampakkan keasliannya. Bulu-bulu halus mulai menutupi daging di tubuh masing-masing. Kaki kecil anak-anak elang sudah mampu berdiri tegak.

Walau kedua sayapnya belum tumbuh sempurna. Induk elang dan elang jantan, bergantian menjaga sarang. Memastikan tak ada ular yang mengincar anak-anak elang dan memastikan anak-anak elang tak jatuh dari sarang yang berada di ketinggian pohon. Suatu pagi, saat induk elang akan mencari makan dan bergantian dengan elang jantan menjaga sarang. Salah seekor anak elang bertanya: “Kapankah aku bisa terbang seperti ayah dan ibu?” Induk elang dan elang jantan tersenyum, bertukar pandang lalu elang jantan berkata: “Waktunya akan tiba, anakku. Jadi sebelum waktu itu tiba, makanlah yang banyak dan pastikan tubuhmu sehat serta kuat”. Usai sang elang jantan berkata, induk elang merentangkan sayapnya lalu mengepakkan kuat-kuat.

Hanya dalam hitungan yang cepat, induk elang tampak menjauhi sarang. Terlihat bagai sebilah papan berawarna coklat melayang di awan. Anak-anak elang, masuk di bawah sayap elang jantan. Mencari kehangatan kasih sang jantan.

Waktu berjalan terus, musim telah berganti dari musim dingin ke musim semi. Seluruh permukaan pulau mulai menampakan warna-warni dedaunan. Bahkan sinar mentari memberi sentuhan warna yang indah. Anak-anak elang pun sudah semakin besar dan sayapnya mulai ditumbuhi bulu-bulu kasar. Suatu ketika seeor anak elang berdiri di tepi sarang, ketika ada angin kencang, kakinya tak kuat mencengkram tepi sarang sehingga ia meluncur ke bawah. Induk elang langsung merentangkan sayang dan mendekati sang anak seraya berkata: “Rentangkan dan kepakan sayapmu kuat-kuat!”

Tapi rasa takut dan panik menguasai si anak elang karenanya ia tak mendengar apa yang dikatakan ibunya. Elang jantan menukik cepat dari jauh dan membiarkan sayapnya terentang tepat sebelum si anak mendarat di tanah. Sayap elang jantan menjadi alas pendaratan darurat si anak elang.

Si anak elang yang masih diliputi rasa panik dan takut tak mampu bergerak. Tubuhnya bergetar hebat. Induk elang, dengan kasih memeluk sang anak. Menyelipkan di bawah sayapnya dan memberikan kehangatan. Sesudah si anak tenang dan tak gemetar, induk elang dan elang jantan membawa si anak kembali ke sarang.

Peristiwa itu menimbulkan rasa trauma pada si anak elang. Jangankan berlatih terbang dengan merentangkan dan mengepakkan sayap. Berdiri di tepi sarang saja ia sangat takut. Kedua saudaranya sudah mulai terbang dalam jarak pendek. Hal pertama yang diajarkan induk dan elang dan elang jantan adalah berusaha agar tidak mendarat keras di dataran.

Lama berselang setelah melihat kedua saudaranya berlatih, si elang yang pernah jatuh bertanya pada ibunya: “Adakah jaminan aku tidak akan jatuh lagi?” “Selama aku dan ayahmu ada, kamilah jaminanmu!” jawab si induk elang dengan penuh kasih.”Tapi aku takut!’ ujar si anak. “Kami tahu, karenanya kami ta memaksa.” Jawab si induk elang lagi. “Lalu apa yang harus kulakukan agar aku beraai?” tanya si anak. “Untuk berani, kamu harus menghilangkan rasa takut!”. “Bagaimana caranya?” “Percayalah pada kami!” Ujar elang jantan yang tiba-tiba sudah berada di tepi sarang.

Si anak diam dan hanya memandang jauh ke tengah lautan. Tiba-tiba si anak elang bertanya lagi. “Menurut ibu dan ayah, apakah aku mampu terbang keseberang lautan?” Dengan tenang si elang jantan berkata: “Anakku kalau kau tak pernah merentangkan dan mengepakkan sayapmu, kami tidak pernah tahu, apakah kamu mampu atau tidak. Karena yang tahu hanya dirimu sendiri!”

Lalu si induk elang menambahkan: “Mulailah dari sekarang, karena langkah kecilmu akan menjadi awal perubahan hidupmu. Semua perubahan di mulai dari langkah awal, anakku!”

Si anak elang diam tertegun, memandang takjub pada induk elang dan elang jantan. Kini ia sadar, tak ada yang tahu kemampuan dirinya selain dirinya sendiri. Kedua orang tuanya hanya memberikan jaminan mereka ada dan selalu ada, jika si anak memerlukan.

Didorong rasa bahagia akan cinta kasih orang tuanya, si elang kecil berjanji akan berlatih dan mencoba. Ketika akhirnya ia menggantikan elang jantan menjadi pemimpin keselamatan para penghuni negeri burung, maka tahulah ia, bahwa kesuksesan yang diraihnya adalah di mulai saat tekad terbangun melangkah.

Sukses itu tak pernah ada kalau hanya sebatas tekad. Tapi tekad itu harus diwujudan dengan tindakan nyata walau di mulai dari langkah yang kecil. Mulailah rentangkan dan kepakkan sayap kemampuanmu, maka dunia ada digenggamanmu!

Kisah Burung Pipit

Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor Burung Pipit mulai merasakan tubuhnya kepanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak bersahabat.

Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara yang konon kabarnya, udaranya selalu dingin dan sejuk. Benar, pelan pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi.

Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju, makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju. Sampai ke tanah, salju
yang menempel di sayapnya justru bertambah tebal.

Si Burung pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat. Dia merintih menyesali nasibnya.
Mendengar suara rintihan, seekor Kerbau yang kebetulan lewat datang menghampirinya. Namun si Burung kecewa mengapa yang datang hanya seekor Kerbau, dia menghardik si Kerbau agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya. Si Kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat diatas burung tersebut. Si Burung Pipit semakin marah dan memaki maki si Kerbau. Lagi-lagi Si Kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi, dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Seketika itu si Burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa dia pasti akan mati tak bisa bernapas.

Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang membeku pada bulunya pelan pelan meleleh oleh hangatnya tahi kerbau, dia dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang
cerah. Si Burung Pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas puasnya-nya.

Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri sumber suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan kemudian menimang nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya bersih, Si
Burung bernyanyi dan menari kegirangan, dia mengira telah mendapatkan teman yang ramah dan baik hati.

Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap gulita bagi si Burung, dan tamatlah riwayat si Burung Pipit ditelan oleh si Kucing.

Dari kisah ini, banyak pesan moral yang dapat dipakai sebagai pelajaran:

1. Halaman tetangga yang nampak lebih hijau, belum tentu cocok buat kita.

2. Baik dan buruknya penampilan, jangan dipakai sebagai satu satunya ukuran.

3. Apa yang pada mulanya terasa pahit dan tidak enak, kadang kadang bisa berbalik membawa hikmah yang menyenangkan, dan demikian pula sebaliknya.

4. Ketika kita baru saja mendapatkan kenikmatan, jangan lupa dan jangan terburu nafsu, agar tidak kebablasan.

5. Waspadalah terhadap Orang yang memberikan janji yang berlebihan.

Antara Sabar Dan Mengeluh

Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawaf tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya. "Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu,tidak lain kerana itu pasti kerana tidak pernah risau dan bersedih hati." Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, "Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati kerana risau, dan seorang pun yang menyekutuinya aku dalam hal ini."

Abu Hassan bertanya, "Bagaimana hal yang merisaukanmu ?" Wanita itu menjawab, "Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besar berkata pada adiknya, "Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?" Jawab adiknya, "Baiklah kalau begitu ?" Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah memancut keluar dan lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melecur kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah berkahwin dan tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pengsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua."

Lalu Abul Hassan bertanya, "Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu ?" Wanita itu menjawab, "Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka." Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dan dugaan dari Allah. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,:" Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil keksaihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya."

Begitu juga mengeluh. Perbuatan ini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda,:" Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang." Dan sabdanya pula, " Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya bagi pakaian dari wap api neraka." (Riwayat oleh Imam Majah) Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.

=== Salam Sabar ===

Cerita Tentang 4 Lilin

Ada 4 lilin yang menyala, Sedikit demi sedikit habis meleleh.

Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka

Yang pertama berkata: “Aku adalah Damai.” “Namun manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja!” Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.

Yang kedua berkata: “Aku adalah Iman.” “Sayang aku tak berguna lagi.” “Manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.” Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.

Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara: “Aku adalah Cinta.” “Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.” “Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna.” “Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.” Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.

Tanpa terduga…

Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Ekh apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!”

Lalu ia mengangis tersedu-sedu.

Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:

Jangan takut, Janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya:

“Akulah HARAPAN.”

Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.

Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN yang ada dalam hati kita….dan masing-masing kita semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya!

HARAPAN untuk memperoleh maghfiroh (ampunan), HARAPAN untuk berbuat lebih baik, HARAPAN untuk mendapatkan yang baik......Jangan pernah PUTUS ASA karena HARAPAN akan selalu hadir......

Kisah Monyet dan Angin

Sahabat, ada ceritera seekor monyet yang sedang nangkring di pucuk pohon kelapa. Dia nggak sadar lagi diintip sama tiga angin gede.

Angin Topan, Tornado sama Bahorok. Tiga angin itu rupanya pada ngomongin, siapa yang bisa paling cepet jatuhin si monyet dari pohon kelapa.

Angin Topan bilang, dia cuma perlu waktu 45 detik.

Angin Tornado nggak mau kalah, 30 detik.

Angin Bahorok senyum ngeledek, 15 detik juga jatuh tuh monyet.

Akhirnya satu persatu ketiga angin itu maju. Angin Topan duluan, dia tiup sekenceng-kencengnya, Wuuusss…. Merasa ada angin gede datang, si monyet langsung megang batang pohon kelapa. Dia pegang sekuat-kuatmya. Beberapa menit lewat, nggak jatuh-jatuh tuh monyet. Angin Topan pun nyerah.

Giliran Angin Tornado. Wuuusss… Wuuusss… Dia tiup sekenceng-kencengnya. Ngga jatuh juga tuh monyet. Angin Tornado nyerah.

Terakhir, angin Bahorok. Lebih kenceng lagi dia tiup. Wuuuss… Wuuuss… Wuuuss… Si monyet malah makin kenceng pegangannya. Nggak jatuh-jatuh. Ketiga angin gede itu akhirnya ngakuin, si monyet memang jagoan. Tangguh. Daya tahannya luar biasa.

Ngga lama, datang angin Sepoi-Sepoi. Dia bilang mau ikutan jatuhin si monyet. Diketawain sama tiga angin itu. Yang gede aja nggak bisa, apalagi yang kecil. Nggak banyak omong, angin Sepoi-Sepoi langsung niup ubun-ubun si monyet. Psssss… Enak banget. Adem… Seger… Riyep-riyep matanya si monyet. Nggak lama ketiduran dia. Lepas pegangannya. Jatuh deh tuh si monyet.

Sahabat, Dari Kisah diatas hikmah yang bisa kita ambil adalah Boleh jadi ketika kita Diuji dengan kesusahan… Dicoba dengan penderitaan… Kita kuat bahkan lebih kuat dari sebelumnya...
Tapi jika kita diuji dengan kenikmatan... kesenangan, jangan sampai kita terlena.., Kita mesti tetap hati-hati...

UJIAN YANG PALING SUKA LUPAKAN ADALAH PADA SAAT KITA DIBERI BANYAK KENIKMATAN......

Pintu-Pintu Rejeki

Tentang pintu-pintu rejeki, Rasululloah pernah bersabda,

“Perhatikan olehmu sekalian, sesungguhnya di dunia ini perdagangan merupakan 9 (sembilan) dari 10 (sepuluh) pintu rejeki.”

Berbagai pintu rejeki telah Allah sediakan bagi hamba-Nya. Untuk meraihnya manusia mesti membuka dan memasuki pintu-pintu tersebut. Tanpa membukanya seseorang tak akan mampu meraih rejekinya.

Rejeki, betapapun banyak orang yang berharap bisa mendapatkannya. Berbagai cara dan upaya ditempuh, pergi pagi pulang petang membanting tulang memeras keringat. tidak puas dengan cara wajar ditempuhlah berbagai cara hingga menabrak rambu-rambu syariat dan akidah.

Rejeki sebenarnya tidak selalu diartikan sebagai harta kekayaan. Dalam Al-Quran banyak disebut kata rejeki dengan segala bentuknya, razaqa atau rizqun. Dalam arti harta kekayaan, sangat wajar jika kemudian manusia begitu mendambakan rejeki yang banyak. Sifat manusia sebagaimana disebutkan oleh Allah adalah mencintai harta selain menyukai wanita dan anak-anak.

“Dan jika shalat telah dilaksanakannya, maka bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia dari Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya, moga-moga kalian beruntung” -Al Jum’ah:10-

Allah ‘Azza wa Jalla juga memberi peringatan kepada orang-orang yang hanya disibukkan dengan urusan dunia sementara lalai dari tuntutan ibadah. betapa sibuknya manusia dengan dunia, dia hanya mengambil yang telah ditetapkan oleh Allah baginya.

9 dari 10 pintu rejeki ada pada berdagang, maka jadilah pedagang yang baik dan jujur karena Allah sudah menjanjikan rejeki yang luas bagi para pedagang.

Salam Ikhlas !
-----------------------
HIKMAH:
1. Menikah adalah salah satu cara membuka pintu rezeki,
Sabda Rasulullah, ”Irtamizu rizko binnikah”, Menikahlah maka kau akan menjadi kaya.

2. Tsauban ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda:
" Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa dan tidak dapat menambah umur kecuali kebaikan dan sesungguhnya seseorang menghalangi rezekinya sendiri dengan sebab dosa yang dia lakukan." (HR Hakim)

3, La in syakartum laaziidannakum, Wa la in kafartum inna ‘adzaa bii lasyadiid.
“Sesungguhnya jika bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat Ku, maka azab Ku sangat pedih.” (QS.Ibrahim:7)

7 Kebiasaan Untuk Memperkaya Diri

1. Kebiasaan mengucap syukur.
Ini adalah kebiasaan istimewa yang bisa mengubah hidup selalu menjadi lebih baik. Bahkan agama mendorong kita bersyukur tidak saja untuk hal-hal yang baik , tapi juga dalam kesussahan dan hari-hari yang buruk.. Ada rahasia besar dibalik ucapan syukur yang sudah terbukti sepanjang sejarah. Hellen Keller yang buta dan tuli sejak usia dua tahun , telah menjadi orang yang terkenal dan dikagumi diseluruh dunia. Salah satu ucapannya yang banyak memotivasi orang adalah “Aku bersyukur atas cacat-cacat ini aku menemukan diriku, pekerjaanku dan Tuhanku”. Memang sulit untuk bersyukur,namun kita bisa belajar secara bertahap. Mulailah mensyukuri kehidupan, mensyukuri berkat , kesehatan, keluarga, sahabat dsb. Lama kelamaan Anda bahkan bisa bersyukur atas kesusahan dan situasi yang buruk.

2. Kebiasaan berpikir positif.
Hidup kita dibentuk oleh apa yang paling sering kita pikirkan. Kalau selalu berpikiran positif, kita cenderung menjadi pribadi yang yang positif. Ciri-ciri dari pikiran yang positif selalu mengarah kepada kebenaran, kebaikan, kasih sayang, harapan dan suka cita. Sering-seringlah memantau apa yang sedang Anda pikirkan. Kalau Anda terbenam dalam pikiran negatif, kendalikanlah segera kearah yang positif. Jadikanlah berpikir positif sebagai kebiasaan dan lihatlah betapa banyak hal-hal positif sebagai kebiasaan dan lihatlah betapa banyak hal-hal positif yang akan Anda alami.

3. Kebiasaan berempati.
Kemampuan berhubungan dengan orang lain merupakan kelebihan yang dimiliki oleh banyak orang sukses. Dan salah satu unsur penting dalam berhubungan dengan orang lain adalah empati, kemampuan atau kepekaan untuk memandang dari sudut pandang orang lain.Orang yang empati bahkan bisa merasakan perasaan orang lain . Orang yang empati bahkan bisa merasakan perasaan orang lain, mengerti keinginannya dan menangkap motif dibalik sikap orang lain. Ini berlawanan sekali dengan sikap egois , yang justru menuntut diperhatikan dan dimengerti orang lain. Meskipun tidak semua orang mudah berempati , namun kita bisa belajar dengan membiasakan diri melakukan tindakan-tindakan yang empatik. Misalnya, jadilah pendengar yang baik, belajarlah menempatkan diri pada posisi orang lain, belajarlah melakukan apa yang Anda ingin orang lain lakukankepada Anda, dsb.

4. Kebiasaan mendahulukan yang penting .
Pikirkanlah apa saja yang paling penting, dan dahulukanlah!. Jangan biarkan hidup Anda terjebak dalam hal-hal yang tidak penting sementara hal-hal yang penting terabaikan. Mulailah memilah-milah mana yang penting dan mana yg tidak, kebiasaan mendahulukan yang penting akan membuat hidup Anda efektif dan produktif dan meningkatkan citra diri Anda secara signifikan.

5. Kebiasaan bertindak.
Bila Anda sudah mempunyai pengetahuan , sudah mempunyai tujuan yang hendak dicapai dan sudah mempunyai kesadaran mengenai apa yang harus dilakukan , maka langkah selanjutnya adalah bertindak. Biasakan untuk mengahargai waktu, lawanlah rasa malas dengan bersikap aktif. Banyak orang yang gagal dalam hidup karena hanya mempunyai impian dan hanya mempunyai tujuan tapi tak mau melangkah.

6. Kebiasaan menabur benih.
Prinsip tabur benih ini berlaku dalam kehidupan. Pada waktunya Anda akan menuai yang Anda tabur. Bayangkanlah , betapa kayanya hidup Anda bila Anda selalu menebar benih ‘kebaikan’. Tapi sebaliknya, betapa miskinnya Anda bila rajin menabur keburukan.

7. Kebiasaan hidup jujur.
Tanpa kejujuran , kita tidak bisa menjadi pribadi yang utuh, bahkan bisa merusak harga diri dan masa depan Anda sendiri. Mulailah membiasakan diri bersikap jujur, tidak saja kepada diri sendir tapi juga terhadap orang lain. Mulailah mengatakan kebenaran, meskipun mengandung resiko. Bila Anda berbohong , kendalikanlah kebohongan Anda sedikit demi sediki. ***

Kisah Sukses Karena Sedekah

Ini kisah nyata yang dialami teman bekas guru SMA saya beberapa tahun yang lalu. Kisah ini berhubungan dengan sedekah yang dilakukan dengan keiklasan luar biasa. Bagi saya terdengar agak ganjil dan mustahil, tapi memang itulah kenyataannya. Sepasang suami istri yang menyedekahkan hampir semua hartanya di jalan Allah, kemudian hidup mereka dipasrahkan pada Allah.

Pertama kali mendengar cerita ini, saya kurang percaya, tetapi melihat siapa yang menceritakan saya sangat mempercayai kebenaran cerita ini. Sayang sekali sewaktu saya dan bekas guru SMA saya akan mampir ke rumah pengusaha ini, sang pengusaha sedang keluar rumah.

Kisah ini sebenarnya diawali kegundahan sepasang suami istri akan kebahagiaan yang mereka dapatkan dari harta yang dimiliki. Mereka seakan tidak merasa bahagia walaupun hartanya berlimpah. Bagi mereka, yang terpenting adalah ketenangan hidup. Akhirnya suami istri ini mengambil keputusan yang tergolong nekat. Mereka memberikan hampir semua hartanya untuk mereka sedekahkan di jalan Allah. Hanya satu tujuan mereka; ingin hidup tenang dan tidak terbelenggu dengan nikmat sementara duniawi. Mobil dan beberapa harta berharga lain mereka jual dan mereka sedekahkan. Mereka tidak takut akan kelaparan, karena mereka yakin Allah pasti akan menolong dan memberikan jalan terbaik bagi mereka.

Allahu Akbar! Bukan kesengsaraan yang mereka dapatkan akibat membuang hampir semua harta mereka demi ingin memulai hidup sederhana itu, tetapi kekayaan suami istri ini malahan berlipat-lipat tak terhingga. Kini mereka mempunyai dua perusahaan besar, seakan-akan perusahaan yang dulu dijual untuk disedekahkan malahan diganti 2 perusahaan yang jauh lebih besar dan sangat terkenal oleh Allah. Kini mereka sangat bahagia dengan kekayaan yang mereka miliki. Lebih dahsyat lagi, sepasang suami istri ini ingin memulai lagi seperti yang mereka lakukan beberapa tahun yang lalu. Mereka akan menyedekahkan dua perusahaan itu, bukan imbalan Allah yang mereka harapkan, tapi perasaan sangat dekat dengan Allah dan merasa diperhatikan dan disayang Allah itulah yang tidak bisa digambarkan oleh mereka saat melakukan cara ini.

Sebenarnya langkah yang dilakukan oleh sepasang suami istri ini adalah langkah logis, cuma belum banyak orang yang berani melakukannya. Tentang sedekah Allah bahkan menjanjikan langsung akan melipat gandakan beberapa kali lipat jika manusia melakukannya dengan ikhlas hanya untuk Allah semata. Bahkan balasan atau pahala dari sedekah akan lebih berlipat-lipat lagi jika dilakukan untuk keperluan berjuang di jalan Allah. Semoga kisah di atas bisa membuka mata hati kita akan kekuatan sedekah. Sedekah seperti bernafas, kita harus mengeluarkan nafas kotor banyak untuk bisa menghirup udara bersih banyak pula. Jika mengeluarkan nafas kotor sedikit, akan sedikit pula udara bersih yang bisa kita hirup.

Sukses untuk anda…..

Perhiasan Dunia Terindah Adalah Wanita Sholehah

Sebuah berita gembira datang dari sebuah hadits Rosul bahwa Rosulullah Saw. Bersabda :

”Seluruh dunia ini adalah perhiasan dan perhiasan terbaik di dunia ini adalah wanita yang sholehah.” (HR. an-Nasa’I dan Ahmad)

Di dalam Islam, peranan seorang istri memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan berumah-tangga dan peranannya yang sangat dibutuhkan menuntutnya untuk memilih kualitas yang baik sehingga bisa menjadi seorang istri yang baik. Pemahamannya, perkataaannya dan kecenderungannya, semua ditujukan untuk mencapai keridho’an Allah Swt., Tuhan semesta Alam. Ketika seorang istri membahagiakan suaminya yang pada akhirnya, hal itu adalah untuk mendapatkan keridho’an dari Allah Swt. sehingga dia (seorang istri) berkeinginan untuk mengupayakannya.

Kualitas seorang istri seharusnya memenuhi sebagaimana yang disenangi oleh pencipta-Nya yang tersurat dalam surat Al-Ahzab. Seorang Wanita Muslimah adalah seorang wanita yang benar (dalam aqidah), sederhana, sabar, setia, menjaga kehormatannya tatkala suami tidak ada di rumah, mempertahankan keutuhan (rumah tangga) dalam waktu susah dan senang serta mengajak untuk senantiasa ada dalam pujian Allah Swt.

Ketika seorang Wanita Muslimah menikah (menjadi seorang istri) maka dia harus mengerti bahwa dia memiliki peranan yang khusus dan pertanggungjawaban dalam Islam kepada pencipta-Nya, Allah Swt. menjadikan wanita berbeda dengan pria sebagaimana yang disebutkan dalam ayat Al-Qur’an:

”Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian yang lain. (karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu.” (QS. An Nisaa’ , 4:32)

Kita dapat melihat dari ayat ini bahwa Allah Swt. membuat perbedaan yang jelas antara peranan laki-laki dan wanita dan tidak diperbolehkan bagi laki-laki atau wanita untuk menanyakan ketentuan peranan yang telah Allah berikan sebagaimana firman Allah:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS. Al Ahzab, 33:36)

Karenanya, seorang istri akan membenarkan Rasulullah dan akan membantu suaminya untuk menyesuaikan dengan prinsip-prinsip syari’ah (hukum Islam) dan memastikan suaminya untuk kembali melaksanakan kewajiban-kewajibannya, begitupun dengan kedudukan suami, dia juga harus memenuhi kewajiban terhadap istrinya.

Diantara hak-hak lainnya, seorang istri memiliki hak untuk Nafaqah (diberi nafkah) yang berupa makanan, pakaian dan tempat untuk berlindung yang didapatkan dari suaminya. Dia (suami) berkewajiban membelanjakan hartanya untuk itu walaupun jika istri memiliki harta sendiri untuk memenuhinya. Rasulullah Saw. Bersabda :

”Istrimu memiliki hak atas kamu bahwa kamu mencukupi mereka dengan makanan, pakaian dan tempat berlindung dengan cara yang baik.” (HR. Muslim)

Ini adalah penting untuk dicatat bahwa ketika seorang istri menunaikan kewajiban terhadap suaminya, dia (istri) telah melakukan kepatuhan terhadap pencipta-Nya, karenanya dia (istri yang telah menunaikan kewajibannya) mendapatkan pahala dari Tuhan-Nya. Rasulullah Saw. mencintai istri-istrinya karena kesholehan mereka.

Aisyah Ra. suatu kali meriwayatkan tentang kebaikan kualitas Zainab Ra., istri ketujuh dari Rosulullah Saw.,
”Zainab adalah seseorang yang kedudukannya hampir sama kedudukannya denganku dalam pandangan Rasulullah, dan aku belum pernah melihat seorang wanita yang lebih terdepan kesholehannya daripada Zainab Ra., lebih dalam kebaikannya, lebih dalam kebenarannya, lebih dalam pertalian darahnya, lebih dalam kedermawanannya dan pengorbanannya dalam hidup serta mempunyai hati yang lebih lembut, itulah yang menyebabkan ia lebih dekat kepada Allah”.

Seperti kebesaran Wanita-wanita Muslimah yang telah dicontohkan kepada kita, patut kiranya bagi kita untuk mencontohnya dengan cara mempelajari kesuciannya, kekuatan dari karakternya, kebaikan imannya dan kebijaksanaan mereka. Usaha untuk mencontoh Ummul Mukminin yang telah dijanjikan surga (oleh Allah) dapat menunjuki kita kepada karunia surga.

Abu Nu’aim meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda :

“Ketika seorang wanita menunaikan sholat 5 waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya dan mematuhi suaminya, maka dia akan masuk surga dengan beberapa pintu yang dia inginkan.” (HR. Al Bukhari, Al Muwatta’ dan Musnad Imam Ahmad)

Wahai Muslimah yang tulus, perhatikan bagaimana Nabi Saw. menjadikan sikap ta’at kepada suami sebagai dari bagian amal perbuatan yang dapat mewajibkan masuk surga, seperti shalat, puasa; karena itu bersungguh-sungguhlah dalam mematuhinya dan jauhilah sikap durhaka kepadanya, karena di dalam kedurhakan kepada suami terdapat murka Allah Swt.

Wallahu a’lam bish showab..

Orang Yang Kesasar

Apakah kita KESASAR ?
Merasa sudah sampai pada tujuan, padahal tidak sampai-sampai !

MERASA PUAS KARENA SUDAH KHATAM AL QURAN BERKALI-KALI
> Padahal tujuan Al Quran untuk PEDOMAN HIDUP bukan syair atau mantra

MERASA PUAS KARENA SUDAH BANYAK MELAKUKAN IBADAH-IBADAH RITUAL (SHALAT, PUASA, dll)
> Padahal itu adalah ibadah untuk dirinya sendiri dan manusia terbaik adalah manusia yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain

MERASA HEBAT KARENA MERASA SUDAH DEKAT DENGAN ALLAH
> Padahal ukuran kehebatan itu bukan dekatnya tapi ke-PATUH-annya

MERASA HEBAT KARENA MEMILIKI KESAKTIAN/KEMAMPUAN GAIB (BISA TAHU SEBELUM TERJADI,KEBAL , dll)
> Padahal ukuran kehebatan itu bukan kesaktiannya melainkan KE-TAAT-anya

MERASA BANGGA KARENA BERKALI-KALI NAIK HAJI ATAU UMROH
> Padahal bukan berapa kalinya,tapi sudahkah menjadi INSAN KAMIL /MABRUR?

MERASA PASTI MASUK SURGA KARENA SELALU BERBUAT BAIK PADA MANUSIA
> Padahal orang masuk surga bukan lantaran perbuatan baiknya melainkan perbuatan AMAL SHALEH-nya

MERASA BANGGA KARENA SUDAH LAMA IKUT PENGAJIAN DIMANA-MANA
> Padahal yang penting bukan lamanya melainkan adakah PERUBAHAN dalam SIKAP dan ke-TAQWA-annya

MERASA HEBAT KARENA SUDAH BERGURU AGAMA KEMANA-MANA
> Padahal orang yang hebat itu bukan lantaran gurunya banyak, tapi apakah sudah menjadikan dirinya lebih baik dari yang lain

MERASA BANGGA KARENA SUDAH MENCAPAI DOKTOR DALAM ILMU AGAMA
> Padahal seharusnya Doktor dalam PRAKTEK agama

MERASA PASTI MASUK SURGA KARENA TIDAK PERNAH MENINGGALKAN SHALAT
> Padahal shalat hanyalah salah satu perintah-NYA

MERASA SHALATNYA SUDAH BENAR, KARENA SELESAI SHALAT BADAN TERASA SEGAR
> Padahal shalat yang benar cirinya bukan badan segar melainkan TERBEBAS dari perbuatan KEJI dan MUNGKAR

Banyak orang yang KESASAR tapi tidak tahu kalau dirinya sebenarnya NYASAR,
Orang yang paling rugi adalah orang yang merasa BENAR padahal KELIRU !!

Astaghfirullah...
Pentingnya Titik kesadaran untuk MEMULAI KEGIATAN dari TUJUAN yang ingin kita raih...
Pentingnya tafakur agar arah shahadat, sholat, puasa, zakat, haji dan kegiatan lainnya mempunyai ARAH YANG BENAR sebagai langkah awal agar TUJUAN bisa tercapai...

Indahnya Hidayah Allah

Dalam Tafsir Munir karya Dr. Wahbah Az Zuhaily, hidayah ada lima macam. Adapun kelima hidayah tersebut adalah sebagai berikut :

1. Hidayah ilhami. Hidayah ini adalah fitrah yang Allah SWT berikan kepada semua makhluk ciptan-Nya. Dalam bahasa kita, hidayah ilhami ini adalah insting, yang merupakan tingkat inteligensi paling rendah.Contohnya, Allah SWT memberikan hidayah ilhami kepada lebah yang suka hinggap di bunga untuk mengambil saripatinya, atau seorang bayi yang lapar diberi hidayah ilhami oleh Allah SWT untuk menangis dan merengek-rengek pada ibunya agar diberi ASI.

2.Kedua, hidayah hawasi. Hidayah hawasi adalah hidayah yang membuat makhluk Allah SWT mampu merespon suatu peristiwa dengan respon yang sesuai. Contohnya adalah, ketika manusia mendapatkan kebahagiaan maka ia akan senang dan jika mendapatkan musibah maka ia akan sedih. Dalam istilah kita, hidayah hawasi ini adalah kemampuan inderawi.

3.Ketiga, hidayah aqli (akal). Hidayah akal adalah hidayah yang diberikan khusus pada manusia yang membuatnya bisa berfikir untuk menemukan ilmu dan sekaligus merespon peristiwa dalam kehidupannya dengan respon yang bermanfaat bagi dirinya. Hidayah akal akan bisa kita miliki manakala kita selalu mengambil pelajaran dari segala sesuatu, segala peristiwa, dan seluruh pengalaman hidup kita ataupun orang lain.

4.Hidayah dien (agama). Hidayah agama adalah sebuah panduan ilahiyah yang membuat manusia mampu membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang baik dan yang buruk. Hidayah agama ini merupakan standard operating procedure (SOP) untuk menjalani kehidupan. Tentunya yang membuatnya adalah yang Maha segala-galanya, yang menciptakan manusia itu sendiri, yaitu Allah SWT. Karena yang Allah SWT tentukan, pastilah itu yang terbaik.

5 Hidayah taufiq. Hidayah taufiq adalah adalah hidayah yang membuat manusia hanya akan menjadikan agama sebagai panduan hidup dalam menjalani kehidupannya. Hidayah taufiq ibarat benih yang Allah SWT semaikan di hati yang tidak hanya bersih dari segala hama penyakit, tetapi juga subur dengan tetesan robbani.

Hidayah Allah SWT memerlukan perjuangan untuk mendapatkannya. Semakin besar perjuangan dan kesungguhan kita, maka insya Allah kita akan semakin mudah mendapatkannya, karena semuanya tergantung kepada usaha kita. Hidayah Allah SWT ibarat sinar matahari yang menyinari seluruh alam ini, dan kita adalah penerima sinar tersebut. Jika kita membuka diri dengan hati yang bersih maka kita akan mudah untuk mendapatkan sinar hidayah Allah SWT. Tapi jika kita menutupi hati dan diri kita dengan kotoran dan hama penyakit hati maka kita akan sulit untuk mendapatkan sinar hidayah-Nya.

Wallahu a’lam.

Sahabat Rahimakumullah, mari ajak sahabat yang lainnya untuk bergabung dalam group ini..
Jazakumullah khairan :)

Jujur Itu Indah

Sejatinya seorang muslim adalah pengemban risalah dalam kehidupan, oleh karenanya hendak-lah bermuamalah dengan akhlaq yang mulia nan tinggi, dengannya niscaya jelaslah kemuliaan seorang muslim dari yang lainnya.

Di antara akhlaq mulia yang semestinya menghiasi seorang muslim, namun kerap ditinggalkan, padahal dengannyalah seseorang merasakan hakikat cinta, dengan nya pula terbangun persahabatan yang sejati nan diridhoi.

Akhlaq itu adalah jujur dalam berkata dan beramal, karenanya seorang muslim akan merasa tentram, dan menghantarkankan kepada kehidupan harmonis yang berakhir di jannatullah.

Namun begitulah manusia, terkadang amalnya tidak sejalan dengan fitrah yang salimah (lurus), pemandangan ironi pun kerap terjadi, ya!.. tanggal 01 April dunia mengenalnya dengan [April Fools Day] yang di Indonesia akrab dikenal dengan April Mop [hari penghalalan ber bohong] innalillahi wainna ilaihi rajiun! inilah pembatalan syari’at yang sejalan dengan fitrah, sungguh agama Islam yang hanif ini memerintahkan hambanya untuk jujur, dan meninggalkan bohong.

Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu bersama orang yang benar [jujur]” (QS. at-Taubah:119), dalam ayat yang lain, “Agar Allah memberikan balasan kepada yang jujur karena kejujurannya dan mengazab orang munafiq jika ia menghendakinya.” (QS. al-ahzab: 24)

Syaikh al-utsaimin rahimahullah berkata, “Itu semua menunjukkan bahwasanya kejujuran adalah perkara yang mulia dan akan mendapat balasan dari Allah, oleh karenanya wajiblah bagi kita untuk jujur, terbuka dan tidak menyembunyikan sesuatu karena basa-basi atau berdebat”

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hendaklah kalian berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran menghantarkan kepada kebaikan,dan sesungguhnya kebaikan menghantarkan kepada surga, dan apabila seseorang senantiasa berlaku jujur niscaya ia di tulis di sisi Allah Ta’ala sebagai seorang yang jujur, dan janganlah kalian berdusta karena sesungguhnya dusta menghantarkan kepada kejelekan, dan sesungguhnya kejelekan menghantarkan kepeda neraka, dan apabila seseorang senantiasa berlaku dusta niscaya ia di tulis di sisi Allah Ta’ala sebagai seorang pendusta.” (Muttafaqun ‘alaih)

Maka, dari pemaparan di atas jelaslah akan kewajiban berlaku jujur dalam berbagai segi kehidupan, baik dalam konteks sebagai hamba yang berhubungan dengan sang Khaliq, ataupun dalam konteks sebagaimana layaknya manusia dengan sesamanya, seperti jujur dalam memegang amanah kepemimpinan, dalam jual beli, berumah tangga,ber patner dalam bekerja, baik di instansi pemerintahan ataupun swasta, dll. Sehingga tertutuplah pintu kecurangan, penipuan, kecemburuan, prasangka buruk, bahkan KKN sekalipun.

Bahkan lebih dari itu, dalam canda dan tawapun kita dituntut untuk jujur, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Celakalah bagi orang yang berbicara kemudian berdusta agar manusia tertawa dengannya, maka celakalah kemudian celakalah.” (HR. Ahmad, dihasankan oleh al-Albani.), oleh karena itu kita harus berhati-hati.

Adapun buah dari kejujuran adalah, berikut ini;

Bahwasanya ia menghantarkan kepada kebaikan yang bertepi di surga Allah Ta’ala, mendapat pujian dari Rabb semesta alam, selamat dari sifat munafiq yang selalu berdusta apabila bicara, mendapatkan kepercayaan dari sesamanya, terbentuknya kehidupan yang tentram dan selamat yang tiada penyesalan, Oleh karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tinggalkanlah yang membuatmu ragu kepada yang tidak ragu. Sesungguhnya jujur itu ketenangan, dan bohong itu keragu-raguan” (HR. at-tirmizi)

Jujur dalam niat dan lisan akan menghantarkan seseorang ke derajat yang tinggi, yaitu derajat syuhada. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa meminta kepada Allah mati syahid dengan penuh kejujuran, niscaya Allah menghantarkannya ke derajat syuhada, walaupun dia mati di atas kasurnya.” (HR. Muslim). Dan faidah lainnya yang tak terhitung.

Berikut ini salah satu contoh yang nyata tentang buah dari kejujuran; kita dapati dalam kitab tarikh, bahwasanya suatu hari sebagaimana biasanya Umar -Amirul Mu’minin- berjalan di malam hari mengontrol keadaan rakyatnya, hingga sampailah dia di dekat suatu rumah, tanpa disengaja beliau mendengar percakapan antara seorang ibu -penjual susu- dengan anak gadisnya, “Tuangkanlah air ke dalam susu ini,” tukas ibu kepada anak gadisnya. Maka sang gadis pun menjawab dengan penuh tatakrama, “Wahai ibu! bukankah Amirul Mu’minin melarang kita dari perbuatan ini?” Sang ibu pun lantas berkilah, “Bukankah tidak ada seorang pun yang mengetahui perbuatan ini? Apalagi Amirul Mu’minin!” Sang gadis pun berusaha meyakinkan sang ibu, “Wahai ibu!, kalaulah seandainya Amirul Mu’minin tidak mengetahui, bukankah Rabbnya Amirul mukminin mengetahui.” Lantas sang ibu pun terdiam. Maka Umar kaget dan bahagia, lantas ia bergegas menuju rumahnya dan menawarkan anaknya untuk menikahi gadis tersebut. Maka dinikahilah anak tersebut oleh ‘Ashim bin umar dan terlahirlah dari pasangan ini seorang anak perempuan yang kelak dinikahi oleh Abdul Malik bin Marwan, dan terlahirlah dari pasangan ini seorang alim yang disebut-sebut sebagai khalifah yang kelima sebagai buah dari kejujuran, dialah Amirul Mu’minin Umar bin Abdul aziz, khalifah yang alim, bertaqwa, zuhud dan adil.

=== SALAM SABAR ===

Kebesaran Hati Seorang Ibu

Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan, Dan sempat dipublikasikan lewat media cetak dan electronic.

Ada seorang pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak yg cerdas, rajin dan cukup cool. Setidaknya itu pendapat cewe2 yang kenal dia. Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah di promosikan ke posisi manager. Gaji-nya pun lumayan.

Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor. Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman2 kantor senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan cewe2 jomblo. Bahkan putri owner perusahaan tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.

Dirumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. Rambutnya hanya tinggal sedikit dibagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini betul2 seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya kalau tidak ada keperluan penting. Wanita tua ini tidak lain adalah Ibu kandung A Be.

Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan pekerjaan rutin layaknya ibu rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur, cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada anak satu2-nya A be. Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda lain. Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya. Setiap kali ada teman atau kolega business yang bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. “Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kasihan.” jawab A be.

Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh sang Ibu. Tentu saja Ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya. Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A be mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali).

Hal ini membuat A be jadi BT (bad temper) dan uring-uringan dirumah. Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari Ibunya, A be melihat sebuah box kecil. Didalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be. Foto berukuran postcard itu tampak seorang wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah. Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun.

Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya. Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa di bendung. Dengan menggenggam foto dan koran usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini. Sang Ibu-pun ikut menangis, terharu dengan ketulusan hati anaknya. ” Yang sudah-sudah nak, Ibu sudah maafkan. Jangan di ungkit lagi”.

Setelah ibunya sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya belanja kesupermarket. Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap cuek bebek. Kemudian peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini kedalam media cetak dan elektronik.

Teman2 yang masih punya Ibu (Mama atau Mami) di rumah, biar bagaimanapun kondisinya, segera bersujud di hadapannya. Selagi masih ada waktu. Jangan sia-sia kan budi jasa ibu selama ini yang merawat dan membesarkan kita tanpa pamrih. kasih seorang ibu sungguh mulia. ***