Rabu, 25 Januari 2012

Meraih Cinta Allah dan Manusia !

Dari Abul Abbas -Sahl bin Sa'd as- Sa'idi - radhiallahu 'anhu berkata: " Seorang lelaki mendatangi Rasulullah saw. dan berkata, "Ya Rasulullah, tunjukilah aku suatu amalan, yang bila aku mengerjakannya, maka Allah dan manusia cinta kepadaku?" Rasul saw. bersabda: "Zuhudlah di dunia, niscaya Allah cinta kepadamu. Dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya mereka mencintaimu". (H.R. Ibnu Majah, Shahihul Jami', no. 935) C

Cinta Allah dan manusia, dua bentuk cinta pangkal ketenangan dan ketentraman hati. Tangga untuk mencapainya, kata Rasulullah SAW, hanya satu: zuhud. Sebagian kita bisa jadi alergi mendengar kata tersebut. Atau lebih mengesankannya sebagai utopia. Yang tergambar adalah bagaimana seseorang berpakaian lusuh, kusut, asyik tenggelam dalam aktivitas ibadah di masjid. Kesan-kesan ini makin diperkuat oleh arus pola hidup materialistik, menuhankan harta. Orientasi duniawi, tampaknya sudah berakar umbi dalam hati dan pikiran sebagian kita. Sayap Nyamuk Sementara, sikap dan pola hidup Rasulullah sepenuhnya mengacu pada sikap ini. Beliau menganggap, kehidupan dunia seperti seorang musafir yang berteduh di bawah sebuah pohon, lalu bakal melanjutkan perjalanan kembali (H.R. Turmudzi, Ibnu Majah, Ahmad, Hakim) Beliaupun melukiskan dunia ibarat tetesan air dari jari yang dicelupkan ke tengah lautan (H.R. Muslim, Turmudzi dan Ibnu Majah).

Dalam kesempatan lain, beliau mengatakan dunia ibarat sayap nyamuk (H.R. Turmudzi) Al-Qur'an surat al-Hadid ayat 20 mengungkapkan, "Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kamu serta berbanga- banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur..." (Lihat juga Q.S. Ali-Imran: 14-15 , 185 . Yunus: 24 . Az-Zukhruf: 35 . An-Najm : 29-30)

Zuhud, dalam tinjauan terminologis, merupakan lawan sikap senang dan ambisi pada dunia (Lisanul Arab, 3/196) . Banyak pendapat para ulama salaf tentang pengertian zuhud. Diantaranya, menurut Sofyan Tsauri, zuhud di dunia artinya tidak panjang angan-angan. Tapi bukan dengan memakan makanan keras atau memakai pakaian kasar. ( Madarijus Salikin, 284) . Hasan al- Bashri mendefinisikan zuhud di dunia bukan berarti mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta. Tapi, bagaimana seseorang merasa lebih yakin pada apa yang dimiliki Allah dari apa yang ada di tangannya. (Madarijus Salikin 285) Syaikh Ibnu Taimiyah menyebutkan zuhud adalah meninggalkan yang tak bermanfaat di akhirat. Bedanya dengan wara', meninggalkan apa yang dikhawatirkan berbahaya di akhirat. Menurut Ibnul Qayyim, pendapat inilah yang paling baik dan tepat. (Madarijus Salikin, 283)

Senjata Esensi zuhud berasal dari hati. Di dalam hati hendaknya hanya tertanam rasa cinta dan bersandar penuh kepada Allah SWT. "Ya Allah, jadikanlah dunia di tanganku dan jangan kau jadikan dunia di dalam hatiku", do'a Abu Bakar r.a. Karenanya, zuhud juga bukan berarti sikap apriori menolak dan menjauhi semua yang berbau dunia. Toh, Rasulullah saw. dan para sahabat, generasi zuhud, juga bekerja, berkeluarga, memiliki istri dan anak. Nabi Sulaiman a.s., bahkan disebut dalam Al-Qur'an memiliki kerajaan besar.

Indah sekali perkataan Sofyan Tsauri: " Harta di zaman kami adalah senjata kaum beriman". Atau ungkapan Abu Ishaq as-Sabi'i bahwa kaumnya dahulu memandang keluasan harta benda adalah penolong agama ( Mukhtashar Minhajul Qashidin, Imam Ahmad membagi zuhud menjadi tiga. Pertama, meninggalkan yang haram, ini zuhudnya orang awam (zuhdul ' awam).

Menurut Ibnul Qayyim sikap ini merupakan fardhu 'ain. Kedudukan, meninggalkan sikap berlebihan terhadap yang halal. Ini dinamakan zuhudnya orang-orang khusus (zuhdul khawas). Terakhir, meninggalkan semua yang menyibukkan diri dari Allah, disebut zuhudnya orang-orang 'arif (zuhdul 'arifin). Inilah yang disebutkan Rasulullah saw. dalam hadits di atas sebagai salah satu tangga mencapai kecintaan Allah ( mahabatullah). Agar Dicintai Manusia. Menarik cinta manusia, ada kaidahnya: tak boleh menggunakan unsur-unsur yang mengundang kemurkaan Allah swt. Bila kaidah itu dilanggar, yang terjadi justru sebaliknya. "... keadaannya akan diserahkan sepenuhnya kepada manusia oleh Allah ...." (H.R. Turmudzi, Shahihul Jami', No. 5886).

Agar dicintai manusia, lagi-lagi jawabannya zuhud. Artinya, tidak memendam ambisi, kehendak, terhadap apa yang dimiliki orang lain. Ambisi, iri, ingin memiliki apa yang ada pada orang lain, adalah bibit sikap buruk sangka, benci, permusuhan dan seterusnya. Maka, sekali lagi, Rasulullah telah memberi jawaban singkat dan tepat: Zuhud!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar