Rabu, 12 Oktober 2011

Pattimura, Mujahid Yang 'Dikristenkan'

Semua orang pasti mengenal pahlawan nasional maluku, Kapitan Pattimura. Tapi tidak banyak orang yang tahu bahwa dia adalah seorang muslim. Selama ini dalam buku-buku sejarah dia selalu disebut sebagai seorang kristen. Nama aslinya adalah Ahmad Lussy, namun sejarah menulisnya sebagai Thomas Mattulessy, yang identik dengan kristen.

Distorsi sejarah ini berlangsung sejak masa Orde Lama hingga Orde Baru dan belum di ubah hingga saat ini. Hebatnya, masyarakat lebih percaya kepada predikat kristen itu, karena Maluku sering di identikkan dengan Kristen.

Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy, lahir di Hualoy, Seram Selatan ( bukan saparua seperti dalam sejarah versi pemerintah), dia bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (kazim Allah/Asisten Allah) dalam bahasa Maluku disebut Kasimillah. Menurut sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara, Pattimura adalah seorang Muslim yang taat. Selain keturunan bangsawan, ia juga seorang Ulama. Data sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu semua pemimpin perang dikawasan Maluku adalah bangsawan atau Ulama atau keduanya.
Dia bangkit memimpin rakyat Maluku menghadapi ambisi penjajah yg membawa misi gold( emas/kekayaan), gospel (penyebaran injil), and glory (kebanggaan). Perlawanan rakyat Maluku dilakukan karena kekhawatiran dan kecemasan rakyat akan timbulnya kembali kekejaman pemerintah Belanda seperti yg pernah dilakukan pada masa pemerintahan VOC. Selain itu Belanda menjalankan praktik2 monopoli perdagangan dan pelayaran.
Alasan lainnya rakyat dibebani berbagai kewajiban berat, seperti kewajiban kerja, penyerahan ikan asin, dendeng dan kopi. Pada tahun 1817 perlawanan itu dikomandani oleh Kapitan Ahmad Lussy. Rakyat berhasil merebut Benteng Duurstede di Saparua, bahkan Residennya yang bernama Van den Bergh terbunuh. Perlawanan meluas ke Ambon, Seram dan tempat-tempat lainnya.
Berulangkali Belanda mengerahkan pasukan untuk menumpas perlawanan rakyat Maluku, tetapi berulangkali pula Belanda mendapat pukulan berat. Karena itu belanda meminta bantuan dari pasukan yang ada di Jakarta.
Keadaan jadi berbalik, Belanda semakin kuat dan perlawanan rakyat Maluku terdesak. Akhirnya Ahmad Lussy dan kawan-kawan tertangkap Belanda. Pada tanggal 16 Desember 1817 , Ahmad Lussy dan kawan-kawannya menjalani hukuman di tiang gantungan.

(Dari: MediaUmat).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar